Mengatasi Kemarau, Petani Kepatihan Rintis Wisata Buah dan Sayuran

0
377
dampak-kemarau
MELIHAT SAYURAN : Beberapa warga dan pengunjung berkesempatan melihat dan memetik sendiri sayur dan buah-buahan di Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Rabu (3/7). (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com- Sejumlah petani Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri merintis wisata sayur dan buah-buahan. Para pengunjung atau pembeli dipersilahkan memetik sendiri sayur atau buah yang mereka inginkan.

Selain sebagai wahana rekreasi, budi daya hortikultura itu juga diterapkan untuk menyiasati kekurangan air saat kemarau tiba. “Saya sebenarnya menanam hortikultura saat kemarau ini untuk berbagi pengetahuan dengan petani dan masyarakat lainnya. Ternyata malah menarik perhatian yang sangat besar,” kata Dwi Sartono (39) pemrakarsa agrowisata tersebut.

Dwi menuturkan, ide membuat agrowisata muncul ketika musim kemarau tiba persawahan tidak bisa ditanami padi. Dia kemudian menanaminya dengan tanaman hortikultura, buah dan sayuran. “Saya lalu ketemu dengan kakak kelas di IPB (Institut Pertanian Bogor) yang memproduksi benih sayuran cap Panah Merah,” ujarnya.

Mereka kemudian ingin memperkenalkan tanaman sayur dan buah yang bisa dibudidayakan di musim kemarau. Mereka menanam berbagai jenis sayur dan buah pada lahan seluas 4.000 meter. Antara lain terong, labu madu, pare, mentimun, melon golden, melon hijau, semangka kuning, dan semangka merah. Airnya disuplai dari sumur pantek yang dibuat di lahan tersebut.

Setelah memasuki usia panen, pihaknya mempersilahkan warga atau pembeli untuk memetik sendiri dari pohonnya. Dengan cara itu, petani bisa mengatasi harga anjlok saat panen tiba. Pasalnya, mereka bertemu langsung dengan konsumen, tanpa harus melalui pengepul atau tengkulak.

Dia mencontohkan, para pembeli rela merogoh kocek untuk membeli semangka Rp 5.000-7.000 per kilogram. Padahal, beberapa petani lain terpaksa menjual semangka hanya seharga Rp 2.000 per kilogram kepada tengkulak. “Saya juga bisa menjual melon Rp 12.500 per kilogram karena langsung kepada konsumen. Konsumen tertarik karena bisa memetik langsung dari pohonnya dan mendapatkan pengetahuan baru,” imbuhnya.

Dia berangan-angan membuat agrowisata yang lebih tertata, dilengkapi dengan outlet untuk memajang produk-produk petani lainnya. “Saya ingin mengajak petani lain sebagai mitra, sehingga produksi selalu kontinyu dan bisa mencukupi permintaan,” katanya. (khalid yogi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here