”…Yen Wania ing Gampang, Wedia ing Ewuh, Sabarang tan Tumeka….,”

0
330
guru-keraton-surakarta1
SAJIAN TARI Bambangan - Cakil adalah simbol-simbol kekayaan budaya Jawa yang selalu ada dalam event-event upacara wisuda abdidalem anggota Pakasa dan event-event di lingkungan Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta, seperti yang berlangsung di ndalem Kayonan, Baluwarti, Solo, Sabtu siang (13/7). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

KEBESARAN nama Nagari Mataram ing Surakarta atau Keraton Surakarta Hadiningrat, memang sudah tidak bisa diragukan lagi sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan sampai yang bernilai spiritual tinggi, selain sumber seni budaya Jawa yang juga berasal dari perdaban Jawa.

Di antara karya-karya peninggalan yang sifatnya intangible itu, adalah ilmu pengetahuan seperti yang banyak digunakan dalam kehidupan sosial saat ini, yang sumbernya dari piwulang atau kata mutiara atau adagium yang terdapat dalam karya-karya sastra para pujangga atau kalangan intelektual keraton di masa lampau.

Sebab itu, tidak salah apabila banyak intelektual mendapati dari hasil penelitian dan kajian ilmiahnya lalu menyebut Jawa adalah simbol peradaban yang kini tetap dipelihara dan dilestarikan Keraton Surakarta itu. Tidak salah pula, dalam apabila kalangan cerdik-pandai apalagi dari lingkungan kampus membenarkan bahwa Jawa adalah sebuah bangsa, bukan sekadar suku seperti yang bisa ditelaah dan dianalisis .
Walau begitu, Keraton Mataram ing Surakarta masa kini sangat menyadari ”lakuning jaman” atau sering disebut ”nut jaman kelakone” yang dalam istilah populer disebut realistis dengan posisi kelembagaan yang rasional dan jelas.

 

guru-keraton-surakarta2
DR PURWADI (dosen bahasa Jawa di FIB UNY) sekaligus salah seorang pendiri Pakasa Cabang Jogja (kiri), berfoto bersama GKR Wandansari Koes Moertijah (Ketua LDA), seusai diwisuda karena mendapatkan gelar sesebutan KRT Purwadi Sosronagoro dalam upacara wisudan yang berlangsung di ndalem Kayonan, Baluwarti, Solo, Sabtu siang (13/7). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dalam konteks itu pula, kini keraton hendak mengakomodasi kebutuhan masyarakat luas terhadap fungsi dan perannya sebagai lembaga yang selalu menjadi sumber ”piwulang tata basa, tata susila lan suba-sita”, karena ini yang menjadi dasar-dasar kebutuhan setiap pribadi manusia dalam kehidupan sosial, mulai dari lingkungan keluarga, wilayah sekitarnya dan warga bangsa NKRI ini.

Meski realitasnya keraton merupakan sumber pengetahuan budaya dan pengetahuan seperti yang banyak disebut dalam karya-karya Pujangga Ranggawarsita, Pujangga Yasadipura, juga pengetahuan umum yang berkait dengan segala aspek kehidupan sangat luas utamanya sejarah, namun lembaga masyarakat adat penerus Dinasti Mataram di Keraton Surakarta menyadari ada hal-hal mendasar, vital dan krusial yang dibutuhkan khalayak luas saati ini. Terutama dasar-dasar pedoman hidup untuk keutuhan warga bangsa, bahkan yang akan terus diperlukan setiap generasi untuk bekal tetap tegaknya NKRI ini.

Halaman: First |1 | 2 | 3 | Selanjutnya → | Last

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here