Perkumpulan Para Wayahdalem yang ”Sarwo Becik”

0
246
sarwo-kecik-keraton-kasunanan-solo1
FOTO ILUSTRASI

*Generasi Ketiga yang Sudah Siap

KETIKA friksi di lingkungan keluarga penerus Dinasti Mataram dimulai sepulang Sinuhun Paku Buwono (PB) XII (2004) yang tak berkesudahan hingga kini, ternyata tidak hanya mengakibatkan pecahnya tali persaudaraan, terganggunya hubungan dengan eksternal khususnya layanan pada publik dan rusaknya tatanan adat di dalam. Melainkan ada pula kerusakan yang fundamental dari tahapan proses regenerasi yang secara naluriah dan alamiah terjadi dalam setiap kehidupan, yaitu menjaga eksistensi (lembaga Dinasti) dan pelestarian nilai-nilai (fundamental/monumental).

Hal yang fundamental ikut rusak akibat insiden ”Raja Kembar” di tahun 2004 itu, adalah terhentinya aktivitas perkumpulan wayahdalem (PB XII) yang dibentuk atas kesepakatan bersama di tahun 2013, bernama ”Sawo Kecik”. Perkumpulan wayahdalem itu dibanetuk sekitar 10 orang, diketuai GKR Timoer Rumbai Kusumodewayani (putri Sinuhun PB XIII), dan memiliki anggota sekitar 30 orang (waktu itu).

Latar belakang lahirnya perkumpulan itu, ternyata karena saran dan dorongan kalangan orangtua mereka atau generasi kedua setelah Sinuhun PB XII, baik dalam hubungan langsung dengan para kerabat sentana maupun secara langsung dari GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng. Bahkan bisa dikatakan, saran sekaligus yang menyangkut teknis pengorganisasian, panduan bentuk-bentuk aktivitas bertemu, teknis pelaksanaan aktivitas khususnya beksa (tari) hingga penyediaan sarana dan prasarananya, lebih banyak datang dari Gusti Moeng selaku Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan sekaligus Ketua Sanggar Pawiyatan Beksa Keraton Surakarta.

”Jadi, banyak sekali fasilitas kegiatan yang diorganisasi dan diinisiasi oleh tante Moeng atau Gusti Wandan (GKR Wandansari Koes Moertijah). Saya yang dituakan di antara para wayahdalem yang bergabung, jelas ikut menyemangati. Karena, saya juga penari dan kebetulan anak tertua dari Sinuhun PB XIII,” jelas GKR Timoer menjawab pertanyaan Suaramerdekasolo.com tadi pagi.

Mudahnya kalangan wayahdalem ini melembaga dalam perkumpulan Sawo Kecik, karena memang para cucu Sinuhun (PB XII) itu yang hampir tiap hari berada di lingkaran habitat seni budaya yang hidup di keraton. Karena faktor kedekatan dan pengaruh positif baik dari tempat (keraton) maupun aktivitas kalangan orangtua mereka, para wayahdalem ini tak terasa ”terseret” arus aktivitas seni budaya yang sejak 2004 atau bahkan sejak sebelumnya mengalir deras di keraton.
Arus deras itu adalah aktivitas gladen beksa tiap Rabu dan Sabtu di Bangsal Smarakata atau Pendapa Sasanamulya, gladen karawitan di Bangsal Smarakata dan gladen tari Bedaya Ketawang khusus untuk para penari repertoar tarian sakral itu yang digelar tiap Anggara Kasih atau Selasa Kliwon di Pendapa Sasana Sewaka.

Sebarkan nilai positif

Jadi, sekitar 30-an wayahdalem yang orangtuanya banyak sibuk di aktivitas seni budaya dan bekerja di beberapa kantor pengageng bebadan yang ada (waktu itu), seakan-akan tidak pernah lepas dari kebiasaan sehari-hari melihat, mendengar dan merasakan aktivitas seni tari sekaligus karawitan baik secara audia maupun visual, bahkan terlibat secara fisik berlatih hingga memperagakan langsung di panggung-panggung besar seperti event-event Festival Keraton Nusantara (FKN) yang diikuti Keraton Surakarta sejak yang pertama di Solo (1995), hingga di Kota Padang (Sumbar) 2018 lalu.

Halaman: First |1 | 2 | 3 | Selanjutnya → | Last

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here