Jangan Ada Lagi Adegan Bal-balan Blangkon

busana-keraton-surakarta9
BUSANA yang dikenakan Sinuhun Paku Buwono XII saat asyik berbincang dengan KGPAA Mangkunagoro IX dalam suatu acara semasa hidupnya, adalah jenis busana raja yang disebut sikepan ageng sembagi. Di lingkungan Keraton Surakarta, hanya Sinuhun atau raja yang dibenarkan mengenakannya, sesuai paugeran baku produk peradaban/budaya Jawa.(Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Penggunaan Busana Adat Boleh Berubah (3-habis)

PENJELASAN GKR Wandansari Koes Moertijah yang mengutip salah satu sabda Sinuhun Paku Buwono X perihal wujud fisik bangunan pusat nagari Mataram Surakarta Hadiningrat dengan kalimat : ”….Sejatosipun, wewangunan Karaton Surakarta saking Gladag dumugi Gapura Gading (kalebet Masjid Agung), punika ingkang kasebat wewangunan budaya ingkang ngemu suraos sinandi, ingkang liripun dados paugeraning manungsa lumampah ing pabrayan…”, sangat jelas menunjuk contoh karya yang bersumber/berasal dari peradaban Jawa.

Sepenggal kalimat yang diungkapkan di forum Sarasehan Budaya yang dinisiasi Pemkab Blora itu, hendak menunjukkan bahwa secara fisik struktur bangunan kawasan Keraton Surakarta itu diawali dari arah utara hingga berakhir di arah selatan. Itu semua adalah simbolik dari perjalanan manusia sejak dilahirkan di dunia, beraktivitas natural sesuai kodratnya dalam kehidupan sehari-hari, kemudian memasuki tahap akhir untuk kembali kepada Sang Khalik.

Simbol dengan penggambaran seperti itulah, yang dinamakan produk budaya, bahkan ketika berbicara secara makro, itu merupakan bagian dari produk peradaban Jawa. Sabda Sinuhun Paku Buwono berikut yang berkait dengan itu, ”...Keraton Surakarta haywa kongsi dinulu wujuding wewangunan kewala, hananging sira kabeh padha nyumurubana wewarah kang sinandi, dimen tinuntun wajibing urip ing donya tumekeng wuri…..”.

busana-keraton-surakarta10
BUPATI PONOROGO Ipong Muchlisoni berpenampilan lugas tapi berwibawa dengan stelan busana adat produk budaya/peradaban Jawa, tanpa motif bordir simbol jabatan ”bupati manca” di masa nagari Mataram Surakarta Hadiningrat. Karena berada di luar keraton dan menjadi pejabat pemerintah republik.
(Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Berikut adalah petikan kata bijak Pujangga Surakarta :”…Ajining diri dumunung ana ing lathi, ajining sarira dumunung ana ing busana…..,”. Hal pokok yang perlu dicermati dari penggalan kalimat ini, adalah makna dan harga diri seseorang (bisa) ditentukan oleh caranya berpakaian/berbusana. Pandangan yang konklusif ini tentu dari salah satu sudut (berbusana) saja, karena sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat, khususnya bagi yang melegitimasi budaya Jawa.

Oleh sebab itu, prinsip-prinsip dasar bagaimana wong Jawa menyadari batasan-batasan norma dan nilai serta paugeran budaya Jawa, menjadi sebuah tuntutan yang sebisa mungkin diwujudkan dalam kehidupannya, dari lingkup paling kecil sampai menjadi bagian dari warga bangsa. Kesadaran terhadap batas-batas budaya itulah, pasti akan selalu menuntun para penganutnya selalu berada di tempat yang jauh dari sikap-sikap melanggar.

busana-keraton-surakarta11

LAIN lagi yang dikenakan KPA Winarno Kusumo (alm), KPH Broto Adiningrat, KPH Satryo Hadinagoro (alm) dan KPH Edy Wirabhumi saat hendak mengikuti upacara adat kebesaran Keraton Surakarta, tingalan jumenengan sebelum 2017. Busana yang dikenakan, khusus untuk upacara adat itu, yang sudah diatur dalam paugeran baku produk peradaban/budaya Jawa yang berlaku di kalangan Dinasti Mataram. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Main Lempar Blangkon

