Perkumpulan Para Wayahdalem yang ”Sarwo Becik”

sarwo-kecik-keraton-kasunanan-solo1
FOTO ILUSTRASI

*Generasi Ketiga yang Sudah Siap

KETIKA friksi di lingkungan keluarga penerus Dinasti Mataram dimulai sepulang Sinuhun Paku Buwono (PB) XII (2004) yang tak berkesudahan hingga kini, ternyata tidak hanya mengakibatkan pecahnya tali persaudaraan, terganggunya hubungan dengan eksternal khususnya layanan pada publik dan rusaknya tatanan adat di dalam. Melainkan ada pula kerusakan yang fundamental dari tahapan proses regenerasi yang secara naluriah dan alamiah terjadi dalam setiap kehidupan, yaitu menjaga eksistensi (lembaga Dinasti) dan pelestarian nilai-nilai (fundamental/monumental).

Hal yang fundamental ikut rusak akibat insiden ”Raja Kembar” di tahun 2004 itu, adalah terhentinya aktivitas perkumpulan wayahdalem (PB XII) yang dibentuk atas kesepakatan bersama di tahun 2013, bernama ”Sawo Kecik”. Perkumpulan wayahdalem itu dibanetuk sekitar 10 orang, diketuai GKR Timoer Rumbai Kusumodewayani (putri Sinuhun PB XIII), dan memiliki anggota sekitar 30 orang (waktu itu).

Latar belakang lahirnya perkumpulan itu, ternyata karena saran dan dorongan kalangan orangtua mereka atau generasi kedua setelah Sinuhun PB XII, baik dalam hubungan langsung dengan para kerabat sentana maupun secara langsung dari GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng. Bahkan bisa dikatakan, saran sekaligus yang menyangkut teknis pengorganisasian, panduan bentuk-bentuk aktivitas bertemu, teknis pelaksanaan aktivitas khususnya beksa (tari) hingga penyediaan sarana dan prasarananya, lebih banyak datang dari Gusti Moeng selaku Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan sekaligus Ketua Sanggar Pawiyatan Beksa Keraton Surakarta.

”Jadi, banyak sekali fasilitas kegiatan yang diorganisasi dan diinisiasi oleh tante Moeng atau Gusti Wandan (GKR Wandansari Koes Moertijah). Saya yang dituakan di antara para wayahdalem yang bergabung, jelas ikut menyemangati. Karena, saya juga penari dan kebetulan anak tertua dari Sinuhun PB XIII,” jelas GKR Timoer menjawab pertanyaan Suaramerdekasolo.com tadi pagi.

Mudahnya kalangan wayahdalem ini melembaga dalam perkumpulan Sawo Kecik, karena memang para cucu Sinuhun (PB XII) itu yang hampir tiap hari berada di lingkaran habitat seni budaya yang hidup di keraton. Karena faktor kedekatan dan pengaruh positif baik dari tempat (keraton) maupun aktivitas kalangan orangtua mereka, para wayahdalem ini tak terasa ”terseret” arus aktivitas seni budaya yang sejak 2004 atau bahkan sejak sebelumnya mengalir deras di keraton.
Arus deras itu adalah aktivitas gladen beksa tiap Rabu dan Sabtu di Bangsal Smarakata atau Pendapa Sasanamulya, gladen karawitan di Bangsal Smarakata dan gladen tari Bedaya Ketawang khusus untuk para penari repertoar tarian sakral itu yang digelar tiap Anggara Kasih atau Selasa Kliwon di Pendapa Sasana Sewaka.

Sebarkan nilai positif

Jadi, sekitar 30-an wayahdalem yang orangtuanya banyak sibuk di aktivitas seni budaya dan bekerja di beberapa kantor pengageng bebadan yang ada (waktu itu), seakan-akan tidak pernah lepas dari kebiasaan sehari-hari melihat, mendengar dan merasakan aktivitas seni tari sekaligus karawitan baik secara audia maupun visual, bahkan terlibat secara fisik berlatih hingga memperagakan langsung di panggung-panggung besar seperti event-event Festival Keraton Nusantara (FKN) yang diikuti Keraton Surakarta sejak yang pertama di Solo (1995), hingga di Kota Padang (Sumbar) 2018 lalu.

”Jadi, tak terasa kami-kami para wayahdalem ini sudah ‘terseret’ sejauh itu. Bahkan kami ini seakan sudah merasa menjadi bagian dari tim kesenian keraton. Kami merasa bangga dengan posisi dan status kami. Sekarang, kami tetap bangga karena merasa diberi kepercayaan dan tanggungjawab untuk meneruskan, melestarikan dan menyebarkan nilai-nilai positif untuk masyarakat luas, bangsa dan negara, bahkan sampai jauh di luar negeri,” ujar eks penari Bedaya Ketawang, ibu dari BRM Soeryo Pramuditho Adiwiwaha (11).

