Berada di Luar, Pintu Komunikasi Terbuka Lebar

busana-keraton-surakarta5
SALAH SATU norma tata krama dalam Budaya Jawa yang sudah disesuaikan dengan perubahan zaman, adalah laku dhodhok (jalan jongkok), Tetapi, dalam bentuk pola edukasi di Sanggar Pasinaon Pambiwara, pengetahuan cara berjalan di lingkungan keraton itu perlu diberikan kepada kalangan siswa sanggar. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

 

*Penggunaan Busana Adat Boleh Berubah (2-bersambung)

KETIKA friksi berkepanjangan di Keraton Surakarta tidak segera menemukan solusi terbaik setelah membuat nyaris semua pintu komunikasi/dialog dengan pihak luar tertutup sejak 2017, sangat banyak yang menyayangkan, tetapi sebaliknya ada banyak juga yang diam-diam setuju. Dan di antara warga bangsa lainnya, ternyata banyak yang kemudian bersimpati, bahkan memiliki antusiasme yang tinggi untuk mengenal, memahami bahkan ingin belajar menjadi bagian dari kelembagaan masyarakat adat, agar bisa menjadi pelestari budaya Jawa yang ditinggalkan para leluhur pendiri Dinasti Mataram.

Itu berarti, pintu komunikasi/dialog hanya tertutup di kraton, tetapi terbuka lebar bagi kerabat yang sangat pro-aktif beraktivitas di luar. Pintu komunikasi/dialog itu bisa saja tertutup bagi sekelompok di sekeliling Sinuhun Paku Buwono XIII, karena selama ini nyaris pasif dan hanya berlindung di balik nama Sinuhun, karena lebih tertarik mengurus hal-hal yang berbau materi (proyek dan bantuan).
Pemandangan di luar tembok keraton, pintu komunikasi/dialog selalu terbuka lebar bagi kerabat besar yang tergabung dalam Lembaga Dewan Adat (LDA) yang dipimpin GKR Wandansari Koes Moertijah, karena punya sinergi sangat baik dengan masyarakat luas. Fakta riil di lapangan menunjukkan, Gusti Moeng dan kerabat LDA selalu tampak menjadi representasi yang tepat sebagai payung pengayoman dalam menjiwai, menjalankan nilai-nilai budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari, dan menjadikannya perekat ikatan silaturahmi persatuan bangsa yang sangat dibutuhkan.

Sebab itu, event sarasehan budaya yang digelar Pemkab Blora (Jatim) dengan menghadirkan GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng sebagai salah satu nara sumber, menjadi contoh nyata adanya kebutuhan di atas. Berbagai peristiwa wisudan bagi lulusan Sanggar Pasinaon Pambiwara, yang diteruskan dengan pembentukan pengurus Pakasa cabang di berbagai daerah, seakan menjawab kebutuhan payung pengayoman dan bimbingan terhadap para pelestari budaya Jawa dalam menjalankan norma-norma dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, untuk dijalankan dan disebarluaskan di tengah lingkungan sosialnya, mulai dari lingkup rumahtangga dan sekolah, wilayah hingga kehidupan warga bangsa.

busana-keraton-surakarta6
MEMBACA janji prasetya sambil berdiri di hadapan para dwija (guru) dan sesama siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta, merupakan salah satu bentuk penyesuaian terhadap perbuhana zaman agar sebuah acara wisuda berjalan lebih lancar mengingat terbatasnya waktu, sekalipun berlangsung di Bangsal Smarakata, sebelum 2017. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dalam Batas Pedoman

Peristiwa wisuda 150-an dosen dan guru bahasa Jawa se Jateng dan DIY di ndalem Kayonan, Baluwarti, sekitar sebulan lalu, adalah contoh riil sebuah pencarian yang dilakukan kalangan pendidik/pengajar untuk mendapatkan bekal kepribadian bagi diri dan lingkungannya, utamanya lembaga pendidikan tempatnya mengabdikan diri. Bahwa budaya Jawa yang di dalamnya mengajarkan nilai-nilai tata krama, tata susila, tata basa dan tata busana, sangat diperlukan dalam pembentukan karakter bangsa yang dimulai dari lingkungan terkecil keluarga, sekolah dan warga bangsa agar berkepribadian kuat.

Dalam peristiwa dialog ”Sarasehan Budaya” di pendapa Kabupaten Blora yang menghadirkan Gusti Moeng sebagai pembicara, mungkin hanya terbatas pada penjelasan tentang bagaimana Bupati Djoko Nugroho mengenakan busana dinas adat secara pas atau hal-hal lain yang menyangkut cara berbusana adat Jawa. Bahkan di situ juga ditegaskan, karena kalangan pejabat bupati/ wali kota menjadi bagian organ pemerintah NKRI secara hirarki maupun struktural, maka ada kebebasan mengenakan busana dinas adat kebesaran yang dibanggakan, namun untuk menggunakannya sangat perlu melihat pedoman dan paugeran bakunya.