Kesadaran untuk menghargai semua produk peradaban peninggalan leluhur itu, termasuk yang berkait dengan karya-karya peradaban atau cabang-cabang budaya seperti yang banyak diajarkan di Sanggar Pasinaon Pambiwara, Sanggar Pawiyatan Pedalangan, Sanggar Pawiyatan Beksa dan unit-unit lembaga edukasi tentang seni budaya lain di Keraton Surakarta. Kesadaran serupa tentu saja juga terbangun di lembaga-lembaga pendidikan formal yang secara khusus mengajarkan cabang-cabang seni produk budaya Jawa, misalnya SMKN 8 Kepatihan dan Institut Seni Indonesia, karena sebagian besar yang diajarkan bersumber dari budaya Jawa gagrag Surakarta.

Sampai di sini, rupanya memori publik secara luas tentu masih ingat ketika di sebuah stasiun TV nasional menyiarkan acara hiburan drama komedi yang mengambil tema wayang. Dalam beberapa episode tertentu, pernah ada tayangan salah seorang atau dua orang tokoh pemainnya terkesan iseng bercanda melempar blangkon, dan dari yang tampak terkesan pula menangkap blangkon yang terlepat itu dengan kaki. Hal serupa juga diulang lagi di episode tayangan lain setelah itu, ada beberapa pemainnya yang sedang memperagakan sebuah lakon dalam serial lakon Maha Bharata, main lempar irah-irahan/songkok (penutup kepala) dan badhong/praba simbol kebesaran seorang raja.
Bagi orang awam, main lempar apalagi menendang blangkon, irah-irahan dan badhong, bisa mengundang kelucuan yang luar biasa, tetapi bisa saja dianggap biasa-biasa saja bagi penonton yang berasal dari wilayah etnik Jawa. Dan faktanya, setelah lima tahunan sejak ada tayangan adegan ”bal-balan blangkon” itu, sampai sekarang tak ada seorangpun warga etnik Jawa yang bereaksi. Apalagi warga yang bukan dari wilayah etnik itu, atau orang Jawa yang tidak tahu atau sudah tidak peduli dengan persoalan budayanya.

Mengapa kesannya tidak ada masalah dengan adegan itu? Mungkin saja, benda yang dijadikan ”bal-balan” dalam tayangan itu dianggap barang-barang perlengkapan pertunjukan seni yang tidak ada maknanya, barang tidak penting atau tidak ada artinya. Mungkin saja, benda-benda produk budaya yang diciptakan dengan kerja spiritual kebatinan (Jawa) itu dianggap kalah berarti atau kurang ”keren” dibanding jenis-jenis penutup kepala produk pabrik dan mode macam topi pet, topi laken, sombrero, peci hingga helm. Tetapi faktanya, hampir tidak ada model pertunjukan drama komedi yang on air atau off air, menggunakan perlengkapan ”impor” untuk ”bal-balan” atau dijadikan bola kaki.

busana-keraton-surakarta12
BUSANA ADAT yang dikenakan para warga Pakasa dan penari jathilan di Kabupaten Ponorogo, adalah jenis ragam produk perdaban/budaya Jawa, tetapi sudah diadaptasi sesuai cirikhas bumi warok yang tetap berestetika tapi berwibawa, apalagi saat bersanding dengan rombongan dari Keraton Surakarta, siang itu, beberapa waktu lalu.(Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Simbol Spiritual Kebatinan

Tetapi, mengapa blangkon, irah-irahan dan badhong itu harus jadi korban kelucuan/iseng sebuah drama komedi di TV? Padahal, blangkon adalah produk budaya/peradaban yang letak pemakaian selalu ada di kepala, dan kalau dilepaspun selalu ditempatkan sangat layak dan penuh sikap hormat. Dalam satu-kesatuan busana adat Jawa, blangkon dalam warna apapun terlebih yang punya kesan karakter klasik, adalah karya peradaban, yang diciptakan oleh empu, dan tentu memiliki makna harafiah dan penuh simbol spiritual kebatinan Jawa, misalnya yang dikenakan pahlawan nasional Panglima Besar Jendral Soedirman dalam berbagai situasi selama bergerilya merintis kemerdekaan.
Begitu pula dengan irah-irahan dan badhong, yang merupakan pengembangan dari seni pedalangan yang disebut wayang wong. Seni drama yang ceritanya diambil dari kisah Maha Bharata, Ramayana dan cerita Panji Keraton Kediri itu, sebagai seni pertunjukan selalu dilengkapi dengan busana dan atribut untuk membedakan satu tokoh dengan lainnya.

