Pemberdayaan Kebudayaan dan Ekonomi

0
29
sumbangsih-keraton1
SEJAK ditetapkan definitif sebagai Sekjen FKIKN di FKN 3 Keraton Kutai Kartanegara (Tenggarong-Kaltim) tahun 2002, Gusti Moeng selalu aktif memimpin forum-forum diskusi dan silaturahmi kalangan anggota forum, seperti yang terjadi saat berlangsung sesi musyawarah anggota forum yang mewarnai pelaksanaan FKN 4 Keraton Jogja di tahun 2004. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sumbangsih Masyarakat Adat untuk Jaga Kebhinekaan dan Keutuhan NKRI (1-bersambung)

SEBUAH event yang diinisiasi bersama antara Keraton Surakarta, Keraton Jogjakarta dan Ditjen Pariwisata Deparpostel di era pemerintahan Orde Baru bernama Gelar Budaya atau Festival Budaya Keraton Catur Sagatra di tahun 1990-an, akhirnya dilembagakan secara nasional menjadi Festival Keraton Nusantara yamg digelar kali pertama di Kota Solo tahun 1995. Event gelar potensi seni budaya lembaga masyarakat adat yang disajikan tiap kontingen dari keraton/kesultanan/kedatuan/pelingsir adat dari berbagai daerah di Nusantara itu, dilangsungkan bersamaan dengan lahirnya wadah yang disebut Forum Komunikasi dan Informasi Keraton se-Nusantara (FKIKN) itu.

Mengapa event itu lahir dan untuk apa? Suaramerdekasolo.com dan Suara Merdeka mencatat, pidato laporan Menparpostel Soesilo Soedarman di depan Wapres Try Soetrisno, kemudian ditegaskan lagi oleh Dirjen Pariwisata Joop Ave saat menjawab pertanyaan para wartawan kurang lebih menyebutkan bahwa event tersebut dimaksudkan untuk memperkokoh ketahanan budaya bangsa. Selain itu, potensi seni budaya (intangible) dan bangunan peninggalan sejarah (tangible), perlu dibangkitkan agar menjadi atraksi wisata guna meningkatkan devisa negara dari sektor pemberdayaan dan pengembangan pariwisata.

Mengenai poin pengokohan ketahanan budaya bangsa menjadi fokus pemerintah saat itu, jelas sangat beralasan di tengah mulai derasnya arus informasi yang membawa masuk unsur-unsur kebudayaan barat ke dalam negeri. Poin berikut meningkatkan perolehan devisa negara yang bersumber dari sektor pariwisata, mendorong pemerintah membangkitkan potensi seni budaya yang bersumber dari lingkungan keraton/kesultanan/kedatuan/pelingsir yang tersebar di seluruh Nusantara, juga sangat beralasan di tengah cadangan sumber energi andalan bumi minyak sudah mulai berkurang.

sumbangsih-keraton2
SETAHUN menjelang peristiwa reformasi (1998), kontingen Keraton Surakarta masih tampak lengkap mengerahkan koleksi kereta kunonya beserta sejumlah bregada prajurit saat hadir di FKN 2 di Keraton Kasepuhan, Cirebon (Jabar) tahun 1997. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dua Poin

Dua poin tersebut di atas, tentu sudah bisa menjawab pertanyaan mengapa FKN lahir dan untuk apa? Tetapi dalam perjalanan kemudian, bangsa dan negara ini harus mengalami perubahan dahsyat akibat derasnya arus modernisasi di bidang teknologi informasi yang membawa angin kebebasan. Peristiwa runtuhnya rezim Orde Baru (1998) memasuki era Orde Reformasi, ikut merubah paradigma sekaligus tantangan bagi berbagai kalangan yang berkepentingan terhadap eksistensi dan makna FKIKN berikut produknya (FKN), terhadap ancaman keretakan tali silaturahmi antar komponen bangsa ini.

Halaman: First |1 | 2 | 3 | Selanjutnya → | Last

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here