Penghargaan Kemendikbud dan Kunjungan Gubernur tak Merubah Keadaan

perajin-wayang-beber1
MENYAKSIKAN suasana dan kondisi di dalam dan di luar rumah, apalagi ketika mbah Ning sedang bersantai di bangku besar yang menjadi tempat tidurnya, tetap mengesankan sebagai seorang seniman dan maestro seni aset bangsa yang tetap miskin walau mendapat piagam dan pin emas dari Kemendikbud. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

* Tetap Tampak Miskin

HERMIN Istiariningsih (68) yang akrab disapa mbah Ning, paling tidak suka dianggap sebagai warga miskin. Bahkan menolak dengan emosinya ketika dianggap atau disamakan dengan orang yang suka meminta-minta belas-kasihan orang lain, meskipun alasannya untuk sekadar bertahan hidup di gubuk ”derita” berukuran 40-an meter persegi di Kampung Wonosaren, Jagalan, Jebres, Solo.
Itulah prinsip dasar anak tunggal eks veteran peristiwa 10 November Surabaya, Peltu TNI Soekarman yang baru meninggal di usia 80-an sekitar tahun 2006 lalu. Keinginannya begitu keras dan prinsipnya dipertahankan mati-matian, hingga wanita yang memiliki kemampuan/kepiawaian melukis wayang beber ini seakan ”dilumpuhkan” oleh penyakit yang dideritanya, hingga beberapa kali keluar-masuk rumah sakit.

Fakta lain yang merepresentasikan kondisinya, seakan membenarkan anggapan publik secara luas, yaitu ketika bertanya berapa rupiah yang diperoleh dari melukis, tempatnya beraktivitas dan jaminan hidup yang nyaris minim sekali. Padahal, sebagai seorang anak tunggal veteran pejuang kemerdekaan yang selalu dipersepsikan ”dipelihara negara” itu, pasti juga dipersepsikan bisa hidup layak seperti ahli waris veteran lain.

Bagaimana wanita pelukis yang diperistri Soetrisno (80) lebih 30 tahun lalu dan tidak mempunyai keturunan ini bisa bertahan hidup hingga kini? Jawabannya hanya pada aktivitasnya sebagai wanita pelukis atau kriya sungging wayang beber. Hanya produk aktivitas itulah yang selama 20-an tahun terakhir bisa digunakan untuk sekadar bertahan, tetapi masih bisa melakukan ”kelumrahan” bersedekah kepada tetangga ”sesama miskin” di sekitarnya bila lebaran tiba.

perajin-wayang-beber2
PIAGAM dan pin emas dari Kemendikbud diperlihatkan mbah Ning. Itu semua tidak merubahnya menjadi lebih baik, karena hingga kini jaminan hidup sehari-hari saja tidak punya.(Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Yen dianggep warga miskin nggih ampun banget-banget sing ngarani. Merga kula mboten njaluk-njaluk, ngemis kalih sinten mawon. Merga kula isin lan mboten seneng dadi wong sing isane mung njaluk-njaluk. Kula nenyuwun dateng Gusti Allah, muga-muga kula mboten dadi wong sing isane mung ngemis. Ampun. Niku sirikan kula,” ujar tegas mbah Ning menolak anggapan dan persepsi terhadap dirinya yang dianggapnya negatif, ketika dikunjungi Suaramerdekasolo.com, tadi siang.

 

Penghargaan dan kunjungan pejabat

Suatu saat dari pertengahan hingga akhir 2018, secara berturut-turut mbah Ning dikunjungi sejumlah orang yang mempersiapkannya diundang menerima penghargaan sebagai pelestari budaya dari Dirjen Kebudayaan, di kantor Kemendikbud, Oktober 2018. Setelah piagam dan pin emas itu diterima melalui orang kepercayaan yang mewakili ke Jakarta, beberapa hari kemudian datanglah Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang sedang beranjangsana dengan sepeda onthel ke Solo dan mampir ke rumah mbah Ning.
Penghargaan dari Kemendikbud yang diterimanya, memang sungguh membanggakan dan menambah semangat untuk terus memperlihatkan eksistensi, yaitu dengan terus berkarya, produktif melukis. Rasanya hanya itu. Karena, penghargaan yang diterima itu tidak disertai bantuan jaminan hidup, sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan ketokohannya sebagai pelestari budaya yang derajatnya sudah setingkat maestro seni.
Beda dengan kunjungan Gubernur, yang waktu itu menawarkan lalu menjanjikan bantuan berupa renovasi rumah tinggal, agar bisa dijadikan galeri dan sanggar, untuk beraktivitas melukis, edukasi melukis dan memajang karya-karyanya. Tak jelas bagaimana detail mekanisme prosedur dan proses pemberian bantuan itu, tetapi beberapa waktu setelah itu mbah Ning mendapat tamu tim kecil lebih dari 5 kali, yang datang-pergi meminta wawancara, mengukur luas rumah dan mengaku sedang mengikuti sayembara menyusun desain renovasi rumah.
Kini, sudah lebih setengah tahun dari kegiatan tim-tim peserta sayembara desain renovasi itu berlalu, dan seluruh rangkaian yang berujung pada janji bantuan Gubernur Ganjar untuk merenovasi rumah mbah Ning, sama sekali tidak ada kabarnya. Janji bantuan itu menjadi aneh, karena tidak tampak organ-organ di bawahnya seperti Pemkot Surakarta datang kepada mbah Ning membahas bantuan tersebut, atau setidaknya sebagai bentuk koordinasi antar instansi pemerintah secara struktural.

