MPLS Harus Bikin Siswa Kerasan

hari-pertama-masuk-sekolah
FOTO ILUSTRASI

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Dinas Dikbud menerjunkan tim ke sekolah-sekolah setingkat SMP di Karanganyar, untuk memantau pelaksanaan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) sekaligus melakukukan pendataan berapa jumlah siswa yang diterima di SMP tersebut.

‘’Kita tidak ingin pelaksanaan MPLS menyimpang, ada tindakan aneh-aneh dari sekolah karena pelaksanaan MPLS diserahkan ke OSIS oleh guru sehingga mereka bertindak semaunya tanpa dimonitor,’’ kata Agus Haryanto, Sekretaris Dinas Dikbud Karanganyar, Senin.

Dia mencontohkan, rambut siswa harus dikepang banyak, ditempeli name tag besar-besar, dan tindakan perpeloncoan lainnya sehingga menyiksa perasaan bahkan fisik siswa baru. Dia menilai tindakan itu tidak berguna sehingga tidak perlu ada.

Menurutnya, MPLS sebaiknya betul-betul diisi dengan kegiatan yang positif, namanya juga pengenalan lingkungan sekolah, sehingga siswa dikenalkan sekolah dan lingkungannya, seperti kegiatan ekstra yang harus diikuti siswa, perpustakaan, koleksi buku yang menarik apa, dan lainnya.

Agus tidak ingin mendengar ada kasus-kasus yang terjadi di sekolah di Karanganyar, apalagi baru SMP, Sehingga dia berharap semuanya terlaksana dengan baik dan menyenangkan siswa baru. Kegiatan itu semestinya merupakan kegiatan menyenangkan yang membuat kerasan siswa baru di sekolah, bukan sebaliknya.

Sedangkan pendataan siswa baru, untuk mengetahui berapa jumlah siswa yang bisa tertampung di sekolah tersebut. Sebab banyak sekolah yang sejak beberapa tahun lalu memang menjadi langganan kekurangan siswa.

Misalnya SMP Negeri III Jatipuro, SMP 3 Jumantono, SMP 2 Colomadu, SMP 3 Gondangrejo, SMP satu atap di Kerjo,  termasuk SMP 4 Karanganyar yang ada di tengah kota namun termasuk yang kekurangan kuota. Dinas Dikbud juga mendata sekolah swasta yang juga kekurangan.

Sekolah dipantau tim

Menurut dia, di satu sisi ada sekolah yang diizinkan menerima rombel agak berlebih, karena alasan agar siswa di sekitar sekolah itu bisa ditampung. Kalau tidak ditampung bisa-bisa siswa tidak sekolah karena untuk sekolah yang jauh sangat menyulitkan.

‘’Kami terjunkan dua orang ke semua sekolah untuk memantau pelaksanaan MPLS dan pendataan siswa serta kemungkinan ada guru di awal sekolah yang absen. Ini penting dan termasuk dipantau karena Dinas Dikbud ingin citra sekolah baik di mata siswa, sehingga tidak ada guru yang absen.’’

Agus mengatakan, selama tiga hari ini tim melakukan pemantauan ke sekitar 80 SMP di Karanganyar, untuk mendata berapa sekolah yang kurang, sekaligus mendata apakah ada anak usia sekolah yang belum diterima di sekolah tersebut.

Sedangkan pendataan juga dilakukan untuk memantau penerimaan siswa didik baru tingkat SD. Sebab sementara ini dari pemantauan Dinas Dikbud SD di Karanganyar kekurangan siswa sampai 50 % di tiap sekolah, kendati hanya menerima satu kelas saja.

‘’Ini memang ironi karena hanya mencapai siswa 20-an orang saja ternyata sekolah tidak bisa. Dan kondisi ini hampir merata di semua SD, selalu kekurangan siswa. Sehingga sementara kami mendekati lingkungan sekolan untuk kemungkinan menggabung sekolah, bila tidak mungkin sekolah itu tetap berjalan meski siswanya kurang.’’

Yang  terpenting  semua anak usia sekolah baik SD maupun SMP tetap sekolah, sehingga pendidikan dasar bisa terlaksana. UPT (unit pelaksana teknis) Dinas Dikbud kecamatan, pengawas, semua diterjunkan untuk melakukan pendataan.(joko dh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here