Cara dan Gaya Sharing Informasi Bagi Kalangan Abdidalem

0
89
komunikasi-abdi-dalem-keraton-surakarta1
DIDAHULUI dengan minta izin kepada forum, Gusti Moeng mengenakan kacamata gelap untuk meredam silaunya sinar siang itu saat berbicara di forum pertemuan antara bebadan dengan kalangan abdidalem garap di Sitinggil Lor Keraton Surakarta, Minggu (14/7). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

* Bagian dari Nut Jaman Kelakone

DINAMIS, aktif dan kreatif, itu adalah kata-kata penuh makna yang gampang dipakai untuk melukiskan sepak-terjang sekelompok besar kerabat Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram ing Surakarta sejak insiden pengusiran 15 April 2017 hingga kini. Meski sebelum peristiwa pengusiran sudah ada tanda-tanda perubahan itu, tetapi baru dalam suasana tersingkir itu tampak begitu intensif terjadi pola-pola perubahan dalam berkomunikasi. Terutama yang menyangkut cara dan gaya berkomunikasi atau pola dialog, antara jajaran pemimpin kelompok terdepan yaitu GKR Wandansari Koes Moertijah, dengan para pengikutnya yang terdiri kerabat besar sentana darah dalem trah Sinuhun Amangkurat hingga putra-putri Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII, para abdidalem garap hingga abdidalem anggota Pakasa yang tersebar luas di berbagai daerah jauh di luar Jawa Tengah.

Pola-pola berkomunikasi dan berdialog yang terkesan lebih populis, elegan dan familiar itu tentu bisa disimak ketika berlangsung ”pisowanan” yang digelar GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng selaku Ketua LDA, di Sitinggil Lor Keraton Surakarta, rutin minimal sekali di awal bulan bersamaan dengan pemberian gaji misalnya Minggu (14/7). Atau di pertemuan lain yang nyaris rutin misalnya saat ada upacara adat dan hajad khusus, misalnya ”pisowanan” upacara wisuda sentana dan abdidalem yang berlangsung di ndalem Kayonan, Baluwarti, Sabtu (13/7).

”Pisowanan” di Sitingggil Lor, Minggu pagi (14/7) yang dihadiri sejumlah sentana pejabat bebadan (kabinet) dan jajaran, beberapa putra-putridalem Sinuhun PB XII pejabat bebadan dan jajaran serta sekitar 300 abdidalem garap atau pegawai keraton, menjadi salah satu contohnya. Meski jumlah abdidalem garap di atas 500 orang, tetapi tidak selalu hadir lengkap dalam setiap ”pisowanan” yang digelar LDA. Mengingat jarak yang cukup jauh, 40-an abdidalem garap yang bertugas di makam raja-raja Surakarta dan Jogja, Astana Pajimatan Imogiri, Bantul (DIY) dan di makam raja-raja Astana Pajimatan Tegalarum (Kabupaten Tegal) misalnya, hanya diwakili satu atau dua orang saja.

komunikasi-abdi-dalem-kera2
DUDUK LESEHAN di lantai sambil menjalankan tugas sebagai pengeprak dalam sajian tari khas keraton misalnya, adalah contoh dari bagian perubahan sikap, perilaku dan cara berpikir yang selalu diperlihatkan Gusti Moeng, walau berlangsung di dalam keraton beberapa waktu lalu. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Perubahan Pola Komunikasi

Meski tidak selalu komplet datang dalam satu waktu tepat sesuai yang dijadwalkan, tetapi perubahan pola-pola komunikasi dan dialog di antara anggota lembaga masyarakat adat itu jelas terasa dan jelas terjadi proses sosialisasi yang pelan tapi pasti. Perubahan pola-pola komunikasi dan dialog, misalnya teridentifikasi dalam cara dan gaya para penyampai pesan, yaitu kalangan pengageng bebadan yang mulai mengadopsi istilah-istilah kekinian, bahkan ala generasi milenial. Bahasa Jawa krama inggil yang diselingi bahasa Indonesia, secara cerdik digunakan bersama-sama untuk menjelaskan istilah-istilah asing produk barat misalnya kata ”transfer” dan kirim pesan ”WA” atau lewat ”WhatsApp”, karena proses sharing atau penyebaran informasi itu melalui HP yang rata-rata sudah berteknologi aplikasi WA.

Cara dan gaya sharing informasi yang sudah berubah seperti yang dismaksud dalam pengertian Nut Jaman Kelakone atau lakune jaman itu, juga bisa diidentifikasi ketika mereka berkomunikasi atau berdialog. Sebab, siapapun terutama sentana dan abdidalem garap yang ”sowan” di Sitinggil Lor pagi itu, benar-benar memanfaatkan kesempatan yang diberikan kepadanya untuk berbicara/bertanya.

