Burung Hantu Efektif Basmi Hama Tikus

basmi-tikus-sragen
ASMI TIKUS: Para petani dibantu Babinsa dan Bhabinkamtibmas Sambungmacan, bergotong-royong membasmi tikus yang sudah menjadi hama, di persawahan Desa Glonggong, Sambungmacan pada Jumat (19/7). (suaramerdekasolo.com/dok)

SRAGEN,suaramerdekasolo.com – Hama tikus masih menjadi salah satu perhatian para petani di Sragen, khususnya yang ada di wilayah Kecamatan Sambungmacan. Pasalnya terjadi peningkatan persebaran yang cukup signifikan. Dimana pada 2018 lalu tercatat hanya empat desa, pada tahun ini berubah menjadi enam desa. Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen menyarankan menggunakan burung hantu yang lebih alami dan efektif memberantas hama binatang yang yang memiliki nama latin Rattus argentiventer tersebut.

Ketua KTNA Sragen Suratno menyampaikan pihaknya sudah menerima keluhan para petani di Sambungmacan, yang tanamannya diserang hama tikus. Dia menyampaikan jika dibiarkan, hama tikus akan merusak tanaman dan membuat petani merugi. “Karena tikus sudah menyebar dan menyerang tanaman maka memang harus dibasmi agar tidak semakin merugikan petani,” katanya pada Jumat (19/7) lalu.

Terkait memberantas hama tikus itu, Suratno menyerahkan kepada petani. Namun pihaknya menyarankan agar menggunakan cara alami seperti memanfaatkan burung hantu, yang dinilai sangat efektif. ”Cara apapun ya silahkan, tapi pakai burung hantu juga baik, ramah lingkungan dan predator alaminya sehingga sangat efektif sekali,” terangnya.

Dia mengatakan, dengan cara alami tidak akan merusak ekosistem dan lingkungan. Dampaknya tidak akan seperti menggunakan pestisida berlebihan atau cara-cara lainnya. ”Model pemberantasan hama yang alami, perlu dicoba semacam itu. Biayanya juga tidak mahal,” tandasnya.
Meski sudah ada yang menggunakannya, Suratno belum banyak melihat para petani di Sragen menggunakan metode burung hantu untuk memberantas hama tikus. Namun layak dicoba dengan belajar ke petani dari kabupaten sekitar Sragen yang sudah mencoba dan berhasil.

Sementara itu, Kordinator Penyuluh Pertanian Sambungmacan Marno menyampaikan, pada Jumat (19/7) dilakukan pemberantasan di Desa Gringging, Sambungmacan dengan luasan lahan 65 hektar. Bila dibanding tahun lalu, serangan hama tikus ini meluas. Soal metode untuk pemberantasan hama tikus, pihaknya berganti-ganti. “Pada 2018 lalu menggunakan asap. Begitu tikus keluar langsung dipukul. Namun ada insiden yang melukai petani,” katanya.

Sedangkan pada tahun ini menggunakan umpan dan racun untuk dimakan tikus. Disinggung cara menggunakan burung hantu, pihaknya setuju dan akan diusulkan kepada Pemkab Sragen. Dia menjelaskan kemampuan alami burung hantu sangat membantu petani. ”Burung hantu memang efektif dan edisien. Pada jarak 500 meter itu burung hantu sudah bisa mendeteksi tikus, selain itu satu ekor bisa sampai 20 tikus karena yang dimakan hanya jeroannya,” terang Marno.

Yang disediakan para petanu hanya membuat rumah-rumahan untuk burung hantu. Namun yang menjadi kendala justru para penembak yang memburu hewan liar predator tikus. Seperti burung, ular atau musang. Sehingga warga perlu mengingatkan para pemburu untuk tidak menembak burung hantu.
Sebelumnya Kepala Dinas Pertanian (Distan) Eka Rini Mumpuni Titi Lestari mengatakan. setidaknya 229 hektare padi yang ada di enam desa di wilayah Kecamatan Sambungmacan, rusak karena mewabahnya hama tikus. Enam desa yang melaporkan terserang hama tikus itu adalah Desa Banyurip, Gringging, Toyogo, Banaran, Sambungmacan dan Karanganyar.
Pihaknya menyampaikan hama tikus dilaporkan sejak awal tanam padi. ”Di wilayah Sambungmacan ada laporan serangan tikus, maka kami melakukan upaya pengendalian, yakni dengan memberi umpan kepada tikus,” kata Eka Rini tatkala ditemui. (Basuni Hariwoto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here