NPCI Pacu Penggalian Potensi Atlet di Daerah

0
85
pembukaan-pelatihan-disabilitas
PEMBUKAAN: Sejumlah peserta, pengurus NPCI Jateng dan jajaran Disporapar Jateng berpose usai pembukaan Pelatihan Pelatih Olahraga Disabilitas Tingkat Dasar di Hotel Grand Hap Solo, Rabu (10/7). (suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

*Banyak Pelatih Tak Mampu Susun Program

SOLO,suaramerdekasolo.com – Jajaran pengurus National Paralympic Committee Indonesai (NPCI) Jateng terus memacu penggalian dan pengembangan potensi atlet-atlet di daerah kota/kabupaten. Penggalian itu bisa lebih efektif jika pengurus dan pelatih di tingkat kota/kabupaten melakukan pembinaan secara benar dan terarah.

‘’Maka para pelatih NPCI kota/kabupaten se-Jateng yang baru saja mendapatkan pelatihan di Solo, harus bisa menerapkan pengetahuannya di daerah masing-masing. Jika banyak atlet baru muncul dan kemampuannya bagus, bisa didorong untuk bersaing di tingkat nasional bahkan internasional,’’ kata Ketua Umum NPCI Jateng Osrita Muslim, Jumat (12/7).

Hal senanda juga disampaikan Sekretaris NPCI Priyano saat penutupan Pelatihan Pelatih Olahraga Disabilitas Tingkat Dasar yang digelar NPCI Jateng di Solo, Kamis (11/7) malam. Seratus pelatih, terutama dari NPCI 35 kota/kabupaten mengikuti kegiatan yang digelar bekerja sama dengan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng itu.

‘’Kami terus mendorong munculnya atlet-atlet seperti Sapto Yoga (Banyumas) dan Karisma Evi Tiarani (Boyolali) yang kini sudah bertarung di tingkat Asia,’’ tandas Priyano.

Tak Maksimal

Sementara Plh Kabid Keolahragaan Disporapar Jateng Kuncoro Dwi Wibowo menyebut kiprah para atlet NPCI kian bagus dalam mengharumkan nama Indonesia. ‘’Pada Asian Para Games 2018, ada sembilan medali emas yang disumbangkan atlet-atlet NPCI Jateng. Hal itu tak lepas dari perjuangan para atlet, peran pelatih dan pengurusnya,’’ ujar dia.

Sebelumnya, berbagai materi disampaikan sejumlah praktisi dan akademisi Fakultas Keolahragaan (FKor) Universitas Sebelas Maret Surakarta. Yakni metodologi kepelatihan (Dekan FKor Sapta Kunta Purnama), strenght and conditioning (Slamet Widodo), penyusunan program latihan (Bambang Wijanarko), fisiologi olahraga (Haris Nugroho) dan psikologi olahraga (Febriani Fajar Ekawati).

Bambang mengungkapkan, masih banyak pelatih yang kurang mampu menyusun program latihan, sehingga atlet tak bisa mencapai prestasi maksimal. Terkadang prestasi puncak justru diraih sebelum atau setelah kejuaraan yang jadi sasaran utama program latihan.

‘’Jadi perlu perencanaan latihan yang matang, demi hasil maksimal,’’ tandasnya.(Setyo Wiyono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here