Suaramerdekasolo.com mencatat, misalnya ketika Gusti Moeng menyinggung soal upayanya ke pemerintah akhir-akhir ini dengan kata-kata : ”Mugi andadosaken kawuningan sadaya ingkang sami sowan ing mriki enjing menika, kula ajeng matur, ngantos sepriki kula lan panjenengan tasih prihatin. Piye ya, nyuwun pangapunten nganggo basa campuran ben gampang memahami nggih. Intine, keraton bubrah tatanane, rusak bangunane kados ngaten. Nanging kula lan panjenengan sampun meneng wae. Mboten saget namung meneng thok. Kudu terus berupaya. Upaya menika antara lain kula ajeng nagih janji, sowan pak Presiden. Amargi sakniki sapa presidene sing dadi wis jelas, enggih niku pak Jokowi. Mugi-mugi pak Presiden sing asli Solo niku, bener-bener kersa ngrampungi masalahe kraton. Ning mboten intervensi kaya sing dilakoni utusane ngantos dados ngeten niki….,” begitu contoh kalimat-kalimat yang diungkapkan dengan nada tandas, tetapi masih penuh tata krama dan rasa hormat kepada semua yang hadir, bahkan setengah bercanda, ketika melukiskan upayanya untuk keraton belakangan ini.

Gaya Kekinian

Sambil mengenakan kacamata gelapnya, Gusti Moeng berkata setengah bercengkerama ”…nyuwun pangapunten nggih, aku tak nganggo kacamata, amarga sulap kena pantulan sinar saka njaba kae. Apa pertemuan sukmben diwalik, ora madhep rana ya. Dadi madhep rene ben ora sulap…,”. ”…Dalam kesempatan ini, saya juga menyatakan bahwa saya ini masih dalam posisi sebagai Pengageng Sasana Wilapa yang sah. Karena, bebadan atau kabinet yang dibentuk dan disepakati bersama Sinuhun (PB XIII) dan perwakilan pengurus trah yang tergabung dalam LDA di tahun 2004, belum pernah dibubarkan…,” ujar tegas Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta itu.

komunikasi-abdi-dalem-keraton3.jpg
POSISI yang equal antara para pemimpin yang notabene kalangan ningrat dengan para abdidalemnya saat bertemu dalam sebuah ”pisowanan” di Sitinggil Lor Keraton Surakarta, Minggu (14/7). (Suaramerdekasolo.com/Won


Dialogpun sering terbangun, di saat para abdidalem merasa belum mengerti dan ingin tahu, misalnya bagaimana cara melihat saldo uangnya di bank, karena gaji mereka mulai dibagikan lewat transfer langsung ke nomer rekening atas nama masing-masing agar transparan dan akuntabilitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Juga ketika mendengar Gusti Moeng menyebutkan surat permohonan dari Kelurahan Sriwedari, yang isinya minta bantuan unit prajurit korp musik untuk karnaval budaya pada Sabtu (20/7). Langsung saja bermunculan ungkapan menyambut dengan kata-kata bersahutan silih-berganti sambil mengacungkan tangan :”….siap…, nun inggih sendika,…. jam pinten….., kumpul wonten pundi….,pukul berapa…..?.”
Nut Jaman Kelakone atau perubahan ke arah maju dan sangat memahami apa yang sedang terjadi tetapi tidak meninggalkan prinsip-prinsip dasar sebagai keluarga besar keraton dan sebagai wong Jawa, itulah lukisan sikap kerabat keraton masa kini yang sedang bertransisi ke alam milenial. Duduk bersama sederajat atau equal lesehan di atas tikar, berkomunikasi demokratis, mau belajar memahami perubahan/hal baru yang berguna, tetapi tidak meninggalkan prinsip-prinsip dasarnya sebagai wong keraton dan wong Jawa yang cinta kebhinekaan, cinta NKRI, Pancasilais serta penuh tata susila, tata krama dan suba sita. (Won Poerwono)

komunikasi-abdi-dalem-keraton4.jpg
BEGITUPUN saat menyaksikan upacara wisuda 140-an dosen dan guru bahasa Jawa se Jateng-DIY di ndalem Kayonan, Baluwarti, Sabtu (13/7). Semua equal, sama-sama duduk di kursi, bahkan yang diwisuda justru berdiri di hadapan para pimpinan Sanggar Pasinaon Pambiwara dan Pangarsa Punjer Pakasa Keraton Surakarta itu.(Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here