Cara dan Gaya Sharing Informasi Bagi Kalangan Abdidalem

0
77
komunikasi-abdi-dalem-keraton-surakarta1
DIDAHULUI dengan minta izin kepada forum, Gusti Moeng mengenakan kacamata gelap untuk meredam silaunya sinar siang itu saat berbicara di forum pertemuan antara bebadan dengan kalangan abdidalem garap di Sitinggil Lor Keraton Surakarta, Minggu (14/7). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

* Bagian dari Nut Jaman Kelakone

DINAMIS, aktif dan kreatif, itu adalah kata-kata penuh makna yang gampang dipakai untuk melukiskan sepak-terjang sekelompok besar kerabat Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram ing Surakarta sejak insiden pengusiran 15 April 2017 hingga kini. Meski sebelum peristiwa pengusiran sudah ada tanda-tanda perubahan itu, tetapi baru dalam suasana tersingkir itu tampak begitu intensif terjadi pola-pola perubahan dalam berkomunikasi. Terutama yang menyangkut cara dan gaya berkomunikasi atau pola dialog, antara jajaran pemimpin kelompok terdepan yaitu GKR Wandansari Koes Moertijah, dengan para pengikutnya yang terdiri kerabat besar sentana darah dalem trah Sinuhun Amangkurat hingga putra-putri Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII, para abdidalem garap hingga abdidalem anggota Pakasa yang tersebar luas di berbagai daerah jauh di luar Jawa Tengah.

Pola-pola berkomunikasi dan berdialog yang terkesan lebih populis, elegan dan familiar itu tentu bisa disimak ketika berlangsung ”pisowanan” yang digelar GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng selaku Ketua LDA, di Sitinggil Lor Keraton Surakarta, rutin minimal sekali di awal bulan bersamaan dengan pemberian gaji misalnya Minggu (14/7). Atau di pertemuan lain yang nyaris rutin misalnya saat ada upacara adat dan hajad khusus, misalnya ”pisowanan” upacara wisuda sentana dan abdidalem yang berlangsung di ndalem Kayonan, Baluwarti, Sabtu (13/7).

”Pisowanan” di Sitingggil Lor, Minggu pagi (14/7) yang dihadiri sejumlah sentana pejabat bebadan (kabinet) dan jajaran, beberapa putra-putridalem Sinuhun PB XII pejabat bebadan dan jajaran serta sekitar 300 abdidalem garap atau pegawai keraton, menjadi salah satu contohnya. Meski jumlah abdidalem garap di atas 500 orang, tetapi tidak selalu hadir lengkap dalam setiap ”pisowanan” yang digelar LDA. Mengingat jarak yang cukup jauh, 40-an abdidalem garap yang bertugas di makam raja-raja Surakarta dan Jogja, Astana Pajimatan Imogiri, Bantul (DIY) dan di makam raja-raja Astana Pajimatan Tegalarum (Kabupaten Tegal) misalnya, hanya diwakili satu atau dua orang saja.

komunikasi-abdi-dalem-kera2
DUDUK LESEHAN di lantai sambil menjalankan tugas sebagai pengeprak dalam sajian tari khas keraton misalnya, adalah contoh dari bagian perubahan sikap, perilaku dan cara berpikir yang selalu diperlihatkan Gusti Moeng, walau berlangsung di dalam keraton beberapa waktu lalu. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Perubahan Pola Komunikasi

Halaman: First |1 | 2 | 3 | Selanjutnya → | Last

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here