Jumlah Usia Belajar di SD Semakin Sedikit, Jumlah Sekolah Berlebih

anak-putus-sekolah
edunews.id

 

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Jumlah anak usia belajar di SD semakin sedikit. Sementara jumlah sekolah cenderung tetap. Akhirnya sudah beberapa tahun terakhir ini banyak SD yang hanya menerima murid sedikit.

‘’Dulu masih memungkinkan dilakukan regrouping sekolah. Sebab jelas tidak efisien kalau satu sekolah hanya mengajar kurang dari 10 siswa. Namun seiring dengan berubahnya sistem penerimaan peserta didik baru yang menggunakan pendekatan zonasi, maka regrouping tidak bisa dilakukan,’’ kata Agus Haryanto Sekretaris Dinas Dikbud Karanganyar, Senin.

Kepada Suaramerdekasolo.com, dia mengatakan, regrouping terakhir dilakukan tahun lalu kepada 22 SD yang terpaksa digabung ke sekolah lain karena jumlah siswa baru kelas I hanya sedikit. Di bawah 10 anak, sehingga dinilai tidak efisien.

Tahun ini sebetulnya beberapa sekolah sudah didekati kalau terpaksanya harus diregrouping dengan sekolah lain karena peserta didik yang sedikit. Dinas Dikbud memiliki data sekolah yang memang langganan menerima peserta didik baru sedikit.

Namun karena sistem zonasi bagi lulusan SD yang akan melanjutkan ke SMP, terpaksa Kepala Dinas mengambil kebijakan untuk tidak meregrouping SD yang kekurangan peserta didik. Sebetulnya tidak efisien dari penyelenggaraan proses belaar mengajar.

Namun di satu sisi akan bertentangan dengan semangat zonasi yang lebih mementingkan kedekatan lokasi sekolah dengan SMP yang ada. Karena itu mau tidak mau akan berpengaruh dengan sistem zonasi sebab menyangkut keberlangsungan anak bersekolah melanjutkan jenjang yang lebih tinggi.

Swebab jika diregrouping sudah pasti lokasi akan bergeser ke lokasi lain yang mungkin lebih jauh, dan bisa jadi akan berpindah lokasi zonasi saat PPDB SMP kelak. Sehingga orang tua keberatan jika sekolah diregrouping dengan sekolah lain.

Zonasi, kata Agus, juga akan menjadi pertimbangan utama jika nanti akan dilakukan regrouping jika terpaksa dilakukan. Sehingga pertimbangannya akan semakin kompleks tidak hanya sekadar mempertimbangkan efisiensi saja.

Dia mengatakan, jumlah anak usia sekolah memang cenderung semakin sedikit. Dinas Dikbud sudah menyisir, dan tidak ada anak usia sekolah yang tidak bisa masuk sekolah. Dengan sistem gratis yang diterapkan pemerintah kabupaten Karanganyar, maka tidak ada lagi keberatan orang tua tidak menyekolahkan anaknya.

Sedangkan daya tampung sekolah yang kini sejumlah 473 SD masih ditambah swasta, yang kuota peserta didik barunya tidak dibatasi, maka cenderung kuota sekolah sudah berlebih, dan berakibat ada 50 % SD yang terima peserta didik baru kurang dari 10.

Agus mengatakan, memang ada kecenderungan jika semakin rendah tingkat sekolahnya, peran swasta biasanya lebih tinggi. Dia mencontohkan, untuk tingkat Taman Kanak-kanak dan PAUD yang berperan malah swasta penuh. TK Negeri bisa dihitung jari. Apalagi PAUD.

Sedangkan SD, banyak SD swasta yang bagus-bagus, sehingga meski berbayar mahal, banyak orang tua menyekolahkan ke sana. Ini jelas menyedot sebagian anak usia sekolah yang ada. Demikian pula SMP, sudah mulai bermunculan sekolah swasta bagus. Meski jumlahnya juga makin sedikit. SMA swasta makin sedikit. Baru universitas yang orientasinya masih negeri. Namun suatu saat akan banyak pembanding dengan swasta.

‘’Ini mau tidak mau mengurangi kuota di negeri yang mengakibatkan jumlah peserta didik baru di sekolah negeri berkurang,’’ kata dia.(joko dh)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here