Dinas Dikbud Karanganyar Gerilya, Bujuk Anak Usia SD-SMP Mau Sekolah

0
12
anak-putus-sekolah
edunews.id

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Selama seminggu ini Dinas Dikbud Karanganyar menerjunkan tim dari tiap kecamatan dan sekolah, untuk menyisir  anak usia sekolah SD dan SMP untuk dibujuk agar mau sekolah. Apalagi sekarang sudah gratis.

‘’Pokoknya kalau bisa semaksimal mungkin agar semua anak usia sekolah bisa ditampung di sekolah terdekat. Sampai sekarang memang hasilnya belum dilaporkan, namun saat tahun ajaran baru dimulai semua sudah sekolah,’’ kata Agus Haryanto, Sekretaris Dinas Dikbud Karanganyar, Jumat (12/7).

Jika sudah maksimal dan hasilnya tidak ada lagi maka terpaksa kita hanya sampai segitu. Dan kita pertimbangkan untuk melakukan regrouping bagi SD yang kekurangan murid, atau siswanya sebab mau tidak mau itu bisa untuk efisiensi.

Agus tidak bersedia menjawab berapa sekolah yang terpaksa diregrouping sebab datanya memang belum masuk. Namun untuk SD dipastikan ada, sedangkan untuk SMP tidak sampai regrouping karena jumlah siswanya biasanya hanya kurang, dan sedikitnya masih dua kelas atau tiga rombongan belajar.

‘’Seperti SMPJatipuro 3, SMP Jumantono 3, SMP Colomadu 3, dan lainnya yang kebanyakan adsa di wilayah pinggiran, memang langganan kekurangan siswa. Meski sudah dilakukan PPDB sendiri biasanya tetap kurang. Namun karena masih ada dua atau tiga rombel tetap berjalan,’’ kata dia.

Regrouping

Kasusnya berbeda dengan SD. Kalau SD biasanya ada yang hanya mendapatkan siswa kurang dari 10. Tentu ini tidak bisa diteruskan, sehingga Dinas Dikbud terpaksa melakukan regrouping untuk efisiensi. Tentunya setelah melihat sekolah terdekat, sehingga tidak menyusahkan siswa belajar.

Jumlah SD di Karanganyar saat ini ada 437 sekolah, dan kebanyakan setiap sekolah hanya punya guru yang ASN (aparatur sipil nasional) alias PNS hanya ada 3-4 saja termasuk kepala sekolahnya. Karena itu kepala sekolah hakekatnya guru yang diberi tugas tambahan. Dia tetap harus mengajar.

Adapun kekurangan guru sejumlah sekitar 900-an lebih bahkan sudah lebih ari 1.000-an data dari Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM, setiap sekolah mempekerjakan guru honorer yang dibayar kadang ala kadarnya. Dan baru tahun ini ada tambahan dari APBD.

Setiap sekolah kadang ada 2-3 bahkan ada yang lebih mempekerjakan tenaga honorer. Karena itu jika akan diregrouping Dinas jga harus mempertimbangkan hal tadi, agar tidak asal menggabungkan sekolah saja.

Regrouping memang menjadi pilihan terakhir agar sekolah bisa melakukan efisiensi. Sebab dengan hanya memiliki kurang dari 10 siswa maka nantinya malah memunvculkan masalah baru dalam proses belajar mengajarnya.

Halaman: 1 | 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here