Kemarau Panjang, Produksi Singkong Wonogiri Terjun Bebas

0
32
singkong-wonogiri
MENGUPAS SINGKONG : Seorang petani mengupas singkong di Desa/Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, baru-baru ini. (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)
WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Musim hujan yang singkat tahun ini berakibat pada turunnya produksi sejumlah tanaman pangan. Bahkan, hasil panen singkong petani bisa turun hingga 2/3 dibandingkan dengan situasi normal.
 
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Wonogiri, Jateng, Jimin mengungkapkan, musim hujan di kecamatan tersebut menurutnya hanya berlangsung sekitar tiga bulan. Akibatnya, tanaman singkong yang menjadi andalan petani di kawasan rawan kekeringan tersebut tidak bisa berproduksi maksimal. 
 
“Musim hujan di Paranggupito kali ini cuma tiga bulan. Singkong minim, umbinya kecil-kecil karena tidak ada hujan. Kacang tanah juga habis tidak ada isinya,” katanya, baru-baru ini.
 
Kondisi tersebut membuat perekonomian petani di daerah rawan kekeringan semakin tertekan. Sebab, hasil bumi berupa kacang tanah dan singkong menjadi andalan untuk bertahan hidup di musim kemarau.
 
Terlebih, sebagian dari mereka terpaksa menjual ternak kambing atau sapi untuk membeli air bersih. “Masih ada dua dusun di desa kami yang belum teraliri air. Yakni Dusun Balong dan Ngasem. Harga air sekarang sekitar Rp 150.000 per tangki (ukuran 6.000 liter),” ujarnya.
 
Terpisah, kepala Desa Paranggupito Dwi Hartono mengatakan, produksi singkong dan hasil bumi lain di desanya juga menurun. Satu batang tanaman yang biasanya bisa menghasilkan 3-4 kilogram singkong, kini petani hanya bisa memperoleh 2-3 kilogram singkong.
 
“Tahun ini kemarau panjang. Singkongnya kecil-kecil, produksinya turun tinggal sekitar 2/3 dari biasanya. Bahkan terkadang tidak ada isinya (umbinya), akhirnya cuma dipakai buat pakan ternak,” ujarnya. (J11-)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here