Soal Pilkada Solo, PAN Solo Pilih Realitis

0
sekretaris-dpw-pan-jateng
FOTO DIRI : Sekretaris DPW PAN Jateng, Umar Hasyim. (suaramerdekasolo.com/Budi Santoso)

SOLO,suaramerdekasolo.comPilkada Solo tinggal setahun lagi yakni pada September 2020. Namun, pembicaraan-pembicaraan mengenai peta politik, dan figur-figur yang pas memimpin Solo ke depan menjadi diskusi hangat.
Begitu pula dengan partai politik-partai politik (parpol) di Kota Solo yang menjadi bintang dalam kompetisi akbar lima tahunan di Kota Solo ini.

Seperti diketahui PDI Perjuangan, partai yang di atas kertas menjadi peraih suara terbanyak pemilu 2019. Partai moncong putih juga pengirim kader terbanyak di DPRD Surakarta sebanyak 30 kursi, sehingga melenggang mengirimkan paket cawal-cawali pada Pilkada Solo 2020.
Lalu bagaimana dengan partai-partai lain, seperti PKS, PAN, Gerindra, Golkar dan PSI ? Masing-masing mengirimkan 5 kader dari PKS, 3 dari PAN, 3 Gerindra, 3 Golkar, dan 1 dari PSI.

PKS sebagai pemegang kursi terbanyak kedua DPRD Surakarta masih menunggu proses penetaapan perolahan suara dan calon terpilih DPRD Surakarta dari KPU. Namun demikian DPD PKS Surakarta sudah menyusun strategi-strategi dalam menghadapai proses pergantian kursi legislatif dan pilkada 2020. Adapun Partai Gerindra Solo sudah duluan memunculkan satu nama yang diharapkan bisa menarik simpati suara warga Solo.

Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN Solo, Umar Hasyim (UH) yang ditemui suaramerdekasolo.com, mengaku konstelasi politik 2019 yang sudah usai ternyata memberikan dampak signifikan dalam pilkada Solo 2020.
“Dengan komposisi perolehan kursi sementara di DPRD Surakarta, tentu saja PDI Perjuangan bisa mengajukan pasangan calon sendiri dalam pilkada. Nah, partai lainnya, ini harus segera berembug dan berkomunikasi aktif,” terang UH.

PAN yang memastikan diri mengirimkan tiga kadernya di parlemen tentu saja harus berkoalisi, di luar fraksi, agar bisa turut aktif dalam menyukseskan pilkada.
Menurut UH, PAN bisa berkoalisi dengan format apa saja untuk bisa berkompetisi, seperti bentuk koalisi PAN, Gerindra, Golkar. Atau bentuk koalisi lain PAN, Gerindra, Golkar berkoalisi dengan PKS.
“Kalau secara regulasi, tiga partai saat ini bergabung (PAN, Gerindra, Golkar) berarti bisa usung sendiri. 9 kursi kan 20 persen kursi di parlmen,” katanya.

Kalau partai-partai tidak bisa berkoalisi dan PKS, PSI juga tidak pro-aktif maka tentu saja, hanya PDI Perjuangan yang maju sendirian dalam pilkada. Sehingga tidak ada persaingan, PDI Perjuangan tidak ada musuhnya.
“Ini tidak elok, tidak ideal,” ujar Wakil Ketua DPRD Surakarta ini.

Tetapi lanjut UH, bila nanti PKS, PAN, Gerindra, Golkar bergabung tetapi bukan dalam kerangka koalisi fraksi, gabungan ini bisa mengusung satu calon lagi, maka ada persaingan kompetisi di pilkada. Apalagi muncul nama-nama yang berniat maju melalu jalur independen.

Pilih fleksibel

Terkait posisi PAN dalam bursa pilkada kali ini, UH menjelaskan, mengingat PAN hanya memiliki tiga kursi di parlemen, pihaknya sudah rembugan-rembugan dengan berbagai elemen, meski tidak formal. Pihaknya berinteraksi dengan parpol dan tokoh tokoh masyarakat di Solo. “Sebab partai tidak banyak artinya bila tidak berkomunikasi dengan ormas, dan tokoh. Dukungan kelompok-kelopok itu sangat penting untuk menyukseskan hal itu,” katanya.
PAN juga sudah melakukan komunikasi intensif dengan beberapa organisasi dan tokoh-tokoh.
Menurut UH, PAN tidak menuntup kemungkinan memunculkan juga, tokoh tokoh PAN, kredibel dan pantas dan memimpin Kota Solo. “Siapa nya, itu kan yang muncul yang banyak.”
” Tetap realistis, tidak ngotot, begini begitu. Tapi usaha penting. Fleksibel, lebih luwes, komunikatif dan parpol lain, tokoh-tokoh masyarakat dan ormas,” jelasnya. (Budi Santoso)

Tinggalkan Pesan