Kesalahan Manusia Dominasi Penyebab Kebakaran

kebakaran-hutan-sragen2
KEBAKARAN LAHAN TEBU: Petugas pemadam kebakaran bersama warga dan aparat keamanan memadamkan kebakaran lahan tebu yang terjadi di Desa Pantirejo, Kecamatan Sukodono, belum lama ini.

SRAGEN,suaramerdekasolo.comMasyarakat diminta selalu waspada pada musim kemarau seperti sekarang ini. Pasalnya pada musim kemarau kasus kebakaran di Kabupaten Sragen biasanya meningkat signifikan.

Catatan Bidang Pemadam Kebakaran Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sragen, hingga pertengahan Juli ini bencana kebakaran mencapai 70 kejadian. Terjadinya kebakaran didominasi oleh human error atau kesalahan manusia.

Kepala Bidang (Kabid) Pemadam Kebakaran pada Dinas Satpol PP Sunardi mengatakan, peristiwa kebakaran tidak hanya menyebabkan kerugian materi saja, namun juga hingga korban jiwa. “Sebagian besar bencana kebakaran terjadi karena faktor kesalahan atau kelalaian manusia,” kata Sunardi, pekan lalu. Menurut dia, sudah menjadi kebiasaan masyarakat di pedesaan membuat diang (perapian) di dekat kandang ternak mereka.

Kemudian mereka lalai akhirnya api yang ada di diang itu menyambar tumpukan jerami dan membakar kandang hingga rumah utama. Faktor lain karena hubungan arus pendek pada jaringan listrik dan juga lalai dalam menggunakan kompor gas, kelalaian pada saat mengelas atau menuangkan bensin dan lainnya.

“Paling banyak bakar-bakar di diang itu terus karena lupa atau dikira sudah mati lalu ditinggal. Jerami di rumah pakan ternak tersambar api lalu terjadi kebakaran. Kalau kompor tidak banyak, akibat korslet istrik malah lebih banyak dari pada kompor. Terus orang ngelas tidak diliat lagi bunga apinya,”jelasnya.

Sunardi menandaskan, faktor lain yang mempengaruhi tingginya bencana kebakaran yakni kemarau panjang seperti saat ini. Banyak dahan berguguran lahan tebu kering yang lalu memicu terjadinya kebakaran. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sendiri memberikan prediksi bila musim kemarau masih terjadi sampai Oktober mendatang. Oleh sebab itu perlunya kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya kebakaran.

kebakaran-hutan-sragen1
Petugas pemadam kebakaran sendiri selalu bersiaga 24 jam untuk mengantisipasi hal-hal yang terjadi. “Secara nasional musim kering sampai Oktober sesuai prediksi dari BMKG, sehingga kondisi kering itu mudah memicu terjadinya kebakaran, apalagi lahan tebu. Makanya kita siaga 24 jam antisipasi hal itu.,” tandasnya.
Pihaknya selama ini telah melakukan berbagai antisipasi, salah satu yang rutin dilakukan, adalah menggelar sosialisasi dan simulasi pemadaman kebakaran sampai ke tingkat desa. Bahkan setiap pertemuan dengan para kepala desa, Sunardi mengaku selalu menyampaikan imbauan agar kades mengingatkan warganya, agar waspada terhadap bahaya kebakaran.

Sunardi menyebutkan sampai kini Sragen baru memiliki 5 unit kendaraan pemadam kebakaran berbagai ukuran. Kendaraan penjinak api bersiaga di Posko Induk di Sragen dan Gemolong. Pihaknya mengusulkan kepada Pemda Sragen maupun pusat untuk menambah armada pemadam kebakaran, minimal setiap kawedanan ada. “Selama ini upaya pemadaman kebakaran terkendala jarak lokasi dengan posko terpaut jauh,” tegasnya. (Basuni Hariwoto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here