Antusiasme Ingin Jadi Abdidalem Pakasa Berdatangan dengan Rela dan Ikhlas

0
133
abdidalem-pakasa1
BEGITU hendak memasuki tempat upacara, GKR Ayu Koes Indriyah, GKR galuh Kencono, GKR Wandansari Koes Moertijah dan GKR Retno Dumliah disuguhi tarian Jathilan sebagai ucapan selamat datang di tempat upacara wisuda abdidalem Pakasa dan Pengurus Pakasa di kediaman KRA Gendut Reksodiningrat Adinagoro, Siman, Ponorogo, Minggu siang (30/6) (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Tari Bedaya Ketawang Harus Mencari ”Tebasan”?

MAKIN tambah hari, berganti tahun dan waktu yang terus berjalan sejak tragedi 15 April 2017, ada gerak perkembangan di Keraton Surakarta yang mulai kelihatan kontras atau menuju arah berkebalikan. Yang berada di dalam (keraton) makin lama makin menunjukkan grafik stagnan pada posisi terendah, kalau tidak boleh dikatakan cenderung terus menurun, sementara yang berada di luar (keraton) karena diusir, makin menunjukkan kualitasnya dalam banyak hal misalnya semangat untuk terus menyebarkan ”virus” cinta budaya (Jawa), cinta kebhinekaan, cinta ranah air (keutuhan NKRI) dan cinta nasionalisme di alam kemerdekaan.

Sebagai contoh yang ilustratif, apa yang berjalan di dalam keraton, kurang-lebih sebatas formalitas kalau tidak boleh dikatakan ”asal ada”, yang bisa dilihat jelas saat berlangsung upacara-upacara adat, baik ketika keluar melintas di ruang publik seperti proses Garebeg Mulud misalnya, atau bahkan ketika berlangsung ritual tingalan jumenengan yang sangat terbatas di Pendapa Sasana Sewaka sekalipun.

Sejak kali pertama digelar tanpa dukungan kalangan kerabat yang tergabung dalam Lembaga Dewan Adat (LDA), 22 April 2017 itu, jalannya upacara terutama sajian tari Bedaya Ketawang sangat jauh dari kesan ”memuliakan” peninggalan leluhur mereka sendiri yang mereka yakini merupakan simbol eksistensi Mataram ing Surakarta Hadiningrat atau simbol dinasti. Bahkan, kegiatan administrasi perkantoran yang berjalan di dalam mulai efektif sejak Menko Polhukam Wiranto ”mengesahkan” bebadan (kabinet) baru, April 2019 lalu, juga hanya berjalan secara formalitas tetapi hanya tiap hari Kamis.

Grafik perjalanan situasi dan kondisi yang menghasilkan kinerja di dalam yang trend kualitasnya terus menurun, tentu saja terungkap dari orang-orang penting macam calon putra mahkota KGPH Mangkubumi (34) yang masih leluasa tiap hari berkeliling di semua unit kerja bebadan, meski tidak diberi tugas/tanggungjawab apapun di bebadan baru yang dibentuk ayahandanya, Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII. Kemudian apa yang disaksikan abdidalem Kebon Darat atau bagian kebersihan seperti Trisna Suharjo Triyono (65) atau Mas Lurah (ML) Trisno Prasetyo yang tiap hari bertugas di dalam, tak terkecuali ungkapan GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) dan peneliti dari Chikushi Jogakuen University dari Fukuoka (Jepang) Prof Tamura Fumiko (62), sekalipun hanya bisa memantau dari luar.

”La wong sajian Bedaya Ketawang kok diperoleh dengan cara ‘tebasan’. La wong simbol kebanggan dinasti kok kok disuguhkan dengan cara tebasan (membeli-Red). Kalau mereka sendiri tidak menghormati, bagaimana dengan masyarakat di luar?,” ujar Gusti Moeng selaku mantan penari Bedaya Ketawang penanggungjawab Sanggar Pawiyatan Beksa dengan kesal di depan Prof Tamura Fumiko, saat ditemui Suaramerdekasolo.com, beberapa waktu lalu.

Pemandangan di dalam keraton yang dikelola dengan bantuan Pemprov 2019 senilai Rp 1,5 M dan uang sewa Alun-alun Lor Rp 2,5 M tetapi kualitasnya sangat sulit dipertanggungjawabkan, sungguh njomplang (kontras) ketika dibandingkan dengan berbagai aktivitas di luar keraton yang diinisiasi kalangan kerabat yang tergabung dalam LDA. Selain terlibat aktif dalam aktivitas2-aktivitas yang digelar para pengelola sejumlah petilasan atau situs yang berkait dengan sejarah Keraton Surakarta, LDA yang dipimpin Gusti Moeng juga bersafari ke berbagai daerah untuk mengakomodasi keinginan warga yang ingin suwita di keraton melalui ke Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta atau Pakasa dan organisasi perempuan Putri Narpa Wandawa yang pernah didirikan Sinuhun PB X tahun 1931.

