Butuh Proses Upaya Rekonsiliasi Prabowo Subianto – Joko Widodo

0
rekonsiliasi-jokowi-prabowo
FOTO ILUSTRASI : NEWS.CETIK.COM

JAKARTA,suaramerdekasolo.comRekonsiliasi antara dua tokoh nasional yakni Prabowo Subianto dan Joko Widodo seusai perhelatan Pilpres 2019 menjadi isu hangat akhir-akhir ini.
Menurut Konsultan Media dan Politik Syafrudin Budiman rekonsiliasi Jokowi- Prabowo tinggal menunggu waktu saja. Peristiwa bersejarah itu menguji kesabaran karena semua itu butuh proses dan bertahap.

“Perlu proseslah, kan tidak mudah mengucapkan begitu saja. Kita tunggu saja ucapan selamat dari Prabowo-Sandi kepada Jokowi-Amin,” kata Gus Din pada diskusi publik bertemakan Urgensi Rekonsiliasi Pasca Pilpres di KMI, Jalan Salemba Tengah, Jakarta.

Ketua Umum Presidum Pusat Barisan Pembaharuan (PP BP) ini mengungkapkan, Prabowo memiliki pendukung khas. Mereka ini sangat tidak suka pada pemerintahan Jokowi dan selalu mendorong Prabowo bergerak di luar koridor.

“Pendukung ini tidak ingin Prabowo-Sandi diam begitu saja menerima kekalahan. Mereka selalu menekan pasangan Prabowo-Sandi untuk terus melawan dan menumbangkan Jokowi kalau perlu. Tapi Prabowo masih seorang demokrat, tak mungkin melakukan hal-hal di luar konstitusi negara,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Gus Din juga menilai, proses rekonsiliasi sudah menjadi tradisi politik dan menjadi dasar kita bernegara. Terbukti sejak 22 Juni 1945 di sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), sesudah melakukan perundingan yang dipimpin Soekarno sebagai Ketua Tim Sembilan.

“Dahulu hal ini cukup sulit dan rumit antara 4 orang dari kaum kebangsaan (pihak nasionalis) dan 4 orang dari kaum keagamaan (pihak Islam), dan akhirnya mereka kembali bertemu dan menghasilkan rumusan dasar negara Republik Indonesia, dimana dalam sila pertama disebutkan Ketuhanan Yang Maha Esa, padahal sebelumnya sudah disepakati melalui perundingan bertuliskan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” jelasnya.

Jika belajar dari rekonsiliasi di atas, lanjutnya, sudah tak perlu lagi dipertentangkan antara relasi agama dan negara, dan relasi Islam dan Pancasila.

Wakil Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Achmad Baidowi menilai sebaiknya Partai Gerindra, PKS, PAN dan Partai Demokrat berada diluar pemerintahan. Sebab katanya, Jokowi – KH Ma’ruf Amin perlu dikontrol secara kuat, agar ada check dan balancing (keseimbangan) antara pemerintah dan partai oposisi.

“Kalau semuanya menjadi bagian pemerintah dan bersatu dalam pemerintahan menjadi tidak efektif. Mungkin salah satu bergabung ke pemerintah tak masalah. Bisa PAN atau Partai Demokrat sudah cukup,” kata pria yang biasa disapa Baidowi.

Adapun Indria Samego Peneliti LIPI mengatakan, generasi hari ini adalah generasi milenial yang tumbuh dan berproses dalam pendidikan politik yang berbeda dengan dulu. Dahulu media dan parpol dalam kendali kekuasaan, sementara hari ini kebebasan media dan kebebasan berpolitik sangatlah terbuka.

“Semua orang bisa menjadi wartawan, pemred dan pemilik dalam akun sosial medianya masing-masing. Sehingga dukungan secara fanatis dan militan bisa disampaikan lewat media sosial,” kata Indria.

Menurutnya, dahulu juga ada tradisi politik melanggengkan kepemimpinan kekuasaan elit. Sehingga kata Indria, untuk melakukan rekonsiliasi di tingkat elit tidak mudah begitu saja.

“Indonesia tidak punya contoh model rekonsiliasi elit yang baik. Sebab di Indonesia tidak ada tokoh sekaliber Nelson Mandela Presiden Afrika Selatan. Dimana beliau bisa mempersatukan semua faksi politik, termasuk lawan politiknya yang pernah memenjarakan Nelson Mandela,” ujar Indria.

Indria mengatakan, rekonsiliasi harus berdasarkan akar budaya, dari politik kultural menuju struktural. Salah satunya adalah sharing power atau bagi-bagi kekuasaan. Politik di kita ini sangat rumit dan tidak sederhana ketika ingin memformulasikan rekonsiliasi tersebut.

“Tradisi politik kita sejak Pemilu 1999 adalah koalisi bagi-bagi jabatan. Sementara di era Jokowi saat ini mau menerapkan lupakan 01 dan 02, semuanya menjadi 03 Persatuan Indonesia. Hal ini tidak mudah, sebab Jokowi harus menampung dan mengapresiasi pendukung, parpol dan relawannya,” tandasnya. (Budi)

Tinggalkan Pesan