Intensifkan Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng

jateng-gayeng-nginceng-wong-meteng
SOSIALISASI : Sejumlah perwakilan masyarakat mengikuti pertemuan untuk penguatan program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5 Ng) di Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah Karanganyar, Senin (22/7). (suaramerdekasolo.com/Irfan Salafudin)

* Sosialisasi Cegah Kematian Ibu Melahirkan

KARANGANYAR,  suaramerdekasolo.com Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar intensif menyosialisasikan program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5 Ng) ke segenap stakeholder masyarakat. 
Program tersebut merupakan upaya pencegahan ibu meninggal saat melahirkan, yang penerapannya di tingkat masyarakat. Dengan mengetahui berbagai hal untuk mencegahnya, diharapkan angka kematian ibu melahirkan di Karanganyar bisa semakin diminimalisasi. 

Kepala DKK Cucuk Heru Kusumo mengungkapkan, program dari Pemprov Jateng tersebut berkaitan dengan program lain, yang sama-sama bertujuan menekan angka kematian ibu melahirkan. 
“Ada program Desa Siaga yang sudah berjalan. Di aspek profesi, Karanganyar punya program Super Pinter alias Semua Persalinan Dipimpin Dokter. Nah, 5 Ng ini dari provinsi, yang penekanannya di tataran masyarakat. Supaya ada kepedulian untuk sama-sama mencegah ibu meninggal saat melahirkan,” katanya. 
Dikatakannya, kasus ibu meninggal ketika persalinan karena tiga faktor. Yakni terlambat dalam mengambil sikap atau keputusan, terlambat dalam rujukan, serta terlambat dalam penanganan. 
“Program Super Pinter menangani keterlambatan rujukan dan penanganan. Jateng Nginceng ini untuk mencegah adanya keterlambatan dalam mengambil sikap,” jelasnya. 

Sebab, dalam kejadian gawat darurat, harus segera ada sikap tegas yang diambil, untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya. 
“Jangan sampai ada jawaban nanti dulu. Kalau misalnya tidak bisa bersikap karena tidak mampu secara keuangan, Pemkab siap membantu. Jika tak mampu tapi punya Kartu Indonesia Sehat (KIS), tidak perlu bingung. Kalau tidak punya KIS, ada program Jampersal dan program penanganan krisis kesehatan yang bisa dimanfaatkan. Jadi perlu ketegasan mengambil keputusan,” jelasnya. 

Disinggung mengenai angka kematian ibu melahirkan di Karanganyar, Cucuk mengatakan, pada tahun lalu ada lima kasus dari total 12 ribuan persalinan. Pada 2017, kasusnya ada delapan. Sementara sekira empat tahun silam, pernah mencapai 18 kasus. 
“Angkanya terus menurun dan diharapkan semakin mengecil. Caranya, dengan melakukan penguatan di semua aspek. Masyarakat, keluarga, pemerintah, hingga mengintensifkan fungsi bidan desa,” imbuhnya. (Irfan Salafudin)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here