Antusiasme Ingin Jadi Abdidalem Pakasa Berdatangan dengan Rela dan Ikhlas

0
104
abdidalem-pakasa1
BEGITU hendak memasuki tempat upacara, GKR Ayu Koes Indriyah, GKR galuh Kencono, GKR Wandansari Koes Moertijah dan GKR Retno Dumliah disuguhi tarian Jathilan sebagai ucapan selamat datang di tempat upacara wisuda abdidalem Pakasa dan Pengurus Pakasa di kediaman KRA Gendut Reksodiningrat Adinagoro, Siman, Ponorogo, Minggu siang (30/6) (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Tari Bedaya Ketawang Harus Mencari ”Tebasan”?

MAKIN tambah hari, berganti tahun dan waktu yang terus berjalan sejak tragedi 15 April 2017, ada gerak perkembangan di Keraton Surakarta yang mulai kelihatan kontras atau menuju arah berkebalikan. Yang berada di dalam (keraton) makin lama makin menunjukkan grafik stagnan pada posisi terendah, kalau tidak boleh dikatakan cenderung terus menurun, sementara yang berada di luar (keraton) karena diusir, makin menunjukkan kualitasnya dalam banyak hal misalnya semangat untuk terus menyebarkan ”virus” cinta budaya (Jawa), cinta kebhinekaan, cinta ranah air (keutuhan NKRI) dan cinta nasionalisme di alam kemerdekaan.

Sebagai contoh yang ilustratif, apa yang berjalan di dalam keraton, kurang-lebih sebatas formalitas kalau tidak boleh dikatakan ”asal ada”, yang bisa dilihat jelas saat berlangsung upacara-upacara adat, baik ketika keluar melintas di ruang publik seperti proses Garebeg Mulud misalnya, atau bahkan ketika berlangsung ritual tingalan jumenengan yang sangat terbatas di Pendapa Sasana Sewaka sekalipun.

Sejak kali pertama digelar tanpa dukungan kalangan kerabat yang tergabung dalam Lembaga Dewan Adat (LDA), 22 April 2017 itu, jalannya upacara terutama sajian tari Bedaya Ketawang sangat jauh dari kesan ”memuliakan” peninggalan leluhur mereka sendiri yang mereka yakini merupakan simbol eksistensi Mataram ing Surakarta Hadiningrat atau simbol dinasti. Bahkan, kegiatan administrasi perkantoran yang berjalan di dalam mulai efektif sejak Menko Polhukam Wiranto ”mengesahkan” bebadan (kabinet) baru, April 2019 lalu, juga hanya berjalan secara formalitas tetapi hanya tiap hari Kamis.

Grafik perjalanan situasi dan kondisi yang menghasilkan kinerja di dalam yang trend kualitasnya terus menurun, tentu saja terungkap dari orang-orang penting macam calon putra mahkota KGPH Mangkubumi (34) yang masih leluasa tiap hari berkeliling di semua unit kerja bebadan, meski tidak diberi tugas/tanggungjawab apapun di bebadan baru yang dibentuk ayahandanya, Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII. Kemudian apa yang disaksikan abdidalem Kebon Darat atau bagian kebersihan seperti Trisna Suharjo Triyono (65) atau Mas Lurah (ML) Trisno Prasetyo yang tiap hari bertugas di dalam, tak terkecuali ungkapan GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) dan peneliti dari Chikushi Jogakuen University dari Fukuoka (Jepang) Prof Tamura Fumiko (62), sekalipun hanya bisa memantau dari luar.

”La wong sajian Bedaya Ketawang kok diperoleh dengan cara ‘tebasan’. La wong simbol kebanggan dinasti kok kok disuguhkan dengan cara tebasan (membeli-Red). Kalau mereka sendiri tidak menghormati, bagaimana dengan masyarakat di luar?,” ujar Gusti Moeng selaku mantan penari Bedaya Ketawang penanggungjawab Sanggar Pawiyatan Beksa dengan kesal di depan Prof Tamura Fumiko, saat ditemui Suaramerdekasolo.com, beberapa waktu lalu.

Pemandangan di dalam keraton yang dikelola dengan bantuan Pemprov 2019 senilai Rp 1,5 M dan uang sewa Alun-alun Lor Rp 2,5 M tetapi kualitasnya sangat sulit dipertanggungjawabkan, sungguh njomplang (kontras) ketika dibandingkan dengan berbagai aktivitas di luar keraton yang diinisiasi kalangan kerabat yang tergabung dalam LDA. Selain terlibat aktif dalam aktivitas2-aktivitas yang digelar para pengelola sejumlah petilasan atau situs yang berkait dengan sejarah Keraton Surakarta, LDA yang dipimpin Gusti Moeng juga bersafari ke berbagai daerah untuk mengakomodasi keinginan warga yang ingin suwita di keraton melalui ke Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta atau Pakasa dan organisasi perempuan Putri Narpa Wandawa yang pernah didirikan Sinuhun PB X tahun 1931.

Halaman: First |1 | 2 | 3 | Selanjutnya → | Last

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here