”…Yen Wania ing Gampang, Wedia ing Ewuh, Sabarang tan Tumeka….,”

guru-keraton-surakarta1
SAJIAN TARI Bambangan - Cakil adalah simbol-simbol kekayaan budaya Jawa yang selalu ada dalam event-event upacara wisuda abdidalem anggota Pakasa dan event-event di lingkungan Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta, seperti yang berlangsung di ndalem Kayonan, Baluwarti, Solo, Sabtu siang (13/7). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

KEBESARAN nama Nagari Mataram ing Surakarta atau Keraton Surakarta Hadiningrat, memang sudah tidak bisa diragukan lagi sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan sampai yang bernilai spiritual tinggi, selain sumber seni budaya Jawa yang juga berasal dari perdaban Jawa.

Di antara karya-karya peninggalan yang sifatnya intangible itu, adalah ilmu pengetahuan seperti yang banyak digunakan dalam kehidupan sosial saat ini, yang sumbernya dari piwulang atau kata mutiara atau adagium yang terdapat dalam karya-karya sastra para pujangga atau kalangan intelektual keraton di masa lampau.

Sebab itu, tidak salah apabila banyak intelektual mendapati dari hasil penelitian dan kajian ilmiahnya lalu menyebut Jawa adalah simbol peradaban yang kini tetap dipelihara dan dilestarikan Keraton Surakarta itu. Tidak salah pula, dalam apabila kalangan cerdik-pandai apalagi dari lingkungan kampus membenarkan bahwa Jawa adalah sebuah bangsa, bukan sekadar suku seperti yang bisa ditelaah dan dianalisis .
Walau begitu, Keraton Mataram ing Surakarta masa kini sangat menyadari ”lakuning jaman” atau sering disebut ”nut jaman kelakone” yang dalam istilah populer disebut realistis dengan posisi kelembagaan yang rasional dan jelas.

 

guru-keraton-surakarta2
DR PURWADI (dosen bahasa Jawa di FIB UNY) sekaligus salah seorang pendiri Pakasa Cabang Jogja (kiri), berfoto bersama GKR Wandansari Koes Moertijah (Ketua LDA), seusai diwisuda karena mendapatkan gelar sesebutan KRT Purwadi Sosronagoro dalam upacara wisudan yang berlangsung di ndalem Kayonan, Baluwarti, Solo, Sabtu siang (13/7). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dalam konteks itu pula, kini keraton hendak mengakomodasi kebutuhan masyarakat luas terhadap fungsi dan perannya sebagai lembaga yang selalu menjadi sumber ”piwulang tata basa, tata susila lan suba-sita”, karena ini yang menjadi dasar-dasar kebutuhan setiap pribadi manusia dalam kehidupan sosial, mulai dari lingkungan keluarga, wilayah sekitarnya dan warga bangsa NKRI ini.

Meski realitasnya keraton merupakan sumber pengetahuan budaya dan pengetahuan seperti yang banyak disebut dalam karya-karya Pujangga Ranggawarsita, Pujangga Yasadipura, juga pengetahuan umum yang berkait dengan segala aspek kehidupan sangat luas utamanya sejarah, namun lembaga masyarakat adat penerus Dinasti Mataram di Keraton Surakarta menyadari ada hal-hal mendasar, vital dan krusial yang dibutuhkan khalayak luas saati ini. Terutama dasar-dasar pedoman hidup untuk keutuhan warga bangsa, bahkan yang akan terus diperlukan setiap generasi untuk bekal tetap tegaknya NKRI ini.

Peran dan Fungsi Keraton

Penjelasan seorang intelektual dari FIB UNY, Dr Purwadi atau KRT Purwadi Sosronagoro kepada Suaramerdekasolo.com yang menemuinya seusai upacara wisudan sentana dan abdidalem di ndalem Kayonan, Baluwarti, Solo, Sabtu siang (13/7), memang tak jauh dari pokok-pokok pikiran dan uraian realitas di atas. Bahkan menurutnya, peran dan fungsi makro keraton, jelas tertuju untuk kepentingan kokohnya bangunan kebhinekaan NKRI itu.

