Hari Terakhir, Orang Tua Sport Jantung Gara-gara PPDB

Ppdb-karanganyar-2019
SEPI – Kantor Dinas Dikbud mulai sepi setelah PPDB ditutup.(suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Hari terakhir PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), orang tua dibuat sport jantung, karena mereka harus sebentar-sebentar melihat ranking di lembar yang diterima di sekolah-sekolah tertentu.

Agus, warga Jetis, Jaten harus terus memelototi ranking di komputer, sebab anaknya yang mendaftar di SMP Jaten dengan zona II masih harus tergeser oleh pendaftar baru yang baru datang pada hari keempat ini, sekaligus hari terakhir PPDB.

‘’Bayangkan, hari pertama dulu ranking anak saya 101 yang diterima dari 256 calon siswa baru SMP Jaten. Namun hari kedua sudah ranking 201 karena perankingan pendaftar sudah hampir semua selesai. Hari keempat ini rankingnya sudah turun jadi 207, hampir di limit terakhir yang diterima sekitar 230-an siswa yang masuk zona.’’

Dia agak kecewa karena ranking yang diterima lewat jalur prestasi ternyata di bawah nilai anaknya. Sampai saat ini dari 37 siswa yang mendaftar lewat jalur prstasi, paling rendah 210 dan paling tinggi 269. Sedangkan nilai anaknya sekitar 240-an.

Akhirnya Agus sempat bertanya bagaimana memindahkan anaknya dari zona 2 ke jalur prestasi. Karena nilai jalur prestasi masih jauh lebih aman untuk nilai anaknya yang 240-an. Akhirnya dia ke operator PPDB untuk memindahkan anaknya.

Lain lagi cerita Kiswadi yang juga mendaftarkan anaknya di SMP Jaten. Anaknya diterima dari zona 1 soalnya rumahnya ada di sekitar sekolah. Namun dia ingin memindahkan anaknya ke SMP 1 Karanganyar. Hanya saja karena dia datang sudah waktu tutup PPDB akhirnya meski dijanjikan akan diterima oleh SMP 1 Karanganyar, tetap tidak bisa masuk SMP Karanganyar. Waktu PPDB ditutup pukul 12.00.

Endang TH pengawas SMP Dinas Dikbud mengatakan, semua sekolah negeri kini tinggal menyeleaikan proses verifikasi data untuk memastikan siapa siswa yang diterima. Semuanya sudah menutup operator komputernya untuk pendaftaran.

‘’Hampir semua merata. Ada anak yang nilainya pas-pasan sekitar 150 SKHU-nya, namun karena masuk lewat jalur zona 1 tetap diterima masuk sekolah favorit sekalipun. Sedangkan yang pandai dengan SKHU 300-an mereka diterima lewat jalur zona 3 atau jalur prestasi di semua sekolah merata,’’ kata dia.

Dari pengamatan Suara Merdeka, ada orang tua yang nekat mencabut pendaftaran anaknya karena tidak sabar harus memelototi perankingan nilai agar memastikan anaknya diterima di sebuah sekolah. Dia mencabut dengan resik tidak bisa lagi masuk ke sistem PPDB sehingga harus memilih sekolah swasta yang akan membuka PPDB lanjutan.

Ada anak dari Boyolali yang akan mendaftar. Namun karena waktunya sudah di atas jam 12.00, akhirnya dia disuruh ke Dinas Dikbud jika masih bisa dibuka operatornya. Sebab operator komputer ada di Dikbud. Namun akhirnya meski SKHU-nya bagus dia tidak bisa lagi memanfaatkan kesempatan sekolah di Karanganyar.

Endang mengatakan, memang sistemnya dibuat demikian sehingga bisa meminimalisasi orang tua yang mencabut dan mendaftar lagi ke sistem PPDB. Sehingga resikonya dibuat sistem yang memungkinkan calon siswa pindah-pindah sekolah dari sekolah satu ke yang lain sepanjang cepat melapor ke operator dan operator tinggal memindahkan data calon siswa tersebut.

Kadis Dikbud Tarsa mengakui sosialisasi yang dirasa kurang menjadikan PPDB terasa kurag. Namun secara keseluruhan proses pendaftaran berjalan lancar dan tertib meski di sana sini ada protes karena kurangnya informasi. Namun dengan penjelasan yang bijak semua teratasi. (joko dh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here