Mendesak, Regenerasi Pembatik Tulis

generasi-pembatik
MEMBUAT MOTIF: Para peserta lomba desain batik menggambar desqin karya mereka di atas kertas sebelum menuangkannya di atas kain dan canting. (suaramerdekasolo.com/dok)

 

* Uniba Gelar Lomba Desain Batik

SOLO,suaramerdekasolo.com – Penanaman ketrampilan membatik di generasi muda dinilai masih sangat kurang. Padahal pembatik tulis yang masih ada saat ini jumlahnya semakin sedikit dan memerlukan segera adanya regenerasi.  Berangkat dari itu,  Universitas Islam Batik (Uniba) Surakarta menggelar lomba desain batik yang digelar Rabu (24/7) di halaman kampus setempat. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis Uniba ke 36. 
 
Ketua Panitia Lomba Desain Batik Uniba 2019 Ibnu Suryo mengemukakan, lomba juga digulirkan karena kekhawatiran terhadap generasi muda yang mulai sibuk dengan teknologi dan perlahan tapi pasti meninggalkan tradisi. Jika ditilik lebih lanjut, menjaga tradisi bisa dilakukan dengan mengkolaborasikannya melalui teknologi.
 
Sebanyak 19 tim mengikuti lomba yang dilakukan dua tahap yakni membatik pola di kertas lalu menuangkannya ke atas kain dengan mencanting. 
Anggota Dewan Juri yng juga perbatikan asal Universitas Sebelas Maret (UNS) Dr Sarah Roem Handayani mengemukakan,  ketrampilan membatik tulis  tersebut sudah waktunya ditanamkan pada generasi muda. Sebab mayoritas pembatik sudah memasuki usia senja dan mendesak untuk diregenerasi. Ia berharap lomba membatik semacam itu digelar di berbagai tempat agar ketrampilan itu dikuasai generasi muda.  
 
Ia juga menyampaikan perlunya pengenalan motif motif batik klasik pada generasi muda.  Sebab motif klasik tersebut mengandung filosofi yang dalam dan kearifan lokal. 
Ia mengemukakan,  di Solo dan sekitarnya saja terdpat 360 motif batik.  Motif itu perlu dikenalkan melalui bangku pendidikan formal. 
 
“Batik klasik itu penuh keindahan dan filosofi. Ada pakem tentang batik klasik yang harus diajarkan pada masyarakat. Motif batik klasik memiliki pakem yakni adanya tokoh batik utama,  kembangan dan isen-isen,”jelasnya. 
Juri lain yang juga Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Batik (Yapertib)  Solichul Hadi mengemukakan, dalam lomba desain tersebut,  peserta diberi tema kecil pengembangan motif batik Bokor Kencana yang merupakan hasil inovasi Uniba. 
 
Ia mengemukakan, motif tersebut digarapkan bisa dikembangkan,  dimodifikasi maupun diinovasi sehingga menambah keindahan tanpa meninggalkan nilai filosofisnya. 
Dalam kompetisi tersebut diambil tiga tim sebagai pemenang. Selain memperoleh hadiah,  hasil karya para pemenang juga akan dipasang di kampus tersebut. (Evie Kusnindya) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here