Kebebasan yang tetap berada dalam batas-batas pedoman dan paugeran baku itu, juga berlaku bagi warga masyarakat luas kalangan bawah yang merasa ikut memiliki budaya Jawa dan hendak melestarikannya. Data yang diperoleh Suaramerdekasolo.com dari Yayasan Sanggar Pasinaon Pambiwara menunjukkan, justru dari kalangan masyarakat bawah yang menunjukkan antusiasme tinggi untuk mencari bagian dari dari jati diri dan kepribadiannya ke sumbernya, yaitu Keraton Surakarta, melalui kerabat LDA yang dipimpin Gusti Moeng itu.

Rentetan peristiwa wisuda yang terjadi Kabupaten Trenggalek dan Ponorogo, sebulan lalu, menjadi contoh nyata tingginya antusiasme itu. Padahal, peristiwa di dua tempat itu, ikut bergabung pula para sukarelawan yang menyiapkan embriyo pengurus Pakasa Kota Kediri, untuk menyusul sejumlah kota/kabupaten lain di Jatim yang sudah lebih dulu memiliki/mengikuti program belajar menjadi MC Jawa, budaya Jawa dan membentuk pengurus Pakasa.

Wisuda ratusan guru dan dosen Bahasa Jawa dari berbagai daerah di Jateng dan DIY itu, tentu sama arahnya untuk melakukan pencarian sesuatu yang sumbernya dari budaya Jawa, yang dipancarkan melalui Keraton Surakarta Hadiningrat karena penerus Dinasti Mataram inilah yang punya aset pujangga dan empu berbagai jenis kesenian. Karenanyalah, Keraton Surakarta kaya karya sastra maupun yang berbentuk lisan atau hawicarita, yang di dalamnya terkandung pengetahuan hal-ikhwal budaya Jawa sangat komplet, mengatur banyak hal tentang kehidupan secara luas, dalam tingkat pencapaian sangat tinggi dan sampai pada puncak-puncaknya. Maka, Jawa itu masuk dalam tingkat peradaban, karena juga mengatur kosmologi (jagad cilik/mikro kosmos dan jagad gede/makro kosmos), astrologi yang menjadi pedoman penanggalan/kalender dan pedoman bercocok tanam/pertanian.

busana-keraton-surakarta7

SEORANG guru (dwija) bidang ngadi busana (tata busana) dari Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta, memperagakan memberi contoh bagaimana berbusana adat yang benar dan tepat sesuai kaidah tata busana dalam budaya Jawa, dalam sebuah acara di Pendapa Sitinggil Lor, sebelum 2017(Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sampai Puncak Tertinggi

Mengapa disebut tingkat pencapaian sangat tinggi atau sampai puncaknya? Kalau siapapun yang mengaku wong Jawa mengetahui seperangkat stelan busana secara utuh, pasti memahami makna dan fungsinya secara tepat dan benar, karena semua itu masuk kategori sandangan yang secara fisik harus serasi agar bisa tampak indah, serta memancarkan wibawa. Bila secara spiritual kebatinan dan kerohanian, sandangan itu akan mengatur dan mengendalikan pemakainya agar selalu menjaga diri galam hubungannya dengan sesama (hablumminannas) dan terhadap Sang Pencipta (hablumminallah).
Pencapaian tertinggi sampai pada puncaknya, juga bisa dibuktikan seandainya ada wong Jawa yang mengenakan busana adat Jawa secara lengkap, tetapi mengenakan alas kaki selain slop misalnya sepatu booth, atau mengenakan tutup kepala selain blangkon misalnya topi pet, sombrero (topi koboi) atau helm, mengenakan piandel selain keris misalnya pistol atau clurit. Artinya, kelengkapan busana adat seperti yang sudah terbangun dalam budaya Jawa, sudah tidak bisa tergantikan lagi, karena frame of mind yang terbentuk dari budaya Jawa juga sudah lengkap, sampai pada puncaknya yang tinggi.

”Demikian halnya produk-produk lain peradaban (Jawa) seperti gamelan (karawitan), tari (pertunjukan gerak) dan wayang (seni pedalangan). Semua sudah sampai pada puncaknya. Bisa saja diothak-athik untuk diganti/dirubah di bagian sana-sini. Tetapi akhirnya dari sisi rasa tidak pas, tidak ketemu dan tidak enak. Padahal, seni adalah santapan rasa. Itulah hebatnya para empu dan pujangga-pujangga kita. Sampai sekarang tidak ada yang bisa menandingi,”
tunjuk Dr Purwadi membenarkan pendapat budayawan Prof Dr Damardjati Supadjar (alm), eks dosen filsafat UGM, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com. (Won Poerwono-bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here