 

guru-keraton-surakarta3
GUSTI MOENG (Ketua LDA) memberi ucapan selamat kepada salah seorang sentanadalem yang habis diwisuda Pengageng Kusuma Wandawa KPH Broto Adiningrat, karena mendapatkan gelar sesebutan baru sebagai KRAy Murtinah Indrotenoyo dalam upacara wisudan yang berlangsung di ndalem Kayonan, Baluwarti, Solo, Sabtu siang (13/7). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sedang fungsi mikronya, ya untuk orang-orang yang sampai sekarang tetap peduli dan rela berkorban mengabdi, walaupun benar-benar dalam keadaan rekasa, sulit dan berat seperti sekarang.
”Mengapa saya ikut bergabung di sini, karena saya melihat ada kebenaran dan ketulusan dari piwulangnya Pujangga Yasadipura yang berbunyi

‘…Yen Wania ing Gampang, Wedia ing Ewuh, Sabarang tan Tumeka….’ itu.

Orang-orang yang setia di belakang Gusti Moeng (GKR Wandansari Koes Moertijah), bukan orang-orang sembarangan. Orang-orang pinter, setia, santun dan jelas tidak unhtuk mencari kekayaan materi, apalagi popularitas dan kekuasaan. Mereka itu setia pada budaya dan sangat ikhlas,” tutur pengurus Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta (Pakasa) Cabang Jogja yang berasal dari Nganjuk (Jatim) itu menjelaskan.

Lalu apa penjelasan soal piwulang : ‘…Yen Wania ing Gampang, Wedia ing Ewuh, Sabarang tan Tumeka….’ itu? KRT Purwadi menguraikan kurang lebih ”….kalau hanya berani karena mudah, takut karena sungkan, (cita-cita dan impian setinggi) apapun tak akan datang terwujud…” Dosen dari FIB UNY itu hendak menunjukkan, bahwa dirinya bersama sekitar 140-an dosen dan guru bahasa Jawa SMA dari beberapa wilayah kabupaten/kota se Jateng dan DIY itu karena sangat sadar melihat beberapa hal.

guru-keraton-surakarta4
KEPADA PARA guru dan dosen bahasa Jawa dari sejumlah kabupaten/kota se Jateng dan DIY yang menjadi anggota Pakasa baru dan lulusan Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta, selalu dibekali pengetahuan tentang budaya Jawa, misalnya ikhwal blangkon dan tatacara penggunaannya yang disampaikan KRT Budayaningrat (guru sanggar) dalam upacara wisudan yang berlangsung di ndalem Kayonan, Baluwarti, Solo, Sabtu siang (13/7). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Merasa Berkewajiban 

Pertama, kondisi riil dalam masyarakat terutama untuk keperluan edukasi di lembaga-lembaga pendidikan, kini sangat butuh mendesak tenaga-tenaga agen transfer ilmu pengetahuan (dosen/guru) dalam jumlah yang cukup. Kondisi sosial yang riilpun butuh penguatan dasar-dasar nilai budaya, yang antara lain bisa didapat dari bangku pendidikan. Sedangkan kebutuhan materi ilmu pengetahuan tentang bahasa Jawa dan budaya Jawa secara lengkap dan original, sumbernya ada di Keraton Surakarta.
Kedua, menyadari letak asal sumber ilmu pengetahuan yang diperlukan tetapi situasi dan kondisi Keraton Surakarta kini sangat memprihatinkan, sangatlah wajar kalau siapapun yang bergabung merasa punya kewajiban untuk ikut mendukung tegaknya eksistensi keraton, meski dalam kondisi serba sulit. Inilah wujud kesadaran dan semangat untuk memahami dan mewujudkan apa yang dimaksud dalam salah satu piwulang Pujangga Yasadipura tersebut.

guru-keraton-surakarta5
DWIJA SANGGAR Pawiyatan Pambiwara KRT Budayaningrat menjelaskan ikhwal bara samir dan cara-cara menggunakannya seperti dicontohkan MNg Setiadi Setyobudoyo di depan 40-an dosen dan guru bahasa Jawa dari sejumlah kabupaten/kota di Jateng dan DIY yang mengikuti upacara wisudan yang berlangsung di ndalem Kayonan, Baluwarti, Solo, Sabtu siang (13/7). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Kalau kita mau belajar ilmu pengetahuan tentang sejarah dan nilai-nilai budaya Jawa, selain ke Sasana Pustaka, ya datang ke Gusti Moeng. Itu tepat sekali. Karena, semua sanggar pasinaon untuk itu, misalnya Pambiwara, ada di bawah Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan yang dipimpin Gusti Moeng. Karena saya mendapat semua yang saya butuhkan untuk profesi dan bekal hidup ini dari sanggar itu, tidak ada salahnya saya ikut merasakan keprihatinan yang melanda Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta ini,” jelas Dr Purwadi. (Won Poerwono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here