Dampak Kemarau, Petani Wilayah Timur Andalkan Air Waduk Gajah Mungkur

0
13
petani-andalkan-air-waduk
LAHAN PADI: Lahan padi di sisi timur Kecamatan Karangdowo mulai terancam kekurangan air sebab air irigasi habis. (suaramerdekasolo.com/Achmad H)


KLATEN,suaramerdekasolo.comPetani di wilayah timur Kabupaten Klaten yang berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo mulai mengandaklkan pasokan air dari Waduk Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri. Pasalnya musim kemarau mulai berdampak pada habisnya air di saluran irigasi dan sungai.

Petani warga Desa Japanan, Kecamatan Cawas, Giman mengatakan sudah sepekan ini air menggantungkan dari pasokan Waduk Gajah Mungkur.

” Sebab sudah tidak ada air di saluran dan sungai,” katanya, Jumat (5/7).

Menurutnya musim kemarau yang sudah sebulan membuat sumber air utama pertanian yaitu Sungai Dengkeng terus surut dan habis. Lahan yang jauh dari sungai lebih cepat habisnya sebab tidak bisa menyedot menggunakan pompa. Sumur dalam tidak mungkin sebab di wilayahnya sangat dalam.

Satu-satunya andalan petani hanya menggantungkan dari air Waduk Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri yang dialirkan melalui Dam Colo sampai ke Klaten. Untuk mendapatkan air selama satu musim petani mengadakan iuran. Iuran tidak masalah sebab dimusyawarahkan di kelompok tani dan petani tinggal menerima pasokannya. Selain di desanya, beberapa desa lain juga mengandalkan pasokan air dari waduk.

Mulai dari Desa Posis, Soka, Ringin Putih, Tulas maupun Tumpukan di Kecamatan Karangdowo.

Adu Nasib

Meskipun setiap kemarau kesulitan air, lanjut Giman, petani di desanya tetap banyak yang mengadu nasib tanam padi. Sebab petani sangat berharap harga tinggi sehingga bisa menambal risiko saat musim hujan. Apalagi di musim hujan di wilayahnya rawan banjir sehingga kadang tidak panen atau panen tidak maksimal.

Satu-satunya harapan harga bagus hanya saat kemarau. Kepala Desa Soka, Kecamatan Karangdowo, Supardi mengatakan di desanya sudah tidak ada air di sungai atau saluran irigasi. Petani masih ada yang bisa menyedot air sisa di sungai tetapi tidak seberapa. Hampir semua sudah mengandalkan pasokan air dari waduk melalui Dam Colo.

” Kalau ada air dari dam nanti ditampung di saluran,” jelasnya.

Menurutnya luas lahan tanam sekitar 40 hektare dengan rata-rata usia 60 hari. Apabila 30 hari ke depan pasokan aman, petani optimistis panen. Tidak hanya di desanya, warga Desa Tulas, Bulusan, Ringin putih dan sebagian di Kecamatan Cawas juga mengandalkan air waduk.

Kepala Balai Besar Sungai Wilayah Bengawan Solo, Charisal Akdian Manu menjelaskan mengantisipasi musim kemarau, Balai sudah membuat edaran ke Bupati pada bulan Maret. Isinya agar meminta petani mentaati pola tanam yang sudah ditetapkan provinsi dan kabupaten. Sebab jika tidak sesuai pola tanam, petani berisiko gagal panen. Air waduk disalurkan sudah ada teknis dan jadwalnya di Perum Jasa Tirta. (Achmad H)

Halaman: 1 | 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here