Waduk Delingan Mengering , Petani Untung-untungan Garap Lahan Kosong

0
22
waduk-mengering
SPEKULASI : Petani menggarap lahan di area Waduk Tirtomarto Delingan yang mengering saat musim kemarau. Untuk mengairi lahan, mereka menyedot air dari sisa genangan air dengan mesin pompa air. (suaramerdekasolo.com/Irfan Salafudin)

KARANGANYAR,  suaramerdekasolo.com –  Volume air Waduk Tirtomarto Delingan, selalu menyusut saat musim kemarau. Bahkan penyusutannya drastis, hingga sebagian dasar waduk mengering. Air tinggal tersisa di cekungan terdalam dari waduk. 

Kondisi tersebut dimanfaatkan sejumlah orang, dengan menanam padi, palawija maupun sayuran, di area waduk yang mengering. Tanah diolah, agar bisa digunakan sebagai lahan pertanian. 
Untuk mengairi tanaman, petani menggunakan mesin pompa untuk menyedot air dari genangan yang tersisa di waduk. Dengan selang panjang, air dialirkan ke lahan yang digarap. 

Agus Widodo, warga Kampung Bodeyan, Kelurahan Delingan, Kecamatan Karanganyar adalah salah satu petani yang menggarap lahan waduk yang mengering. Sudah 10 tahun terakhir, setiap musim kemarau, dia memanfaatkan area waduk yang tak lagi tergenang air untuk bercocok tanam. 
“Biasanya kalau mulai kemarau, menunggu sampai air waduk surut. Kalau bagian tepi sudah mengering, bisa diolah untuk ditanami,” katanya. 

Tahun ini, dia menanam kacang panjang, ubi dan sayuran. Di lahan bagian lain, ada juga yang menanam padi. “Semua petani yang memanfaatkan lahan waduk, mengairi lahannya dengan sisa air waduk dan air dari aliran sungai, yang disedot dengan mesin pompa,” tuturnya. 

Menurutnya, bercocok tanam di lahan waduk bukannya tak berisiko. Sebab dalam kondisi cuaca tak menentu, hujan bisa turun setiap saat dan airnya menggenangi waduk. Jika itu terjadi, lahan pertanian yang digarap otomatis akan ikut terendam air. 

Pompa air

Agus mengaku, dalam 10 tahun bercocok tanam di lahan waduk, terhitung empat kali dia gagal panen. Tanamannya terendam, setelah dasar waduk digenangi air hujan dan air dari aliran Sungai Kumpul. “Ya sudah risiko. Tapi kalau bisa panen, ya senang. Tahun ini semoga tidak ada kendala. Ini tanaman baru dua pekan, masih dua bulan lebih sampai panen,” tuturnya.

Untuk menyuplai air, dia mengandalkan mesin pompa air berbahan bakar solar. Dalam sehari, Agus harus menyediakan 7 liter bahan bakar, agar mesin pompanya bisa menyedot air dan mengalirkannya ke lahan yang berjarak 20-an meter dari genangan air. 
“Kalau jarak lahannya semakin jauh dari genangan air, bahan bakar yang dibutuhkan semakin banyak,” imbuhnya. 

Suroso, petani lainnya, mengaku bercocok tanam di lahan waduk karena tidak memiliki lahan sendiri. “Daripada nganggur, mumpung lahan di waduk mengering, ya diolah agar bisa ditanami,” tutur pria yang menggarap lahan, di mana terdapat endapan tanah yang larut dari kebun tebu tak jauh dari waduk. 

Dia mengaku, menggarap lahan di area waduk bersifat untung-untungan. Sebab, jika cuaca berubah dan hujan turun lebih cepat dari perkiraan, bakal berisiko gagal panen karena lahan terendam air. 
“Tapi kalau bisa panen, ya lumayan. Hasilnya bisa dipakai untuk kebutuhan rumah tangga, sebagian lainnya dijual ke pasar. Kebanyakan yang nggarap lahan di sini tidak punya pekerjaan tetap,” imbuhnya. (Irfan Salafudin) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here