Waduk Lalung Karanganyar Mengering, Debit Air Tinggal 700.000 Meter Kubik

debit-waduk-lalung-karanganyar
WADUK LALUNG – Waduk Lalung, Karanganyar, Jateng yang mulai mengering sehingga seminggu ini saluran irigasi mulai ditutup.(suaramerdekasolo.com/Jokodh)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.comWaduk Lalung, Karanganyar, Jateng semakin mengering. Air yang normalnya bisa tertampung sebanyak 4 juta meter kubik kini tinggal 700.000 meter kubik. Karena itu pengelola Waduk Lalung memutuskan menutup semua saluran irigasi yang seharusnya mengaliri 2.000 hektar sawah di Mojolaban, Sukoharjo, dan Jaten serta Tasikmadu di Karanganyar, seminggu terakhir ini.

Agus Paryanto, Koordinator Pengelola Waduk Lalung mengatakan, saluran irigasi terpaksa ditutup karena air harus tetap tersisa di Waduk Lalung untuk supaya dinding waduk tetap dalam basah agar tidak merekah karena kering dan semakin rusak.

‘’Saat ini sudah sebagian yang mulai merekah, ada dua titik karena tanahnya kering sehingga longsorr dan mengakibatkan air Waduk dengan cepat menyusut sehingga tidak bisa untuk mengaliri saluran irigasi yang ada.’’ Kata dia.

Dia mengatakan, karena mengeringnya tanah akibat kemarau ini, pasokan air dari beberapa sungai yang berujung ke Waduk Lalung memang berhenti total sejak sebulan terakhir. Waduk yang mulai dibuat tahun 1940 dan difungsikan mulai tahun 1048 itu kini mengering dan sebagian tanahnya bisa ditanami warga untuk sawah.

Kalau airnya habis dan mengering total, maka dinding dan tubuh benungan akan labil sehingga bisa terjadi longsor di semua titik. Kalau itu terjadi maka waduk akan rusak dan tidak bisa difungsikan lagi, sehingga fungsinya sebagai sumber air untuk irigasi akan hilang.

Karena itulah air yang tersisa tetap dipertahankan, sehingga berguna untuk menahan dinding waduk tetap bertahan dan dalam kondisi basah. Resikonya saluran irigasi tidak teraliri saat musim kemarau ini, dan petani diharapkan bisa menggunakan pompanisasi untuk  mendapatkan air bagi sawahnya.

Dan ini sudah disadari petani sekitar waduk yang memang selama ini memanfaatkan air waduk, dan mereka sudah menyiapkan pompanisasi untuk sawah tersebut. Dan waduk tetap berfungsi ketika musim penghujan datang untuk menampung air yang mencapai 2 juta meter kunik.

Pompanisasi sawah

‘’Kami memang tidak memfungsikan waduk secara maksimal, sampai menampung 4 juta meter kubik karena kondisi waduk yang sudah labil dan longsor sebagian. Jika tetap difungsikan secara maksimal menampung  air sebanyak itu bisa jebol, malah membahayakan,’’ kata Agus.

Luas Waduk Lalung ada 80 hektar dan luas genangannya mencapai 74,4 hektar. Namun dengan kondisi sekarang yang mulai rusak di sisi barat dua titik, maka waduk tidak difungaikan secara maksimal. Namun fungsi pertaniannya masih berjalan.

Kadis Pertanian Karanganyar Supram Naryo mengatakan, mau tidak mau memang petani yang nekat menanam padi di musim gadu tekat ini, harus menyiapkan pompanisasi agar sawahnya tetap bisa panen. Memang tingkat produksinya banyak, belum ancaman puso swaktu-waktu karena kemarau yang cenderung ekstrim.

‘’Saat ini tidak bisa lagi mengandalkan irigasi meski ada di sekitar waduk Lalung maupun Waduk Delingan karena semuanya mulai mengering. Air waduk pasti sengaja disisakan untuk membasahi dinding waduk,’’ kata dia. Karena itu sampai kini ada 500 hektar sawah yang terancam puso.

Pengakuan Sarimin salah seorang petani, kalau menggunakan pompanisasi, butuh sekitar Rp 200.000 setiap kali ngelep air, yang dilakukan selama 70 hari pertama sejak menanam. Sisa hari panen sekitar sebulan sudah tidak perlu ngelep air lagi. Hitungannya, jika panen sekitar 4 ton, maka satu ton habis untuk biaya air.(joko dh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here