Bunuh Diri, Latihan Berat Tanpa Asupan Cukup

0
174
pelatihan-pelatih-disabilitas
PAPARAN: Pakar olahraga Fakultas Keolahragaan UNS Surakarta Sapta Kunta Purnama memberi paparan metodologi kepelatihan pada Pelatihan Pelatih Olahraga Disabilitas di Hotel Grand Hap Solo, Rabu (10/7). (suaramerdekasolo.cm/Setyo Wiyono)

*Pelatihan Pelatih Olahraga Disabilitas

SOLO,suaramerdekasolo.com – Latihan bagi seorang atlet harus dilakukan secara terprogram, terukur dan seimbang. Pakar olahraga Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS)  Sapta Kunta Purnama menyebut latihan juga harus ada peningkatan volume, hingga mencapai kemampuan yang maksimal.

‘’Namun latihan berat, baik untuk atlet normal maupun difabel, harus diimbangi dengan asupan makanan dan gizi yang mencukupi, serta disertai recovery untuk pemulihan fisiknya. Kalau beban latihan berat tanpa asupan makanan cukup, ya sama saja dengan bunuh diri,’’ kata dia pada Pelatihan Pelatih Olahraga Disabilitas tingkat Dasar di Solo, Rabu (10/8).

Pria yang juga Dekan Fakultas Keolahragaan (FKor) UNS itu menceritakan, dirinya pernah melakukan latihan dalam porsi lebih berat, berupa lari cepat 50 meter lalu diselingi jalan 75 meter, sebanyak 40 kali. Porsi tersebut melebihi volume latihan yang biasa dia lakukan. Ternyata saat bertanding bulu tangkis, dirinya tidak merasakan daya tahan yang lebih baik dari biasanya.

‘’Saat diperiksa secara medis, ternyata saya kaliren. Asupan makanan saya kurang untuk porsi yang lebih berat itu,’’ tuturnya disambut tawa peserta.

Atlet Top Dunia                                                                    

Kegiatan yang diikuti antara lain para pelatih olahraga disabilitas dari 35 kota/kabupaten itu digelar National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Jateng bekerja sama dengan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng. Pada acara yang diselenggarakan Rabu-Jumat (10-12/7) itu menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi kepelatihan.

Pemateri lain, Slamet Widodo menyebut, atlet-atlet top dunia harus melakukan latihan terprogram untuk mencapai kemampuan fisik maksimal. Dia menyebut beberapa contoh atlet-atlet dunia seperti pesepakbola Cristiano Ronaldo dan sprinter Usain Bolt yang memiliki fisik kekar dengan otot-otot bagus.

‘’Atlet difabel juga demikian. Sprinter NPCI Sapto Yoga dan perenang Jendi Pangabean juga memiliki fisik bagus, meski memiliki kelemahan pada salah satu bagian tubuhnya. Hal itu karena metode dan program latihan yang baik dan maksimal, sehingga prestasinya juga bagus,’’ ujar Slamet yang juga dosen FKor UNS.

Karena itu, para pelatih harus mampu memberikan porsi latihan dengan metode yang tepat dan diterapkan secara benar, sehingga atlet-atletnya bissuarsuaramerdekasolo compuan maksimal.(Setyo Wiyono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here