Prajurit Keraton Surakarta Selalu Datang dengan Full Team

prajurit-keraton-surakarta1
PRAJURIT KERATON SURAKARTA dalam kekuatan penuh 9 bregada di bawah otoritas Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta, ketika keluar dari keraton melewati Panggung Sangga Buwana untuk keperluan prosesi kirab upacara adat yang selalu dikerahkan, sebelum 2017. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Jadi Simbol yang Membanggakan

BEREDARNYA video di media sosial beberapa saat setelah berlangsung kirab karnaval peringatan HUT Bhayangkara di Semarang yang digelar institusi setempat, beberapa hari lalu, sungguh membuat publik secara luas yang menyaksikan langsung maupun tidak langsung, menjadi makin prihatin. Rasa malu, kasihan, rasa tak percaya bercampur berbagai pertanyaan yang antara lain mencari sebab mengapa pandangan visual di peristiwa karnaval itu sampai seperti itu?

Bila memang benar yang tampak di rekaman video itu tidak lebih dari 20 orang prajurit keraton yang mengenakan seragam atas warna merah, hijau dan hitam, tentu membuat publik benar-benar prihatin. Apalagi bagi kalangan keluarga besar Lembaga Dewan Adat (LDA) keraton, yang selama ini selalu berupaya menunjukkan eksistensi Keraton Mataram ing Surakarta yang ingin tetap menjadi kebanggaan bersama masyarakat bangsa, bahkan lebih luas lagi, kini dan ke depan serta sepanjang masa.

Sebab, Keraton Surakarta Hadiningrat yang sudah dikenal 200 tahun sebelum NKRI dan 74 tahun sejak bergabung dengan republik ini, selalu ingin tetap terjaga tegak berdirinya sebagai bagian dan bunga pengisi taman Nusantara, mengharumkan nama bangsa di tengah pergaulan dengan bangsa-bangsa lain.

”Maka begitu saya melihat (video) rekaman itu, rasanya saya menjadi semakin malu. Sebagai bagian dari masyarakat adat penerus Dinasti Mataram, saya makin ciut, sedih dan prihatin. Publik tentu akan bertanya-tanya, masak sih, Keraton Surakarta seperti itu? Mengeluarkan prajurit simbol kebanggaan kok seperti anak-anak yang sedang bermain-main? Ini tidak hanya kami dan institusi keraton yang malu. Ibi bisa mempermalukan pihak lain,” tunjuk GKR Wandansari Koes Moertijah selaku Ketua LDA Keraton Surakarta mengritik tajam aksi para ”prajurit keraton” dalam video rekaman karnaval di Semarang itu, menjawab pertanyaan Suaramerdekasolo.com, tadi pagi.

prajurit-keraton-surakarta2
SEDIKITNYA TUJUH BREGADA prajurit Keraton Surakarta lengkap dengan vandel Sri Radya Laksana dan panji-panji kebesaran identitas pasukan, tampak bersiap untuk menjalani kirab peserta kontingen pada event FKN ke-11 di Kora Padang (Sumbar), tahun lalu.(Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Kebanggan Nyaris Sirna 

Pemandangan dalam rekaman peristiwa karnaval menjadi sungguh kontras, ketika dibandingkan rekaman atau hasil pandangan mata secara langsung pada saat sekitar 100 prajurit keraton mengikuti kirab karnaval peringatan HUT Kabupaten Ngawi dan di beberapa kota di Jatim, juga di setiap event Festival Keraton Nusantara (FKN), misalnya. Kemegahan dan kebanggaan publik terhadap institusi keraton nyaris sirna bila melihat aksi prajurit di acara kirab di sepanajang rute jalan protokol di Kota Semarang itu, karena tanpa terlihat ada vandel simbol kebesaran Sri Radya Laksana ditunjukkan, peralatan yang diperlihatkan korp musik hanya terompet (1 buah), snar drum (2 buah) dan bas drum (1 buah), tetapi tanpa seruling sama sekali.
Cara-cara menyajikan kekayaan seni budaya yang sangat khas tetapi terkesan ”asal ada” itu, ternyata mengulang sajian yang hampir sama ketika berlangsung ritual kirab prosesi hajaddalem Gunungan Garebeg Syawal untuk merayakan lebaran, beberapa waktu lalu. Meski jumlah bregada (brigade) prajuritnya lebih lengkap, tetapi korp musik yang memimpin langkah barisan justru tanpa terompet sama sekali. 

