Sukses Awasi Pemilu, Tak Dinyana Bawaslu Solo 5 Kali Berpindah Kantor

kantor-bawaslo-solo
BERFOTO : Aparat kepolisian dari Polresta Surakarta berfoto saat pengamanan di kantor Bawaslu Surakarta. (suaramerdekasolo.com/dok)

 

*Tiga Kali Bawaslu Mengontrak

SOLO,suaramerdekasolo.com – Dibalik susksesnya sejumlah pelaksanaan pemilihan umum di Kota Solo, baik pemilihan wali kota-wakil wali kota Solo, pemilihan gubernur Jateng, pemilihan legislatif dan pemilihan presiden sejak 2009 sampai sekarang. Ada kisah yang tak pernah dihiraukan publik dengan kiprah kesuksesan pengawasan penyelenggaraan pemilu oleh Badan Pengawas Pemilu Surakarta (dulu Panwaslu).
Sejak 2009 sampai dengan sekarang, lembaga penyelenggara pemilu ini sudah lima kali berpindah tempat.

Hal tersebut diungkap Ketua Bawaslu Surakarta Budi Wahyono, saat ditemui suaramerdekasolo.com di kantornya, kawasan Penumping, Kecamatan Laweyan, Solo, Jateng.
Budi membenarkan bila lembaga yang dipimpinnya sekarang ini belum memiliki kantor tetap alias mengontrak.
“Kantor bawaslu yang sekarang di Jalan Penembahan No 2 Penumping, Laweyan, Solo adalah rumah perorangan yang dikontrak,”ujar Budi.
Saat bergabung sebagai pengawas pemilu tingkat kota pada 2009 silam. Budi bersama ketua panwas waktu itu Sumanta berkantor di velodrome Stadion Manahan Solo. Pada saat bersamaan KPU juga tak jauh berkantor dengan pawaslu waktu itu yakni di kompleks Stadion Manahan Solo.
“Setelah 2009 kami pindah dan kontrak di Jalan Sam Ratulangi Gremet, Manahan Solo. Sementara KPU sudah memiliki kantor baru di Sumber Solo yang saat ini menjadi kantor KPU Solo,” beber Budi.
Dijelaskan lagi, pada saat pelaksanaan pilpres dan pileg 2014 sampai dilaksanakan Pilgub Jateng dan pemilu 2019, berturut-turut bawaslu pindah kantor lagi di Jalan Kenangan Badran, Banjarsari Solo.
Pilgup pindah lagi di Kepatihan, dan Pileg-pilpres mengontrak lagi di Penumpingi ini.
“Ya sudaj lima kali, kami pindah-pindah kantor,” imbuh Budi.

Kantor tetap

Lebih lanjut Budi menjelaskan, tantangan tak adanya kantor tetap bawaslu ini sempat menjadi perhatian pemerintah daerah. Status kantor yang mengontrak ini juga terus didiskusi dengan eksekutif dan legislatif di Solo.
“Karena kita masih belum punya kantor, mengontrak ini menjadi hal yang bisa dibicarakan dengan pemkot,” tandas Budi.
Dikatakan, pernah ada solusi dengan hal ini. Bahkan Bawaslu RIpernah memberikan solusi, dimungkinkan Bawaslu RI bisa menganggarakan dana untuk pembangunan gedung atau kantor bawaslu, syaratnya adalah pemerintah memberikan hibah tanah uang dibutuhkan.
“Ya itu saran yang diberikan Bawaslu RI. Kami pernah rasan-rasan informal dengan ketua DPRD Teguh, kalau ada tanah kosong bisa dihibahkan ke bawaslu Solo dan nanti pembangunannya didanai bawaslu pusat, tapi ini baru rasan-rasan (perbincangan informal-red) lho.”
Budi Menjelaskan, keberadaan kantor baru bagi bawaslu kota amat penting. Kisaran luas lahan yang dibutuhkan adalah 1.000-2.000 meter persegi. Nanti ada ruang persidangan cepatnya.
Sementara itu Ketua Komisi I DPRD Surakarta, Budi Prasetyo mengaku belum ad pembicaraan-pembicaraan tentang kebutuhan gedung baru dan permanen bagi bawaslu.
“Belum ada pembicara dengan kami. Mungkin saja pembicaraan kantor baru bawaslu itu sudah dilakukan pimwan (pimpinan DPRD-red). Tapi saya belum ada pembicaraan dengan bawaslu,” ucap wakil rakyat dari PDI Perjuangan ini. (Budi Santoso)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here