Kelompok Masyarakat Boleh Jaring Cawali Cawawali, Asalkan ?

penghitungan-suara-pemilu

 

*Hasil Penjarigan Aliansi Masyarakat Madani dan Umum

SOLO,suaramerdekasolo.com– Sekelompok lapisan masyarakat Solo Raya yang mengatasnamakan dirinya Aliansi Masyarakat Madani (AMM) baru saja merilis nama-nama yang dijaring untuk maju dalam pemilihan pilkada Solo 2020.
Nama-nama ini merupakan representasi dari keinginan masyarakat khususnya Solo yang menginginkan tampilnya pemimpin yang baru.

Mereka antara lain, Joko Riyanto (ormas), Muhammad Taufiq (pengacara), Bambang Setiaji (akademisi), Abah Kasoem (tokoh masyarakat), Muhammad Dai, dan beberapa nama lainnya.

Sebuah polling yang digelar sebuah situs ikut memunculkan muka-muka anyar yang tentu saja turut menghangatkan suasana jelang pilkada Solo. Situs ini mengungkap nama rektor UNS Prof Jamal Wiwoho, aktivis perempuan Warih, politisi PDI Perjuangan Hartanti, memuncaki polling sebagai figur yang dikehendaki maju sebagai orang nomor satu di Surakarta.

PDI Perjuangan pemilik mayoritas suara parpol dan kursi di legislatif tak mau ketinggalan. Partai moncong putih itu malahan sudah menjaring empat nama, dua di antaranya Achmad Purnomo (Wakil Wali Kota Surakarta), dan Teguh Prakoso (Sekretaris DPC PDI Perjuangan).
Ada nama-nama anyar yang muncul di media seperti Supriyanto (Partai Gerindra), Abdullah AA (Partai Hanura), pengusaha yakni Henry Indraguna dan Kusumo Putra yang menyatakan siap maju berkiprah.

Melihat fenomena ini Sekretaris DPW PAN Jateng Umar Hasyim (UH) mengatakan, munculnya nama-nama yang dikehendaki masyarakat Solo, atau atas inisiatif sendiri, perorangan yang bertarung dalam pilkada 2020 Solo ini menunjukkan dinamisasi politik di Kota Bengawan. Pengusulan nama-nama itu menurut Wakil Ketua DPRD Kota Surakarta sebagai hal lumrah jelang suksesi lima tahunan.

Namun demikian, UH berpendapat mengenai penjaringan cawali maupun cawawali oleh AMM, organisasi atau kelompok apapun, secara prinsip bisa dilakukan.

“Tapi secara regulasikan harus melalui parpol atau jalur independen,” terangnya kepada suaramerdekasolo.com, Sabtu (20/7).

Jalur independen

Maka lanjut UH, alangkah baiknya kalau organisasi-organisasi yang mengadakan penjaringan termasuk AMM berkomunikasi dan berinteraksi dengan parpol yang ada.

“Terutama dengan parpol yang mendapatkan wakil di legislatif. kalau hasil penjaringannya mau diusulkan lewat parpol, kecuali kalau mau lewat jalur independen,” ungkapnya.

Lebih lanjut UH menandaskan, parpol yang mendudukan kadernya di legislatif memiliki kans lebih besar dalam mengajukan nama cawali cawawali seperti PDI Perjuangan, dan partai lain, walaupun partai lain di luar PDI Perjuangan harus bergabung (berkoalisi) agar bisa mengusung nama sendiri di pilkada nanti.
Bisa saja nama yang diusung nanti dari internal parpol pengusung atau dari usulan/penjaringan kelompok masyarakat tadi, itu bisa fleksibel.
Tapi kalau parpol sudah memiliki kandidat di luar yang dijaring kelompok masyarakat, tentunya usulan kelompok ini tidak bisa dipakai.
“Nah jalur yang bisa dipakai adalah jalur independen dan itu sudah diatur dalam perundang-undangan,” tutup UH. (Budi Santoso)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here