Atasi Kekeringan Gandeng Perusahaan dan Akademisi

SERAHKAN BANTUAN: Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyerahkan bantuan tandon air bantuan CSR dari berbagai perusahaan, kepada masyarakat di tiga kecamatan, Rabu (24/7).(suaramerdekasolo.com/Basuni Hariwoto)

SRAGEN,suaramerdekasolo.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen menggandeng berbagai perusahaan, dalam program tanggungjawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), untuk menangani masalah kekeringan, yang setiap tahun terjadi. Salah satunya dengan pendistribusian puluhan tandon air ke wilayah rawan kekeringan.

Penyerahan tandon itu dilakukan Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati dilakukan selama bertahap selama dua hari. Yakni pada Rabu (24/7), untuk tiga kecamatan, Miri, Sumberlawang dan Sukodono. Serta pada Jumat (26/7), untuk dua kecamatan, Gesi dan Tangen. Pada Rabu (24/7) lalu, Bupati memberikan langsung bantuan 99 tandon kecil volume 2.000 liter dan 31 tandon besar volume 5.000 liter kepada warga. Yakni Miri delapan tandon, Sumberlawang (40), dan Sukodono (24). Sementara untuk Gesi sembilan tandon kecil dan Tangen 21 tandon kecil. Tandon-tandon tersebut digunakan untuk menampung air bantuan, agar tidak tumpah.

Dengan bantuan tandon itu, pengiriman air bersih yang didistribusikan ke desa atau dusun, bisa lebih efektif dan adil. Saat ini di wilayah Kabupaten Sragen ada tujuh kecamatan, yakni Miri, Sumberlawang, Sukodono, Gesi, Tangen, Mondokan dan Jenar atau 36 desa yang terdampak kekeringan setiap tahunnya. Pihaknya mengatakan tandon tersebut digunakan untuk menampung air bantuan agar tidak tumpah. Dengan pembagian tandon ini distribusi bantuan bisa lebih efektif dan adil.
”Ini bukan solusi, ini hanya sementara karena bantuan air langsung tidak efektif. Banyak air terbuang,” terang Yuni, panggilan akrabnya, kemarin. Selain dari CSR dari perusahaan dan rumah Sakit yang ada di Sragen, diantaranya dari RS Amal Sehat dan RS Ibnu Sina, dana pembelian tandon diambil dari bantuan warga Sragen. Selain itu sumbangsih dari Matra, pengumpulan dari Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Sragen.

logo-sragen

Butuh dan infrastruktur

Sementara untuk mengatasi masalah kekeringan jangka panjang butuh dana dan infrastruktur yang tidak murah. Saat ini upaya itu, yang sudah tercapai ada di dua desa di Kecamatan Mondokan. Menurut dia, masalah yang ada karena daerah di Sragen Utara aliran Bengawan Solo biasanya tidak ada sumber air yang memadai.
”Sumber air di Utara Bengawan Solo tidak ada, sehingga dialirkan dari selatan bengawan dan butuh pipanisasi PDAM yang panjang,” terangnya. Dalam hal mengatasi kekeringan, Bupati Yuni menggandeng akademisi untuk mengkaji kekeringan di Sragen. Pihaknya menargetkan pengentasan rawan kekeringan minimal lima desa secara bertahap pada 2020. Sehingga progres pengentasan kemiskinan bisa berkesinambungan.
Saat ini yang menjadi fokus adalah di Kecamatan Mondokan dan Tangen. ”Sekarang fokus untuk Mondokan dan Tangen yang relatif lebih dekat dengan sumber air di Sambungmacan,” tandasnya. Yuni juga, menyampaikan Waduk Kedung Ombo (WKO) sudah bisa dimanfaatkan warga Sragen. Hal ini setelah Pemkab Sragen sudah memperoleh lampu hijau dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk pemanfaatan WKO tersebut. Hanya saja soal infrastuktur masih menunggu CSR dari PLN untuk dimanfaatkan di Desa Gilirejo Baru, Miri. ”Perlu alat khusus untuk memfilter air. Dananya belum ada, baik dari CSR maupun dari kami,” katanya.
Salah satu warga penerima manfaat tandon air, Suroto (35) warga Dusun Cabe, Desa Bagor, Miri mengaku senang mendapat bantuan tandon air bersih. Menurutnya tandon itu efektif menampung air untuk kebutuhan sehari-sehari. “Kalau ada tandon sangat membantu kami untuk menampung air yang dipakai mencuci baju, mandi dan masak. Semoga masyarakat bisa memanfaatkan bantuan ini,” katanya. (Basuni Hariwoto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here