Keluar biaya sendiri

Melihat dinamika masyarakat yang merasa punya tanggungjawab melestarikan budaya Jawa untuk tegaknya eksistensi Keraton Surakarta sebagai sumbernya, dari hari ke hari menunjukkan trend antusiasme yang makin mennggembirakan. Mereka tidak minta dibayar, tetapi justru suka rela dan ikhlas mengorbankan materi, tenaga dan waktunya untuk datang mengikuti upacara-upacara yang dipusatkan di suatu tempat, misalnya yang terjadi di Kabupaten Trenggalek (16/6) dan Kabupaten Ponorogo (Jatim), Minggu (30/6) lalu.

Betapa tidak,KRT Suryono Putra Adiningrat dan tujuh orang organ pengurus Pakasa Cabang Kediri (Jatim), bersama keluarga masing-masing rela mengeluarkan biaya untuk datang pada penetapan pengurus baru Pakasa Cabang Kediri, yang dilangsungkan rumah Ketua Pakasa Cabang Trenggalek di Kelurahan Nologaten, Kecamatan Siman. Tak hanya itu, 60-an warga dari berbagai kecamatan di Trenggalek, berbondong-bondong bersama keluarganya untuk datang di upacara yang digelar di kediaman ketuanya itu, untuk menyambut rombongan dari Keraton Surakarta yang kemudian mewisudanya sebagai abdidalem anggota baru di Pakasa Cabang Trenggalek.

”Peristiwa-peristiwa seperti ini sangat membanggakan bagi kami khususnya. Di tengah suasana bangsa terbelah menjadi akibat Pemilu/Pilpres yang baru saja lewat, dari hari ke hari, malah berdatangan antusiasme warga yang ingin bergabung ke Pakasa dan Putri Narpa Wandawa. Ini adalah bukti bahwa kesadaran menjadi bagian dari entitas budaya (Jawa), mampu menjadi perekat bangsa dan kebhinekaan kita yang mulai retak. Apa tidak mengharukan kalau masyarakat yang jauh di Provinsi Jatim, malah ingin membangkitkan lagi semangat dan silaturahmi kebangsaan kita?,” tunjuk KPH Edy selaku Pangarsa Punjer (Ketua Pusat) Pakasa Wirabhumi sehabis melantik pengurus Pakasa Cabang Kediri di kediaman Pengurus Pakasa Cabang Trenggalek itu.

Menyimak peristiwa-peristiwa seperti ini yang terus menggejala dan makin banyak terjadi di wilayah sangat luas di Provinsi Jateng dan Jatim, secara tidak disadari akan sangat meringankan pekerjaan pemerintah. Pemerintah tidak perlu mengeluarkan uang bermilyar-milyar seperti yang diberikan Pemprov Jateng dan Pemkot Surakarta kepada sekelompok orang melalui Sinuhun PB XIII misalnya, karena Gusti Moeng yang bergerak bersama GKR Galuh Kencana Pengageng Keputren), GKR Retno Dumilah (Pengageng Pasiten), GKR Ayu Koes Indriyah (Humas), KPH Broto Adiningrat (Wakil Pengageng Kusuma Wandawa), KPH Kusumo Sangkoyo (Pengageng Kartipraja), KPH Edy Wirabhumi (Petua Pakasa Pusat), KRMH Joyo Adilogo (Wakil Pengageng Kartipura), KRMH Suryo Kusumo Wibowo (Wakil Pengageng Sasana Prabu) dan sejumlah jajaran bebadan lama, tidak meminta anggaran pemerintah tetapi rela dan ikhlas keluar uang sendiri untuk membiayai gerakan kebangkitan komponen bangsa yang cinta damai, cinta kebhinekaan, cinta budaya dan cinta keutuhan NKRI itu.

Bahkan seperti gayung bersambut, Ketua Pakasa Cabang Kediri KRT Suryono Putra Adiningrat menyatakan siap menerima kedatangan rombongan dari Keraton Surakarta yang dipimpin Gusti Moeng itu dalam waktu yang tidak lama, untuk peresmian pengurus-pengurus Pakasa dan Putri Narpa Wandawa di tingkat kecamatan se-Kota Kediri (Jatim). Seperti upacara yang digelar di kediaman dan dibiayai sendiri oleh Ketua Pakasa Cabang Ponorogo KRA Gendut Reksodiningrat Adinagoro itu, disertai dengan penyerahan piagam kepada sanggar-sanggar tari dan karawitan, serta foto bersama 60 warga baru Pakasa, pengurus Pakasa Kediri, pengurus Putri Narpa Wandawa Ponorogo yang hampir semuanya berdandan Warok Ponorogo seperti ikon Bumi Warok yang menjadi khas Kabupaten Ponorogo. (Won Poerwono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here