Di Ketinggian 200 Meter, Parasut Gagal Mengembang, Ini Simulasi Manuver Darurat Paralayang

0
21
simulasi-paralayang
PERAHU PENYELAMAT : Penerbang paralayang turun dari perahu penyelamat setelah mengikuti Simulation of Incident in Vol paralayang di Waduk Gajahmungkur, Kabupaten Wonogiri, Sabtu (21/7). (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)
WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Sebuah paralayang terbang mengitari Obyek Wisata Sendang Asri Waduk Gajahmungkur (OWSA-WGM) Kabupaten Wonogiri, Sabtu (21/7). Sang penerbang tampaknya sedang mencari tempat aman untuk mendarat.
 
Namun, ketika masih berada pada ketinggian sekitar 200 meter dari permukaan tanah, parasut yang digunakan berputar cepat tak terkendali. Tidak lama kemudian, parasutnya terlipat. 
 
Sang penerbang berusaha membuka parasut cadangannya, tetapi tidak berhasil mengembang dengan sempurna. Alhasil, atlet tersebut terjatuh di perairan Waduk Gajahmungkur. Tidak berapa lama, dua perahu cepat meluncur ke lokasi jatuhnya penerbang paralayang tersebut. Dia berhasil diselamatkan dan dinaikkan ke perahu oleh para tim SAR.
 
Ya, adegan tersebut hanyalah simulasi yang dipraktikkan saat kegiatan Simulation of Incident in VOL (SIV) atau pelatihan simulasi untuk menghadapi insiden-insiden darurat paralayang. Pelatihan itu diadakan di Puncak Bukit Joglo dan OWSA-WGM Desa Sendang, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, 14-20 Juli.
 
Para peserta pelatihan memang sengaja membuat manuver seakan-akan sedang mengalami <I>stall<P> atau kehilangan daya angkat dan <I>spin<P> atau berputar tak terkendali ketika berada pada ketinggian 200 meter dari permukaan tanah. “Perasaan takut atau was-was pasti ada, itu manusiawi. Tetapi dengan berlatih, kita bisa menghadapi kejadian-kejadian tidak terduga seperti ini,” kata Heri, salah seorang peserta dari Wonogiri.
 
Teguh Maryanto, instruktur atlet DKI Jakarta menerangkan, insiden tidak terduga terkadang terjadi ketika atlet berada di udara. “Dalam pelatihan ini, atlet dilatih melakukan manuver-manuver sehingga mereka punya keahlian dalam menghadapi insiden-insiden tertentu dan meminimalisasi kecelakaan,” terangnya.
 
Puncak Bukit Joglo mempunyai ketinggian lebih dari 600 meter dari permukaan laut (dpl), sehingga mereka mempunyai banyak kesempatan untuk melakukan berbagai manuver. “Wonogiri sangat ideal untuk SIV tranning. Para atlet juga sudah mengakui, bahwa Wonogiri sangat potensial untuk terbang cross country (terbang jarak jauh),” imbuhnya.
 
SIV trainning tersebut diikuti 34 peserta dari berbagai daerah di tanah air. Antara lain NTB, DKI Jakarta, Jatim, Bali, Jateng, dan sebagainya. Sebelumnya, pelatihan serupa telah diadakan di Manado, Desember 2018 lalu. (Khalid Yogi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here