16 SMP di Karanganyar Masih Kekurangan Siswa

hari-pertama-masuk-sekolah
FOTO ILUSTRASI

*Total Kekurangan 660 Siswa

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Setelah dilakukan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) offline yang didelegasikan kepada masing-masing sekolah usai PPDB online beberapa waktu lalu, kini dari 1.074 siswa yang kurang di 29  SMP Negeri di Karanganyar, Jateng, kini tinggal 16 sekolah, dengan kekurangan mencapai 660 siswa saja.

‘’Sebanyak 13 sekolah SMP lainnya sudah bisa terpenuhi sesuai kuota yang ditetapkan.  Kebanyakan memang SMP pinggiran, namun ada juga SMP di perkotaan seperti SMP 3 Karanganyar, meski hanya sedikit kekurangannya. Sekolah itu hanya kurang 3 siswa, kuotanya 288 hanya mendapat 285 siswa,’’ kata Agus Haryanto, Sekretaris Dinas Dikbud, Jumat.

Terbanyak di SMP Negeri Jumapolo 2 dengan kuota 192 hanya mendapatkan 97 siswa, kurang  95 anak, kemudian SMP Jumapolo 2 dari kuota  menetapkan kuota 96 mendapatkan 43, SMP Jatipuro 3 dengan kuota 128 mendapatkan 52 siswa, SMP Jumapolo 2 dengan kuota 128 mendapat siswa hanya 49 anak, SMP Jumantono 3 menetapkan 128 hanya mendapatkan 38 anak.

‘’Lainnya kekurangan namun hanya sekitar di bawah 50-an dan banyak yang hanya di bawah 10 siswa kurangnya. Ada kebijakan dari Kadinas bahwa mereka yang kurang tetap berjalan biasa proses belajar mengajarnya, dan tidak digabung karena jika digabung berlawanan dengan semangat zonasi yang ingin mendekatkan siswa pada kampungnya,’’ kata Agus.

Semangat zonasi

Dia mengatakan, sesuai dengan kebijakan, maka sistem online ini dinilai sudah maksimal dan sesuai dengan semangat zonasi, sehingga akan dipertahankan sampai tahun depan. Paling tidak selama kebijakan pusat tidak berubah, maka sistem online dalam PPDB ini dinilai paling bagus.

Tentu jika ada kebijakan baru yang diambil oleh pejabat baru, mungkin kebijakan ini akan diubah. Namun sementara masih ditetapkan untuk dipakai lagi pada tahun berikutnya, sebab hasilnya lebih fair dan memuaskan semua pihak.

Ditanya sebab sekolah itu kekurangan siswa, Agus mengatakan, selama ini sekolah itu memang menjadi langganan kekurangan siswa. Selain letaknya yang di pinggiran sehingga agak jauh dari lingkungan desa, juga jumlah lulusan SD di zona tersebut memang sudah menipis dan tertampung di sekolah lain.

SMP Jumantono 3 misalnya, letaknya berdekatan dengan SMP Matesih 1. Masyarakat lebih memilih menyekolahkan anaknya ke SMP 1 Matesih karena dinilai lebih dekat dan harus diakui lebih bagus. Ini juga menjadi tantangan guru untuk menunjukkan sekolahnya bagus.

Juga ada yang sudah mendaftar di sekolah lain, namun tidak diterima sehingga dia harus menunggu sampai online selesai sehingga dia bisa mengikuti offline di sekolah di dekatnya. Dan itu memang sudah biasa terjadi.

Ada juga sebagian anak yang memilih sekolah di sekolah swasta yang memang berbayar, namun bagus kualitasnya, misalkan sekolah keagaan seperti SMP Muhammadiyah Darul Arqom, SMP Insan Kamil, atau SMP Muhammadiyah Program Khusus di Solo, SMP Bintang Laut dan SMP Pangudi Luhur yang memang bagus.

Baginya tidak masalah sepanjang dari hasil penyisiran petugas ternyata sudah semua anak usia sekolah sudah terdaftar semua dan tertampung. Baik sekolah di swasta maupun negeri tidak masalah.(joko dh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here