”Yang jelas, itu bukan bagian dari prajurit saya. Itu bukan anak buah saya. Karena, sebagai manggala (komandan) prajurit, saya tidak pernah diberi mandat untuk dua event itu. Karena, ya memang bukan wilayah saya,” jelas RT Alex Pradjono (57) selaku manggala prajurit keraton di jajaran bebadan yang dipimpin GKR Wandansari Koes Moertijah selaku Pengageng Sasana Wilapa, yang dimintai konfirmasi Suaramerdekasolo.com di tempat terpisah.

prajurit-keraton-surakarta3
DENGAN PANJI-PANJI kebesaran Keraton Surakarta dan vandel Sri Radya Laksana lambang keraton, 8 bregada prajurit keraton memandu barisan peserta karnaval kirab Gelar Budaya Kelurahan Sriwedari, ketika melewati perempatan Pasar Kembang, Sabtu siang (20/7). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Jangan mempermaukan diri 

Penjelasan itu dibenarkan staf administrasi LDA, KRT Arwanto Dipuro yang secara administratif mengurus pengiriman/penugasan prajurit yang dipimpin RT Alex Pradjono kemanapun. Dalam catatannya, keraton selalu menjaga nama baik dan kebesarannya ketika hadir dan tampil di manapun serta untuk kebutuhan apapun yang membanggakan dan mendapatkan penghormatan yang layak.

Bahkan, selama mengurus persiapan pemberangkatan maupun saat operasional di lapangan, Wakil Pengageng Sasana Prabu KRMH Suryo Kusumo Wibowo mengaku tidak pernah mengabaikan perintah yang datang dari Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa. Inti perintah itu kurang lebih jangan sampai simbol-simbol keraton utamanya prajurit, tampil asal ada atau berpenampilan yang justru mempermalukan nama besar diri sendiri institusi penerus Dinasti Mataram.

Maka, ketika tampil di tiap event FKN sejak yang pertama (1995) hingga di Sumatera Barat (2018), prajurit keraton selalu tampil full team. Semua bregada membawa panji-panji ideintitas pasukan mereka, serta simbol keraton Sri Radya Laksana. Di tempat yang sangat jauh sekalipun, di Bau-bau (Sulsel) atau di Bima (NTB) misalnya, diberangkatkan prajurit sedikitnya 50 orang, tetapi ketika tampil menjadi 100 orang berseragam prajurit lengkap karena sisanya merekrut warga lokal yang sudah dilatih baris-berbaris. Jadi, secara visual pasti membanggakan.

Komposisi warna mencolok 

Baik penjelasan RT Alex, KRT Arwanto maupun KRMH Suryo, sangat mengesankan sifat kesungguhan dan konsistensinya terhadap upaya menjaga nama baik keraton, yang nota bene ada rasa dan sikap untuk menjaga eksistensi keraton serta melestarikan produk-produk seni budayanya. Sebab itu, ketika keraton hadir di semua event rutin maupun insidental seperti diundang untuk menyemarakkan kirab Gelar Budaya Kelurahan Sriwedari, Laweyan, Solo, Sabtu siang (20/7), benar-benar membanggakan karena Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta menampilkan full team 8 dari 10 bregada prajurit yang dimiliki keraton.
Sepuluh bregada prajurit itu adalah Tamtama, Jayeng Astra, Prawira Anom, Sarageni, Baki, Jayasura, Dwarapati, Jayataka dan prajurit Panyutra, ditambah satu bregada prajurit korp musik. Suara Merdeka dan Suaramerdekasolo.com yang pernah mengikuti sepak terjang prajurit keraton di berbagai tempat untuk segala keperluan/event sejak 1995 mencatat, dalam tiap ritual yang digelar keraton 9 kali dalam setahun itu, dipastikan sedikitnya tujuh bregada prajurit dikeluarkan yang melibatkan sedikitnya 70 orang, ditambah bregada musik.

prajurit-keraton-surakarta6
PRAJURIT KERATON SURAKARTA berkekuatan penuh 10 bregada yang didukung sekitar 200 orang, saat melakukan apel pasukan di halaman Keraton Surakarta sebagai atraksi wisata rutin tiap Minggu pertama, sebelum 2017.(Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)


Sisi visual barisan berbagai bregada prajurit itu sangatlah menarik terutama dari komposisi warba seragam yang dikenakan. Karena ada warna hitam pekat, kotak-kotak hitam-putih mencolok, warna merah, biru, hijau dan putih yang semuanya mendominasi.

Aspek keunikan juga sangat mencolok secara visual karena masing-masing dikenakan dengan atribut seragam yang berbeda-beda satu sama lain, apalagi ketika dilengkapi dengan prajurit berkuda serta mendengar aba-abanya yang khas sekali serta terdengar aneh karena menggunakan bahasa Jawa yang dibakukan sebagai aba-aba prajurit keraton di masa silam sejak 1745, bahkan jauh beberapa ratus tahun sebelumnya.
”Sebab itu, ketika menyaksikan rekaman video karnaval di Semarang dan Grebeg Syawal lebaran kemarin itu, jadi kontras sekali. Bisa membuat publik tidak percaya. Karena sama sekali tidak membanggakan. Terutama bagi saya,” ujar KRMH Suryo yang dibenarkan Gusti Moeng. (Won Poerwono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here