Ketar-ketir, Air Telaga Timbang Pracimantoro Semakin Menipis

0
221
telaga-timbang-pracimantoro
TELAGA TIMBANG : Seorang anak bermain di tepi Telaga Timbang, Desa/Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, baru-baru ini. (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Volume air pada sebagian besar telaga di wilayah Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri semakin menipis. Hanya beberapa telaga yang masih menyimpan banyak air karena telah direnovasi dan diberi lapisan geomembran.

Camat Pracimantoro Warsito mengatakan, sejumlah telaga yang mulai mengering, antara lain Telaga Braholo (Desa Petirsari), Sebagor dan Suruhan (Desa Gambirmanis), Digal dan Sumberagung (Desa Sumberagung), Song Ireng dan Pelem (Desa Watangrejo), Winong (Desa Gedong), serta Telaga Timbang (Desa Pracimantoro). “Sebagian besar sudah tinggal sedikit airnya,” katanya, baru-baru ini.

Adapun beberapa telaga yang telah direnobvasi atau dilapisi geomembran masih menyimpan banyak air. Antara lain Telaga Joho (Desa Joho), Mesu (Desa Sumberagung), Gebangharjo (Desa Gebangharjo), Watangrejo (Desa Pringwatang), dan Telaga Ndoyo (Desa Gambirmanis). “Telaga Joho dibangun lagi dengan tembok permanen. Sedangkan lainnya dilapisi geomembran sehingga tidak bocor, airnya sekarang masih banyak,” terangnya.

Pemkab Wonogiri juga telah berupaya mengatasi kekeringan secara permanen. Yakni dengan memaksimalkan sumber air yang ada dan membangun jaringan-jaringan air bersih.

Dia mencontohkan, Pemkab telah menggelontorkan dana sekitar Rp 2,8 miliar untuk memaksimalkan sumber air Luweng Songo di Desa Sumberagung. Selama ini, pemanfaatan sumber tersebut belum maksimal karena mesin pompa dan jaringan yang dibangun masih berkapasitas kecil. “Kalau Luweng Songo sudah dibangun, kekeringan di Desa Sumberagung dan Joho akan teratasi. Sebagian wilayah yang tidak terjangkau akan disuplai dari sumber Seropan (Gunung Kidul, DIY),” imbuhnya.

Selain itu PDAM Giri Tirta Sari juga melakukan pengeboran pada dua titik di Desa Sambiroto. Pengeboran mencapai kedalaman sekitar 80 meter. “Sumur yang satu bisa mengalirkan delapan liter per detik, yang satunya lagi bisa sekitar enam liter per detik,” katanya.

Terpisah, kepala Dusun Mesu, Sumardi menuturkan, dusunnya belum bisa menikmati suplai air. Alhasil, mereka terpaksa membeli air dengan harga kisaran Rp 120.000-140.000 per tangki ukuran 6.000 liter. Mereka terkadang juga mengambil air dari Telaga Mesu dusun setempat.

“Bak-bak penampungan di rumah sudah habis. Jaringan air belum mencapai dusun kami. Terpaksa menjual ternak buat beli air. Kalau tangki dari Sadeng (DIY) harganya sekitar Rp 120.000, kalau dari Pracimantoro sekitar Rp 140.000 per tangki,” ujarnya. (Khalid Yogi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here