Pedagang CFD Dilarang di Jalur Utama, Pemotor Ikut Dikeluhkan

pedagang-cfd-klaten
JALUR LAMBAT: Pedagang kaki lima (PKL) di CFD pindah ke jalur lambat, Minggu (21/7) tetapi pengendara sepeda motor masih nekat. (suaramerdekasolo.com/Achmad H)

KLATEN,suaramerdekasolo.comRatusan pedagang kaki lima (PKL) di arena car free day (CFD) dilarang berjualan di jalur utama Jl Pemuda Tengah, Klaten, Jateng. Para pedagang mengeluhkan kebijakan itu sebab tidak diikuti penindakan pengendara sepeda motor.
Salah seorang pedagang, Oni mengatakan mulai tanggal 21 Juli ini pedagang dilarang berjualan di jalur utama. ” Ada surat edarannya pekan lalu dan sudah mulai pindah,” jelasnya, Minggu (21/7).

Surat yang ditandatanghani Kepala Dinas Perhubungan Pemkab Klaten tanggal 12 Juli itu sudah ditaati pedagang. Pedagang semua pindah ke jalur lambat tetapi dampaknya dagangan sepi. Warga yang datang ke CFD tidak banyak yang membeli sebab harus ke jalur lambat. Omset pedagang pun menurun tidak seperti sebelumnya. Namun karena itu kebijakan Pemkab, pedagang tetap berupaya mentaati. Meskipun di jalur lambat lapaknya lebih sempit dibandingkan di jalan utama. Ada pedagang yang mencoba berjuala di trotoar tetapi juga sama nasibnya sebab ada pot dan tanaman.

Pembeli tetap enggan datang karena lokasi tidak nyaman. Seharusnya pelarangan itu sudah sejak dulu saat pedagang masih sedikit. Dengan jumlah pedagang yang sudah semakin banyak, dan lokasi sempit, keuntungan pedagang turun drastis. Joko, pedagang lain mengatakan selaku pedagang dia tidak menolak penataan. Namun tidak hanya pedagang yang ditata, tetapi yang lain juga harus ditata.

Bersedia Pindah

Anton, pedagang lain mengatakan meski pedagang sudah bersedia pindah tetapi para pengendara sepeda motor masih ada yang nekat melintas di jalur lambat sehingga lokasi berjualan menjadi sempit dan pembeli enggan mendekat. ” Kami sudah nuruti pindah tetapi kenapa jalur lambat tempat berjualan kami masih dilalui motor,” ungkapnya.

Mestinya petugas bersikap adil sehingga jika jalur lambat hanya untuk pejalan kaki maka sepeda motor harus dilarang. Pedagang di sekitar alun-alun juga mengeluhkan adanya surat edaran larangan berjualan di hari Minggu tanggal 28 Juli. Dalam edaran Pemkab, PKL di sekitar alun-alun diliburkan karena akan digunakan untuk acara HUT Kabupaten Klaten ke 215. Idealnya larangan berjualan itu menyeluruh, tidak hanya di sekitar alun-alun.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan Pemkab Klaten, Slamet Widodo, pelarangan berjualan di jalan utama itu untuk pengkondisian dalam rangka upacara Minggu depan.

” Namun kebijakan itu akan seterusnya. Termasuk nantinya delman digeser ke utara,” katanya. Momentum HUT kali ini akan dimanfaatkan untuk penataan. Khusus sepeda motor boleh melintas hanya untuk memotong jalan tetapi mesin harus dimatikan. Diaku kontrol kebijakan itu masih belum sempurna. Termasuk masih ada warga yang nekat meletakkan barang di atas tanaman yang ada sehingga bisa merusak tanaman. (Achmad H)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here