Abimanyu Grogol Di Pendapa TBS

Wayang-Kulit-Purwa
WAYANG GOLEK;Salah satu adegan pakeliran klasik wayang kulit purwa di pendapa TBS, dengan dalang Ki Sutiyo dari Kabupaten Klaten, Kamis malam lalu. Sebuah boneka wayang golek ikut dihadirkan dalam adegan limbukan. (suaramerdekasolo.com/Sri Wahjoedi)

*Pakeliran Klasik Wayang Kulit

SOLO,suaramerdekasolo.comAbimanyu kecil ketika diboyong ke Kerajaan Mandura oleh Prabu Baladewa bisa bermain-main di hutan dan berburu. Namun di balik itu, sebenarnya putera Arjuna itu hanyalah sarana Baladewa untuk mendekatkan Sembadra ibu Abimanyu kembali dekat dengan Burisrawa, kesatria Astina.

Itulah sanggit yang dituangkan dalang Ki Sutiyo dari Kabupaten Klaten saat menampilkan pergelaran wayang kulit Jumat Kliwon di pendapa ageng Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta (TBS), Kamis malam lalu.

Pentas rutin setiap malem Jumat Kliwon yang diadakan TBS itu bentuk pelestarian wayang kulit. Tampaknya Ki Sutiyo masih kental dengan pakeliran klasik di era 1960-1980 an.
Sajiannya menunjukkan sajian yang menarik dan tampak merunut pakeliran yang runtut adegan demi adegan.

Menurut dalang Ki Maryono Brahim yang selalu menyaksikan pergelarn Jumat Kliwon, garapan Ki Sutiyo memang termasuk idealis dan kental dengan bentuk pakeliran klasik yang pernah dikenal di era 1960-1980 an.
”Ya garapannya memang cukup disiplin mengusung bentuk pada era 1960-1980. Pakelirannya sangat klasik dengan tetap menghadirkan garapan yang runtut. Adegan demi adegan berlangsung runtut demikian juga dengan iringan musiknya. Kalau garapan gendhing-gendhing sudah disiapkan tanpa narasi dalang,” katanya.

Bentuk adegan budhalan prajurit Kurawa yang memboyong Sembodro ke Kerajaan Astina, digarap dengan runtut lewat tampilan permainan wayang yang apik. Pakeliran diawali di Kerajaan Dwarawati saat pertemuan Prabu Kresna dan kakaknya Prabu Baladewa. Kresna menyampaikan kalau dia memboyong Sembodro adiknya yang ditinggal pergi suaminya, Arjuna. Sembodro diboyong ke Dwarawati bersama anaknya, Abimanyu yang masih kecil.
Melihat itu, Baladewa merasa prihatin dan bermaksud menghibur adiknya dan keponakannnya itu di kerajaannya yaitu Mandura. Akhirnya Sembodro dan Abimanyu diboyong ke Mandura oleh Baladewa. Rencana itu tampaknya hanya taktik Baladewa agar Sembodro bisa dipertemukan dengan Burisrawa yang sejak muda menyintai Sembodro.
Di luar kerajaan Dwarawati, Baladewa dan Sembodro sudah ditunggu oleh pasukan prajurit Astina yang dipimpin Basukarna dan patih Sengkuni. Mereka membawa kereta kencana untuk memboyong Sembodro ke Astina. Namun rencana itu agaknya dicium oleh Sombo, putera Kresna dan patih Setyaki.

Dengan membawa prajurit keduanya curiga ketika Sembodro dinaikkan kereta kencana dari Astina. Peperangan tidak terelakkan ketika Sombo mengadang perjalanan rombongan prajurit Astina itu. Kecurigaan itu didasari peristiwa sebelumnya yang setiap kali ditinggal pergi Arjuna, mesti dimanfaatkan untuk mendekatkan Sembodro kepada Burisrawa.
Semua itu merupakan rencana yang selalu dibuat oleh patih Sengkuni. Selain untuk menjodohkan Sembodro dengan Burisrawa juga membuat trah Pandawa resah.(Sri Wahjoedi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here