Merawat Bumi Lewat Benih Organik Mandiri

Prof-Dr-Ir-Supriyadi-MP
FOTO DIRI : Prof Dr Ir Supriyadi MP, Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UNS. (suaraamerdekasolo.com/dok)

Oleh : Prof Dr Ir Supriyadi MP*


AKTIVITAS Earth Hours yang dilakukan setiap 30 Maret sejatinya mengajak kita menilik kembali kondisi planet yang kita huni bersama. Aksi mematikan listrik selama 60 meit itu merupakan upaya sederhana yang diharapkan berdampak besar pada kehidupan kita.
Earth Hours tak hanya soal mematikan lampu bersama. Namun, aksi itu bertujuan memberi waktu jeda untuk bumi yang kian tua. Merawat bumi juga harus diupayakan dari berbagai sektor.
Kemajuan dan penemuan baru di berbagai bidang memang membawa perbaikan kualitas hidup kita. Namun, tak pelak disertai pula dengan rangkaian dampak negatifnya.
Perubahan besar itu misalnya, dengan munculnya sistem pertanian modern atau sistem pertanian kimiawi yang tidak dapat berkelanjutan dalam jangka panjang. Sistem itu ditandani dengan adanya Revolusi Hijau sekitar era 70an.
Sistem ini berkembang pesat sejak ditemukannya varietas unggul yang berpotensi meningkatkan hasil. Namun, hal itu harus dengan biaya produksi yang tinggi pula. Seperti penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia sintetis dengan dosis tinggi. Kondisi ini yang mendorong konsumsi pupuk pestisida sintetis (1975 – 1987 ) terus meningkat.
Peningkatan penggunaan pupuk dan pestisida kimia selama 35 tahun terakhir rata-rata hampir lima kali lipat. Padahal pada jangka waktu yang sama produksi pertanian hanya terjadi kenaikan sekitar 40-50 % (Kompas 89). Hal ini menunjukkan penggunaan pupuk kimia semakin tidak efisien, karena tidak sebanding dengan kenaikan hasil panen.
Selain itu, penggunaan pupuk kimia setiap musim tanam harus ditambah volumenya. Jika dosis tak ditambah, maka tanaman tidak akan subur (pemanjaan tanah dan tanaman) yang merusak tanah (bantat).
Selain kerusakan lingkungan, sistem ini menimbulkan berbagai penyakit karena konsumsi makanan berkadar kimia tinggi. Tak itu saja, sejumlah benih unggul hasil budi daya lokal yang kita miliki pun kian langka.
Salah satu solusi yang bisa ditempuh melalui sistem pertanian organik, yaitu suatu sistem pertanian yang secara ekologis sehat, layak secara ekonomi, adil secara sosial dan manusiawi. Teknologi ini mengembalikan kesuburan tanah dan lingkungan biologi.
Lewat metode ini pula diharapkan petani makin berdaulat atas benih unggul lokal yang dimiliki, tidak selalu mengalami ketergantungan pada pemerintah atau perusahaan pertanian, kreatif dan inovatif.
Hingga kini permasalahan mendasar petani adalah soal ketersediaan benih, pupuk, dan lahan semakin kritis. Mereka juga harus dihadapkan pada realitas nilai jual produk hasil pertanian yang masih stagnan. Hal itu tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkannya.
Upaya kembali ke pertanian yang sehat dan menguntungkan ini mulai dirintis Paguyuban Petani Al-Barokah, Desa Ketapang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kelompok tani di desa ini masih aktif menjaga kearifan lokal dengan membumikan pertanian organik selama dua puluh tahun terakhir.


Penangkaran Benih Unggulan
Untuk mempertahankan ketersediaan benih bagi ratusan petani dalam paguyuban itu, maka dibentuk khusus kelompok penangkar benih. Upaya tersebut semakin dikembangkan lewat kemitraan dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Selama ini tercatat sudah 60an varietas benih lokal unggulan yang dikembangkan. Kegiatan penangkaran benih ini sekaligus menjadi unggulan produk beras organik dari Paguyuban Petani Al-Barokah. Sejak beberapa tahun terakhir petani Al-Barokah sudah mandiri benih padi lokal sesuai standarisasi organik. Mereka tak lagi tergantung dari luar kelompok atau pemerintah dan atau dari produsen benih padi lainnya.
Dari kemitraan tersebut, para petani dilatih membangun pasar, pengolahan, melakukan kontrol kualitas pada produk, uji pupuk, uji tanah dan air di lahan petani organik. LPPM UNS juga memfasilitasi pengelolaan lahan benih, sarana prasarana (sapras) lumbung benih, pelatihan-pelatihan, pendistribusian dan pemasaran.
Penangkaran benih yang awalnya hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan 474 petani organik dari total 583 anggota paguyuban. Mereka menggarap lahan seluas 152,69 hektare yang sudah disertifikasi Lembaga Sertifikasi Organik (LSO). Dalam satu kali masa tanam, petani Al-Barokah membutuhkan 11-13 ton benih. Sementara benih hasil penangkaran mencapai 18-21 ton tiap panen.
Selain dipersiapkan untuk masa tanam berikutnya, kelebihan stok benih itu juga dipasarkan untuk memenuhi permintaan petani di luar daerah. Seperti dari Provinsi Lampung sebanyak 1,46 ton, Kabupaten Blora sejumlah 0,94 ton.
Permintaan juga datang dari Kabupaten Jepara sebesar 0,61 ton dan Kabupaten Kendal sebanyak 0,73 ton. Selain itu, sejumlah kecamatan dan gabungan kelompok tani dalam dengan hitungan puluhan kilogram. Trend ini juga seiring dengan perubahan pola hidup sehat yang makin digemari masyarakat sebagai konsumennya.
Pemasaran yang kian meluas itu juga menjadi tambahan pendapatan bagi petani dan organisasinya. Gerakan Al-Barokah dalam membumikan pertanian organik ini mampu memotivasi tumbuhnya petani yang berdaulat akan benih, pupuk, lahan yang sehat dan harga yang layak.
Dengan memperbaiki kualitas tanah, mengelola pertanian yang selaras dengan alam, maka kelestarian pangan dan kehidupan di bumi pun terjaga. Petani, sebagai ujung tombak pun tak melulu menjadi korban dari sistem sosial yang semakin menindas dan alam yang sudah tidak bersahabat.

*Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UNS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here