Perlengkapan itu adalah bagian dari produk busana, karena menjadi satu kesatuan dari cirikhas karakter tertentu tokoh pemerannya, yang diciptakan oleh empu -empu di masa lalu, untuk mengadaptasi sebagian cerita aslinya yang berasal dari India, agar tidak jauh dari ciri dan suasana kehidupan masyarakat di wilayah etnik Jawa, yang kemudian agar bisa diterima lapisan masyarakat lebih luas di Indonesia.

Juru penerang budaya KPA Winarno Kusumo sering mengutip literasi karya-karya para Pujangga Surakarta (Ranggawarsita dan Yasadipura), bahwa kata Jawa yang menjadi nama peradaban dan budaya itu, kependekan dari kata ”prasaja” dan ”walaka”. Di forum ”Sarasehan Budaya” yang diinisiasi Pemkab Blora, belum lama inipun Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) yang juga Pengageng Sasana Wilapa GKR Wandansari Koes Moertijah juga menjelaskan, ”prasaja” itu berarti lumrah atau gampang diterima/dimengerti/dipahami dan mudah dilakukan, sedangkan ”walaka” adalah jelas, apa adanya dan lugas.
Mantan Hakim Mahkamah Konstitusi Dr Haryono, dalam orasinya di Keraton Surakarta jauh sebelum 2017 menyebutkan referensi yang sangat akrab di kalangan masyarakat Jawa Timur bahwa kata Jawa artinya weruh atau tahu/ngerti/paham. 

busana-keraton-surakarta13

INOVASI atau kreativitas dalam busana adat produk peradaban/budaya Jawa, tak asal merubah atau mengotak-atik tanpa alasan jelas. Busana adat yang dikenakan warga Bumi Warok, Ponorogo (Jatim), memiliki kekhasan yang membedakan dari sumbernya Keraton Surakarta, namun tetap berestetika dan berwibawa.(Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)


Dalam penjelasannya doktor ilmu hukum tata negara asal Madiun itu menyebut, weruh yang dimaksud dalam terminologi kehidupan sebagai wong Jawa adalah mengerti/memahami/mengetahui apa yang seharusnya dimiliki dan dilakukan.
Memasuki alam perubahan, menuntut siapapun yang hidup pada peradaban masa kini harus realistis. Dan tampaknya, menyongsong masa kehidupan yang akan datangpun, tuntutan itu bisa makin meningkat.

Di alam kebebasan dan perkembangan apapaun khususnya yang menyangkut busana, trend mode dan trend berpenampilan, boleh saja berubah mengikuti zamanya. Dan di antara yang ada di dalam budaya Jawa, harus direlakan kalau ada yang hilang, berkurang atau bertambah, tetapi prinsip-prinsip dasar sebagai wong Jawa sebagai pedoman hidup tidak boleh hilang. Dalam orasi budayanya di Keraton Surakarta, beberapa tahun sebelum meninggal, dosen filsafat UGM yang juga budayawan Prof Dr Damardjati Supadjar menyebut, termasuk batasan-batasan yang mengatur bagaimana berbusana sesuai situasi, kondisi dan fungsinya, karena berbudaya (Jawa) pada hakikatnya adalah menjaga kesesuaian/keseimbangan atau jumbuh antara estetika dan etika, rasa dan nalar. (Won Poerwono-habis)

busana-keraton-surakarta14

BUSANA ADAT warga Bumi Warok, Ponorogo (Jatim), adalah busana adat produk peradaban/budaya Jawa khas Surakarta plus simbol-simbol warok seperti untaian tambang benah putih berukuran besar, sliwir pada bagian belakang blangkon serta celana panjang warna gelap di balik jarik atau kain yang dikenakan sebagai stelan beskap. Sangat khas, berestetika, berwibawa karena aksen-aksen tambahannya.(Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here