Kasus Pinjaman Online Ilegal, Korban Mulai Jalani Pemeriksaan

korban-pinjaman-online-solo
Pemeriksaan: Korban pinjaman online YI didampingi dari LBH Soloraya tiba di Mapolresta Surakarta, Senin(29/7). Kedatangan YI adalah untuk memberikan keterangan kepada penyidik. (suaramerdekasolo.com/Ari Purnomo APL)

SOLO,suaramerdekasolo.comPenyidik Polresta Surakarta memanggil korban pinjaman online atau Financial Technology (Fintech) ilegal, YI (51), Senin (29/7). Pemanggilan ini ditujukan untuk melakukan pemeriksaan terhadap korban yang selama ini merasa diteror dan namanya dicemarkan oleh salah satu fintech yang diketahui bernama Incash. YI datang ke Mapolresta Surakarta dengan didampingi dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Soloraya. 

Dengan mengenakan masker, YI bersama dua pendamping dari LBH Soloraya tiba di Mapolresta Surakarta sekitar pukul 12.30 WIB. Selanjutnya YI masuk ke ruang penyidik. Dalam memberikan keterangannya, YI juga didampingi dari LBH Soloraya. 

Koordinator LBH Soloraya, I Gede Sukadenawa Putra mengatakan, kedatangan YI adalah untuk membuat berita acara pemeriksaan (BAP). Mengingat sebelumnya YI sudah melaporkan Incash ke Mapolresta dengan tuduhan pencemaran nama baik. 

“Klien kami ini datang ke Mapolresta Surakarta untuk membuat BAP. Dari laporannya yang dulu sudah ditindaklanjuti dan ini memberikan keterangan,” beber I Gede kepada wartawan. I Gede menambahkan, sebenarnya sudah ada tiga korban fintech yang melapor. Tetapi, baru YI yang dipanggil untuk BAP. Sementara dua pelapor lainnya yakni SM dan AZ belum dipanggil. 

Pemeriksaan yang dilakukan oleh penyidik ini salah satunya untuk memfokuskan pada nomor yang digunakan oleh pelaku untuk meneror korban. “Nomor pelaku ini sangat banyak, ada 30 nomor. Kemudian dipilah menjadi 20 nomor dan dipilah lagi akhirnya menjadi 10 nomor yang digunakan oleh pelaku,” ungkapnya.

Teror ini, masih kata I Gede, adalah dengan melakukan pencemaran, pelecehan, menyebut korban seperti hewan. Selain itu, korban juga diminta untuk menjual ginjal, menjual anggota tubuh yang lain. 

“Teror ini terus diterima oleh korban. Pelaku ini terus berganti nomor, setiap hari bahkan setiap jam selalu berganti nama. Tidak hanya dari Indonesia ada dua nomor dari RRT dan juga dari Malaysia,” tandasnya. (Ari Purnomo Apl)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here