Dalam Tiga Bulan, Kawanan Kiai Slamet di Alkid Lahirkan Tiga Bayi Gudel

kebo-bule-kyai-slamet1
PELAKSANA pengelola Alun-alun Kidul Keraton Surakarta yang dikenal dengan ''Alkid'', KRMH Aditya Soeryo Harbanu (40), kemarin tampak sedang mengelus-elus Nyai Pahing, induk kagungandalem mahesa pusaka Kiai Slamet yang masih bermalas-malasan karena lemas di kandangnya, setelah melahirkan gudel atau bayinya, Selasa siang (16/7). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

* Antara Sayang dan Benci

HANYA dalam waktu tiga bulan sejak Mei lalu, tiga induk dari 12 ekor betina kagungangalem mahesa keturunan Kiai Slamet di Alun-alun Kidul atau ”Alkid”, melahirkan tiga bayi gudel dalam keadaan sehat. Satu ekor di antaranya, lahir betina di kandangnya ditolong dua abdidalem reksa mahesa dan dua orang dokter hewan, Selasa siang pukul 12.00 WIB dari induk Nyai Ngatmi.

Kelahiran seekor bayi betina itu, adalah kali kedua setelah dua ekor yang lahir di hari yang berbeda di bulan Mei, yaitu seekor betina diberi nama Kiai Juru dan seekor jantan diberi nama Kiai Boi. Untuk bayi gudel ketiga akan diberi nama ketika genap sepekan (lima hari), tepat di hari pasaran yang mirip proses adat dalam pemberian nama di kalangan keluarga masyarakat etnik Jawa.

”Soal namanya, tinggal nunggu dawuh dari Gusti Wandan (GKR Wandansari Koes Moertijah) selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) maupun Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta. Nanti akan ada bancakan atau selamatan untuk memberi nama bayi kagungandalem mahesa itu,” jelas KRMH Aditya Soeryo Harbanu selaku pelaksana pengelola Alkid, menjawab pertanyaan Suaramerdekasolo.com, tadi sore.

kebo-bule-kyai-slamet3
PEJANTAN kawanan kagungandalem mahesa Kiai Slamet, tampak sedang dikendalikan para abdidalem srati beberapa saat sebelum akhirnya meninggal, setelah dilukai dengan mata tombak orang tak dikenal di kawasan perumahan Solo Baru, beberapa waktu lalu.(Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Bertambahnya tiga ekor bayi gudel kagungandalem mahesa keturunan Kiai Slamet, kini keraton memiliki 19 ekor mahesa yang dipelihara di kandang kawasan Alkid, terdiri 12 ekor betina dan tujuh ekor jantan. Sedang yang diserahkan untuk dipelihara dua orang abdidalem yang tinggal di Kecamatan Pengging dan Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, ada lebih dari 15 ekor.

Jumlah kawanan mahesa keturunan Kiai Slamet memang fluktuatif dari masa ke masa sejak kali pertama dibawa Sinuhun Paku Buwono II dari pelariannya di pesantren milik Kyai Khasan Besari di Kabupaten Ponorogo (Jatim). Namun di akhir Sinuhun Paku Buwono XII jumeneng nata (1945-2004), jumlahnya cenderung meningkat karena ada yang dipelihara seorang abdidalem di Madiun, setelah menjadi lebih dari sepasang diserahkan kembali ke keraton, begitu juga yang dipelihara seorang warga di Dukuh Tlobong, Desa Langenharjo, Grogol, Sukoharjo tetapi kemudian diserahkan kepada keraton, akhir 2018.

Tiga ekor kerbau yang diserahkan dari Warda Dukuh Tlobong kepada Keraton Surakarta itu, kemudian diserahkan kepada seorang warga di Kecamatan Pengging untuk dipelihara, karena warga itu sudah siap kandang dan sejak lama yang ingin memelihara mahesa keturunan Kiai Slamet yang rata-rata berpigmen bule itu. Meski begitu, memelihara pusaka kelangenandalem mahesa itu memang sudah harus siap sejak awal, karena bila tidak, akan selalu merasa direpotkan.

”Ya kalau dipandang sepintas memang mirip hewan sejenis itu yang masih ada di pedesaan. Tetapi yang ini (keturunan Kiai Slamet), boleh dipandang berbeda bagi yang percaya. Artinya, bisa dianggap menguntungkan atau ngrejekeni bagi yang memang suka merawat keturunan pusaka keraton ini, tetapi akan merasa direpotkan bagi yang memang tidak suka,” ujar KPH Edy Wirabhumi yang mengaku pernah memimpin evakuasi tiga ekor mahesa di Dukuh Tlobong, menjawab pertanyaan Suaramerdekasolo.com di tempat terpisah.