Perihal kesadaran terhadap tugas dan tanggung jawab sebagai wayahdalem yang mengemban misi dan tujuan menjaga eksistensi dan pelestarian kraton dengan segala produknya, memang sudah banyak dirasakan kalangan wayangdalem secara luas. Namun sayang, mungkin hanya 30-an atau kurang lebih separo wayahdalem yang terlahir dari 35 putra-putri Sinuhun PB XII yang tampak selalu aktif menggeluti apa yang seharusnya menjadi tugas, kewajiban dan tanggungjawabnya.

Dan secara kebetulan lagi, generasi ketiga setelah PB XII atau para wayahdalem yang aktif dan intensif menggeluti seni budaya warisan leluhur itu banyak datang dari keturunan garwadalem KRAy Pradapaningrum. Sementara, generasi ketiga yang terlahir dari putra-putri lima garwadalem lain yaitu KRAy Mandayaningrum, KRAy Rogasmara, KRAy Retnodiningrum, KRAy Pujaningrum dan KRAy Kusumaningrum nyaris tidak ada, karena rata-rata berada di luar keraton dan seakan menjauh dari habitatnya di keraton.

sarwo-kecik-keraton-kasunanan-solo2
FOTO ILUSTRASI

”Saya tidak tahu mengapa bisa begitu. Tetapi faktanya, kok banyak di antara saudara-saudara kami wayahdalem yang tinggal di luar keraton bahkan jauh sekali, karena mengikuti orangtua mereka. Jadi, ya hanya kami-kami putra-putri dari garwadalem KRAy Pradapaningrum yang aktif mengikuti aktivitas di keraton, terutama gladen tari dan karawitan,” ujar calon putra mahkota KGPH Mangkubumi yang ditemui di tempat terpisah.

Dari cerita GKR Timoer (40), KGPH Mangkubumi (34) dan KRMH Suryo Kusumo Wibowo (35), tidak hanya berlatih menari dan karawitan yang dilakukan di keraton, tentunya sebelum keraton ”ditutup” untuk sebagian besar keluarga generasi kedua dan ketiga dari garwadalem KRAY Pradapaningrum mulai 15 April 2017. Banyak hal sudah disiapkan untuk sejumlah wayahdalem yang tergabung dalam Sawo Kecik, misalnya terlibat langsung dalam pengorganisasian pada acara-acara dan bagian-bagian upacara adat yang digelar keraton, misalnya resepsi menerima tamu, upacara wisuda, kirab dan sebagainya.

Pelestari keraton

Yang tergabung dalam Sawo Kecik, hampir semuanya sudah magang sebagai unsur pimpinan di sejumlah bebadan atau lembaga ”kabinet”, misalnya GKR Timoer Wakil Pengageng Keputren), KGPH Mangkubumi (Pengageng Kartipura), KRMH Suryo Kusumo Wibowo (Wakil Pengageng Sasana Prabu), KRMH Suryo Harbanu (Pelaksana Pengelola Alun-alun Kidul) dan sebagainya. Selain terlibat dalam latihan yang berlanjut ke pentas-pentas, menjadi anggota Sawo Kecik banyak terlibat forum-forum diskusi/dialog yang dinisiasi sendiri maupun kalangan orangtua, terutama Gusti Moeng selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) maupun Pengageng Sasana Wilapa yang punya otoritas urusan di dalam dan ke luar terutama seni budaya, seperti di FKN, mengingat kedudukannya sebagai Sekjen FKIKN.

”Sebenarnya kami para wayahdalem tidak ingin terlibat dalam konflik yang terjadi sejak 2004, dan banyak melibatkan kalangan orangtua kami. Tetapi, bagaimanapun tetap terpengaruh juga. Kami berusaha tidak ingin larut dalam perpecahan yang terjadi. Kami justru ingin bersatu dan solid sebagai wayahdalem, tak perlu memandang dari garwadalem yang mana. Kami ingin bersatu lewat Sawo Kecik. Karena, kami semua sadar sebagai generasi yang akan meneruskan eksistensi dan pelestarian keraton. Kami sudah memulai menjalin komunikasi dengan beberapa wayahdalem di luar keturunan eyang KRAy Pradapaningrum,” jelas KRMH Suryo Kusumo Wibowo yang makin aktif terlibat dalam kegiatan Gusti Moeng di luar keraton.

Melihat bagaimana cara mereka belajar memahami posisi diri dan tempat yang menjadi habitatnya, kemudian menjalankan tugas, kewajiban dan tanggungjawab besar di keraton, kesimpulan sementara mereka menyatakan siap untuk menerima estafet tugas-tugas pelestarian dan menjaga eksistensi keraton itu. Mereka semua berharap, semoga mendung perselisihan ini segera menyingkir sirna, semua putra-putri Sinuhun PB XII segera rukun dan bersatu lagi, agar proses regenerasi dari generasi Gusti Moeng ke generasi ketiga lancar dan terwujud, mengingat tantangan Keraton Mataram ing Surakarta ke depan sangatlah berat. (Won Poerwono).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here