perajin-wayang-beber3
MBAH NIG dan mbah Tris sedang mengangin-anginkan lukisan wayang beber karyanya di depan rumahnya yang tak layak huni, sebelum menyimpannya. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Singkat kata, dua penghargaan yang diterima berupa piagam dan pin emas serta kedatangan Gubernur yang meninggalkan janji itu, seperti kosong belaka. Sama sekali tidak merubah keadaannya mbah Ning. Dua penghargaan itu seakan hanya sebagai bentuk pengakuan, tetapi sama sekali tidak bisa memperbaiki kondisi kehidupan sang maestro lukisan wayang beber yang namanya sudah dikenal luas sampai jauh di luar negeri, khususnya para pecinta seni di Eropa itu.

Rumah tidak layak huni

Setelah lebih setengah tahun dari saat penghargaan diterima, faktanya mbah Ning bersama sang suami, mbah Tris yang juga pelukis, tampak tidak berubah secara fisik. Mbah Ning tetap lamban geraknya, lebih sering kontrol kondisi diabetes dan tensinya dan lebih banyak di tempat tidur yang penuh dengan perabotan, sambil terus melukis, sementara mbah Tris juga semakin uzur dan tampak sudah sangat rapuh fisiknya.
Dan yang tidak bisa disembunyikan, adalah kondisi rumah tempat tinggal yang gampang dilihat tidak pernah berubah sejak kedatangan Gubernur Ganjar itu hingga kini. Kesan gubuk reyot atau gubuk ”derita” lebih tampak, bila melihat kediaman mbah Ning, kini. Yang tidak kelihatan justru ketika mbah Tris melakukan proses balik-nama sertifikat hak milik dari orangtuanya menjadi milik bersama dua suadara sekandung di BPN setempat, yang menguras hampir semua tabungan jaminan hidupnya.
Meski sertifikat rumah warisan orangtua mbah Tris itu sudah atasnama tiga bersaudara, tetapi fungsi, kegunaan dan manfaatnya sama sekali belum ada. Karena, janji bantuan proyek renovasi yang membutuhkan IMB dengan syarat sertifikat hak milik itu, kini sudah tidak terdengar lagi, dan rumah pasangan seniman tua itu tetap menjadi rumah tidak layak huni (RTLH).

Mutung dan tidak berharap

Kini, mbah Ning dan mbah Tris sudah mutung. Sama sekali tidak berharap mendapatkan bantuan seperti janji-janji dan konsekuensi logis dari sebuah penghargaan yang diterima tokoh yang selalu dipersepsikan sebagai aset bangsa dan banyak berjasa untuk warga bangsa. Harapan mendapatkan jaminan hidup sebagai anak tunggal veteran TNI-pun juga sudah sangat jauh, mengingat terlalu berliku dan sudah tidak kuasa untuk mengurus/menjalani prosesnya.

perajin-wayang-beber5
BEBERAPA KARYA mbah Ning sedang dipamerkan di galeri Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta (TBS) bersama lukisan wayang beber karya orang lain, beberapa waktu lalu. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Satu-satunya yang tersisa adalah berharap dan memohon kepada Sang Khalik agar diberi kekuatan dan kesehatan, supaya bisa mengisi sisa-sisa hidup dengan terus mengabdikan diri pada masyarakat luas. Selain terus berproduksi lukisan wayang beber utamanya untuk konsumsi koleksi dan hiasan rumah, pintu rumahnya juga masih terbuka lebar untuk menerima tamu pelajar, mahasiswa, pascasarjana yang ingin meneliti, belajar melukis dan menambah wawasan seperti yang dilakukan selama ini.
Kabar akan adanya sekelompok pemrakarsa pameran bertemakan ”Kisah Panji” atau ”Kisah Keraton Kediri” di Semarang, seakan memberi semangat mbah Ning untuk mempersiapkan diri terlibat dalam pameran tunggal yang didambakan sejak lama. Kabar itu dianggap lebih tepat daripada tawaran sekelompok orang dari Mojokerto (Jatim) yang memintanya menjadi ikon seni budaya, karena faktanya ia sudah lama menjadi warga Solo dan berkarya di Kota Bengawan ini.
”Aaah, la enggih pilih pameran enten Semarang niku. La wong cita-cita kula niku nganti sepriki durung terwujud kok. Ketoke pameran niku luwih pas. Muga-muga diparingi sehat, kuat, ben isa terwujud rencanaku pameran neng Semarang,” harapnya dalam bahasa Jawa campuran krama dan ngoko, yang diamini mbah Tris. (Won Poerwono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here