Proyek Air Baku Wosusokas Tak Berpihak pada Wonogiri

silo-air-waduk-gajah-mungkur
SILO AIR : Beberapa silo penampungan air telah selesai dibangun di area Waduk Gajahmungkur, Kabupaten Wonogiri, baru-baru ini. (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)
WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Proyek pembangunan jaringan air baku yang bersumber dari Waduk Gajahmungkur untuk lima kota/kabupaten belum berpihak pada Kabupaten Wonogiri. Pasalnya, suplai air untuk Kabupaten Wonogiri sendiri justru mendapatkan jatah paling sedikit.
 
Wakil ketua Komisi D DPRD Provinsi Jateng Hadi Santoso mengatakan, proyek nasional tersebut menyediakan air baku untuk lima kota/kabupaten, yakni Wonogiri, Sukoharjo, Solo, Karanganyar, dan Sragen (Wosusokas). “Itu merupakan program nasional yang biayanya sangat fantastis, mencapai Rp 1,2 triliun. Mampu menghasilkan 1.475 liter per detik untuk 580.000 warga. Sumber airnya dari Waduk Gajahmungkur yang berada di Kabupaten Wonogiri,” katanya, Rabu (10/7).
 
Namun, Kabupaten Wonogiri justru akan memperoleh suplai air paling sedikit. Hanya dua kecamatan, yakni Kecamatan Selogiri dan Wonogiri Kota yang akan mendapatkan air baku dari proyek nasional tersebut. “Padahal, wilayah Selogiri dan Wonogiri Kota sendiri sudah dapat dari PDAM Wonogiri,” kata legislator asal Kabupaten Wonogiri itu.
 
Di sisi lain, masih banyak daerah di bagian selatan Kabupaten Wonogiri yang menderita kekurangan air ketika kemarau tiba. Antara lain sebagian wilayah Kecamatan Eromoko, Giriwoyo, Giritontro, Pracimantoro, Paranggupito, dan Manyaran.
 
An Sich
 
Cadangan air masyarakat di daerah yang kekeringan habis jika hujan tidak turun selama dua bulan. Hal itu memunculkan keprihatinan karena proyek jaringan air baku Wosusokas justru tidak menyentuh daerah-daerah kekeringan di Wonogiri.
 
“Suplai air tidak dibawa ke selatan katanya karena di daerah utara (Sukoharjo, Solo, Karanganyar dan Sragen) penduduknya lebih banyak. Kalau pendekatannya ekonomi an sich dan hanya dimaknai bisnis, lebih baik tujuan untuk mengentaskan kekeringan pada proyek itu dihapus saja,” ujarnya.
 
Oleh karenanya, dia meminta agar suplai air bersih juga diarahkan ke selatan yang sering mengalami kekeringan. Caranya dengan membangun jaringan pipa dan silo-silo penampung air di wilayah Eromoko atau manyaran. Selanjutnya, air dialirkan melalui silo tersebut menuju ke permukiman dengan gaya gravitasi.
 
Adapun beberapa silo penampung air yang ada saat ini ditempatkan di sekitar Bendungan Gajahmungkur, Kelurahan Wuryorejo, Kecamatan Wonogiri. “Paling tidak dibangun satu atau dua silo di Eromoko atau Wuryantoro untuk menyuplai air di daerah selatan,” pintanya. (Khalid Yogi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here