Ketika Anak Muda Mencari Kebahagiannya

buku-fragmen-bangun-pagi
FRAGMEN DRAMA:SAlah satu adegan fragmen drama naskah karya Eswe ketika tampil di Balai Soedjatmoko, Senin malam lalu.(suaramerdekasolo.com/Sri Wahjoedi)

*Bincang Buku Dan Fragmen Bangun Pagi Bahagia

SOLO,suaramerdekasolo.com – Tiga anak muda yang hidup pada zaman akhir orde baru menjelang reformasi, mempunyai karakter yang berbeda dilatarbelakangi kehidupan keluarganya yang berbeda pula. Adalah Bob, Bas dan Frank yang hidup sebagai produk keluarga broken home. Namun dalam perjalanan hidupnya yang tidak jelas juntrungnya mereka tetap mencitakan hidup bahagia.

Itulah nukilan fragmen buku naskah drama berjudul Bangun Pagi Bahagia karya Andy Sri Wahyudi atau akrab disapa Eswe dari Yogyakarta yang digelar di Balai Soedjatmoko, Senin malam lalu. Naskah yang lahir dari buku kumpulan puisi itu dibincangkan bersama Indah Darmastuti, perempuan penggiat sastra dan Meong Purwanto, seniman keduanya asal Solo.

Menurut budayawan dan pengajar Institut Seni Indonesia(ISI) Solo, Titus, Eswe dikenal cukup kreatif dan tekun menulis puisi maupun naskah drama dan teater, juga dikenal sebagai pemain pantomim. Dia sudah sering tampil di panggung sastra di berbagai daerah baik sebagai penyair, pekerja teater maupun pantomim.

”Eswe selain berkarya nyata dalam seni sastra juga cukup mempunyai referensi kuat. Dia banyak belajar dari beberapa seniman dan budayawan yang lebih senior. Kondisi seperti itu masih minim dimilik pekerja seni panggung,” katanya.

Seperti diungkapkan Indah Darmastuti maupun Meong Purwanto, tiga tokoh dalam naskah drama Bangun Pagi Bahagia memang tidak menampilkan kronologis perjalanan hidup mereka. Dialog-dialog yang dibangun, selain menyoal kehidupan anak muda pada zamannya, juga diisi dengan syair-syair dalam puisi karya Eswe.

”Proses kesenimanan Eswe itu kurang njerum atau bebles masuk ke akar persoalan, namun melebar ke sekitarnya. Dialog-dialog yang dibangun tidak selamanya nyambung, meloncat-loncat dan tidak selurus logika,” katanya.

Pada fragmen itu ditampilkan tiga tokoh anak muda Bob, Bas dan Frank. Mereka berangkat mewakili produk keluarga broken home dengan masa kecil yang berangkat dari akar kepahitan yang buruk menurut ukuran umum telah ditanam oleh orangtuanya.

Diungkap tokoh Bas yang berselisih dengan ibunya sampai dia disumpahi ibunya untuk minggat dan menjadi gelandangan. Sumpah itu diungkap lewat kata-kata ”Matilah seperti tikus, tak ada yang menangisimu.”

Demikian pula nasib yang ditimpakan kepada Frank. Pertengkaran dengan ayahnya melahirkan umpatan-umpatan yang tidak layak dikatakan seorang ayah. Masa depan Frank buram seperti kertas dan disumpahi ”Lebih baik mati sekarang Frank.”
Akan halnya tidak berbeda dengan Bob. Dia mendapat pesan terakhir dari neneknya sebelum meninggal dunia. Neneknya berpesan jadilah jahat sebelum orang lain mengajarimu kejahatan. Sebab kejahatan yang orisinil itu datang dari hati nuranimu. Kejahatan akan lebih berkualitas dari seorang kriminal atau koruptor.
”Namun tokoh Bob tidak mendapat jawaban seperti apa kejahatan yang berkulitas itu. Menurut saya, Eswe tidak berani mengambil resiko untuk menjelaskan kejahatan yang berkualitas itu seperti apa. Atau dia ragu apa kualitas kejahatan layak mendapat peringkat nilai,” kta Indah Darmastuti.
Tiga tokoh itu hadir dalam gejolak perjalanan reformasi dengan ditandai tumbangnya pemerintahan orde baru. Ketiganya juga disebutkan mempunyai tokoh idola, seperti Bas yang mengidolakan sejumlah tokoh perempuan terkenal karena merindukan sosok ibu yang baik dan penuh kasing sayang. Sebaliknya Frank mengidolakan tokoh laki-laki yang didambakan sebagai ayah yang baik, meski dia sendiri jelek hubungannya dengan ayahnya.

Namun pada akhir fragmen, tiga tokoh sentral itu mencoba mendekatkan persoalan kehidupan seperti lazimnya warga masyarakat. Setelah menjalani kehidupan carut marutnya, mereka mencoba untuk menentukan masa depannya. Bob yang semula ingin mati muda berangan-angan menjadi perjagal sapi, Frank ingin beternak ikan meski awalnya ingin menjadi seniman teater. Lalu apa yang diinginkan Bas. Dia menyebut bangun tidur bahagia.

Itulah barangkali yang akan diungkap Eswe. Bahwa setiap manusia berhak mendapatkan kebahagiaannya lewat kehidupan masing-masing. Dan kebahagiaan itu hanya bisa dicari sendiri, dikais dari sisa-sisa umur dan apa yang terjadi dalam kehidupannya.(Sri Wahjoedi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here