Tabligh Akbar, Ustadz Wijayanto Bahas Kematian

0
40
tabligh-akbar-karanganyar
TABLIGH AKBAR – Tabligh akbar Ustadz Wijayanto yang dihadiri ribuan orang di halaman Masjid Alhadi, Senin (8/7) malam. (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.comRibuan orang tumplek blek dalam acara Tabligh Akbar kocak, menghadirkan Ustadz Wijayanto, dosen UGM yang juga doktor ilmu psikologi dari Inggris. Dengan nada kocak, selama 1,5 jam dia meguraikan ceramah halalbihalal karyawan Kusuma Hadi Santosa dan masyarakat.

‘’Manusia itu dihargai jika dia masih hidup. Saat meninggal dunia, jasadnya tidak lebih berharga dari ikan teri. Ikan kecil yang menjadi kelangenan mahasiswa UGM yang dikemas menjadi nasi kucing itu masih dihargai Rp 2.000 perbungkus,’’ kata Ustadz Wijayanto, Senin malam.

Tetapi jasad manusia mati, tidak ada yang mau membeli dengan harga Rp 1.000 pun. Semua tidak mau mendekat, tidak ada yang mau diajak menemani. Meskipun katanya sehidup semati, pun tidak mau mati bersama-sama.

Karena itu mestinya tidak ada yang bisa disombongkan pada manusia. Firaun yang mahadiraja, bahkan menganggap dirinya sebagai Tuhan, saat sudah mati tidak ada orang yang mau menggunakan namanya.

Berbeda dengan Bilal bin Robbah sahabat Nabi yang mulia, saat meninggal namanya dipakai terus oleh orang banyak. Semua orang bangga dengan namanya. Sebab memang namanya baik, amal orangnya baik, terpuji.

Padahal Bilal orang negro hitam legam yang rambutnya keriting, lebih ganteng daripada orang Jaten dan Mojolaban sekalipun, dan dia hanya seorang budak belian saja. Bandingkan dengan manusia semacam Firaun, yang raja, kaya raya.

Karena itu tidak ada yang bisa dibangga-banggakan saat manusia sudah mati, kecuali amalnya. Jika amalnya baik, maka dia akan menjadi orang yang membanggakan. Sebaliknya jika jelek amalnya, tak ada yang dibanggakan.

Selain itu kematian tidak pandang usia. Bayi meninggal sudah biasa. Kakek-kakek dan nenek-nenek meninggal, bukan hal luar biasa. Pemuda meninggal juga biasa. Malah banyak orang muda mati saat sedang dugem. Olahragawan mati saat beraktifitas juga banyak. Karena itu yang penting persiapan amal yang untuk dibawa mati itu.

Malaikat Izrail yang biasa mencabut nyawa saat Isra Mikraj ditanya Nabi Muhammad soal tanda kematian. Dijawab jika sudah tumbuh uban di rambut, itu pertanda kematian sudah dekat. Jika mata sudah mulai rabun, pendengaran mulai hilang, kulit mulai keriput, kebingungan sudah banyak melanda manusia, itu tanda kematian.

Karena itu yang harus dipersiapkan sesuai ayat yang biasa dilantunkan saat halalbihalal, bersegeralah pada ampunan Allah yang syurganya seluas langit dan bumi, dan diperuntukkan pada orang bertaqwa, yang mau memaafkan orang lain, mau menahan marah.

Halaman: 1 | 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here