Santri Mahasiswa, Ciptakan Ulama Intelek Berjiwa Wirausaha

Ponpes-Al-Madina1
SANTRI-MAHASISWA: Para santri mahasiswa Ponpes Al Madina-STIT Madina dalam suatu acara di salah satu TPQ di Sragen Wetan.(suaramerdekasolo.com/Basuni Hariwoto)

*Ponpes Al Madina-STIT Madina Sragen

MESKI baru berdiri sejak 13 Februari 2013, tetapi Pondok Pesantren (Ponpes) Al Madina dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Madina, sudah memiliki ciri yang menjadi khasnya. Dimana para santrinya, selain belajar ilmu agama setiap harinya, juga harus menempuh pendidikan formal. Setiap Jumat, Sabtu dan Minggu para santrinya juga diharuskan menggunakan bahasa Arab dan pada Senin-Kamis harus berbahasa Inggris, sebagai bahasa kesehariannya.

M Fadlan salah satu pengasuh ponpes yang juga Direktur Yayasan Perkasa Nusantara yang membawahi STIT Madina mengatakan, kalau ada santri yang melanggar aturan itu, maka dia harus menerima sanksi bersih-bersih pondok, juga masak untuk para penghuni pondok. “Para santri kami beri pilihan, apakah nyantri di pondok saja atau juga sekaligus kuliah sarjana ilmu pendidikan Islam. Saat ini ada 19 orang santri yang memilih kedua-duanya, baik laki-laki atau perempuan,” kata Fadlan saat ditemui Kamis (25/7).

Fadlan mengatakan, untuk santri yang mondok di ponpes saat ini gratis. Juga untuk santri yang nilai kuliahnya diatas 3.00 juga disediakan beasiswa. Karena itu pihaknya menampung bagi para santri yang juga ingin kuliah di bidang pendidikan Islam. Di pondok, para santri belajar berbagai ilmu agama, seperti kitab kuning, bahasa Arab dan tahasus Al Quran. “Kami memang ingin para santri kami tidak hanya menjadi ulama yang mengerti dan faham agama saja, tetapi mereka juga memiliki ilmu pengetahuan dan kewirausahaan, sehingga mereka menjadi ulama yang intelek,” kata Fadlan.

Sekarang ini ada 19 santri Ponpes Al Madina yang juga sekaligus mahasiswa STIT Madina. Mereka tidak hanya dari Sragen saja, tapi dari daerah sekitar. Seperti Solo, Karanganyar, Boyolali, Demak, Grobogan, Purworejo dan Ngawi. Mereka kuliah di STIT Madina yang memiliki tiga jurusan strata 1 (S1). Yakni Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini(PIAUD) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). “Saat ini ada sekitar 380 mahasiswa yang kuliah di STIT Madina, tapi kami ingin lebih banyak santri yang juga kuliah,” tandas Fadlan.

Ponpes-Al-Madina2

Ponpes Al Madina sendiri memiliki tiga pengasuh yang merupakan alumni ponpes ternama di Indonesia. Kepala pengasuh ponpes adalah ustaz Abdul Rohman, asli Jambanan Sidoharjo Sragen yang dulu nyantri di Ponpes Tambak Beras, Jombang. Sementara STIT Madina memiliki 24 dosen dengan tiga diantaranya bergelar doktor dan 11 menempuh pendidikan doktor dan satu alumni perguruan tinggi ternama di Mesir.

Praktikan ilmu

Para santri mahasiswa Ponpes Al Madina-STIT Madina yang beralamat di Jalan HOS Cokroaminoto gang III nomor 3 Teguhan, Sragen Wetan ini, juga selalu diminta untuk mempraktekkan ilmunya langsung kepada masyarakat di sekitarnya. Terbukti para santri banyak yang menjadi guru mengaji, guru di Taman Pendidikan Al Quran (TPA) dan lain-lain.

“Kami memang selalu meminta agar para santri mahasiswa menerapkan ilmunya langsung ke masyarakat sebagai penguatan sumber daya manusia,” tandas Fadlan.

Muhammad Misbahul Munir salah satu santri mahasiswa Ponpes Al Madina mengatakan, dia memutuskan nyantri sekaligus kuliah karena ingin menjadi ulama dan juga guru atau dosen.

“Dengan nyantri dan kuliah kami tidak hanya dapat ilmu agama saja, tetapi juga ilmu pengetahuan, “ kata santri asal Mondokan Sragen ini. Mahasiswa semester dua jurusan Manajemen Pendidikan Islam ini mengaku juga masih belajar bahasa Arab dan bahasa Inggris agar semakin fasih. Sebab, sebagai santri dia juga harus mempelajari kitab kuning. (Basuni H)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here