Bertolak dari pernyataan Pimpinan Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS) yang mengaku pernah memimpin evakuasi pejantan mahesa keturunan Kiai Slamet di kawasan perumahan Solo Baru, beberapa tahun lalu, tampak sekali ada dua sikap yang bertolak belakang yang diekspresikan publik secara luas terhadap keberadaan kawanan mahesa kagungandalem Keraton Surakarta.

Banyak yang bersikap sayang, karena memang punya sikap dasar sangat menyayangi binatang, bahkan sikapnya lebih dari itu ketika punya pemahaman yang baik terhadap pusaka keturunan Kiai Slamet dengan segala hal yang dianggapnya luar biasa ketika berkait misalnya, dengan upacara kirab pusaka menyambut Tahun Baru Jawa 1 Sura di lingkar luar Baluwarti yang digelar rutin tiap tehun oleh Keraton Surakarta.

kebo-bule-kyai-slamet4
BEBERAPA ekor keturunan kawanan kagungandalem mahesa Kiai Slamet yang dipelihara warga Dukuh Tlobong, Desa Langenharjo, tampak sedang diangkut menuju rumah abdidalem pemeliharanya yang baru di kawasan Banyudono, Boyolali, setelah pemelihara sebelumnya menyerahkan kembali kepada Keraton Surakarta, beberapa waktu lalu.(Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Bahkan, kata luar biasa itu dialami sendiri oleh mbah Gito, seorang warga Dukuh Babadan, Desa Mdegondo, Grogol, Sukoharjo yang pernah memelihara beberapa ekor kerbau di antaranya ada yang bule, beberapa tahun lalu. Karena, tumahnya sering didatangi orang yang hanya ingin membeli kutu kerbau itu, karena diyakini bisa untuk obat herbal untuk memyembuhkan penyakit tertentu.

”Sampun kaping kalih kula gadah kebo bule keturunan Kiai Slamet. Kula nembe rasanan sore-sore ngoten niku ajeng nyade setunggal, la kok enjing-enjing empun enten tiyang dugi mbeta pcik up ajeng tumbas. Gek regine mbotensah enyang-enyangan. Kula aba pinten ngoten, langsung purun. Ning regine nggih mboten kok terus ompak-ompakan waton aba. Yen ngoten niku pripun nggih. Kula malah gumun,” tutur mbah Gito (70), saat ditemui Suaramerdekasolo.com beberapa waktu lalu, sebelum semua kerbaunya habis dijual, karena lahan menggembala sudah habis untuk pemukiman warga.

Kesan plus-minus

Jika yang diungkap mbah Gito adalah contoh yang sayang, peristiwa yang dialami pejantan keturunan Kiai Slamet yang belasa tahun berkeliaran di seputar kawasan Solo Baru hingga menurunkan beberapa anak dalam beberapa generasi, termasuk kategori benci. Karena, ternyata ada warga yang tidak suka dengan kehadiran pejantan bule yang suka menyambar tanaman pot, menginjak-injak tanaman di sawah/ladang, BAB di mulut gang perumahan dan sifat-sifat hewani lainnya.

kebo-bule-kyai-slamet2
INDUK dan bayinya yang baru dua hari lahir berada di kandang, sementara beberapa ekor kawanan kagungandalem mahesa Kiai Slamet lainnya di kandang kawasan Alun-alun Kidul atau Alkid, sedang melahap daun kangkung yang disuapkan pengunjung yang peduli terhadap satwa jinak kelangenan pusaka Keraton Surakarta itu, tadi sore. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Kagungandalem mahesa jantan itu akhirnya mati setelah perut kirinya ditusuk tombak dan robek beberapa centimeter, meskipun sudah ditolong beberapa dokter hewan yang diundag KPA Winarno Kusumo (alm), atas permintaan KPH Edy Wirabhumi. Peristiwa-peristiwa yang memberi kesan sayang dan benci akibat lepasnya beberapa ekor kagungandalem mahesa dari kandang lama di Gurawan, maupun kandang baru di Alkid, memang hampir selalu terjadi di tahun-tahun silam.

Tetapi sejak semua sudah berkandang di Alkid dan tempat-tempat piaraan lain, ke depan dipastikan tidak akan ada lagi kesan-kesan bernada plus-minus itu, karena kemudian ditemukan bentuk-bentuk perawatan yang lebih baik yang didasari satu sikap dasar tasa sayang dan sayang kehidupan. Karena, kawanan mahesa keturunan Kiai Slamet itu juga butuh hidup. (Won Poerwono)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here