Polisi Bongkar Kasus Uang Palsu Senilai Rp 358 Juta

pengungkapan-uang-palsu
UANG PALSU – Kapolres AKBP Catur Gatot Efendy dan Kepala BI Solo Bambang Pramono meneliti uang palsu yang menjadi barang bukti. (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Polres Karanganyar sukses membongkar kasus uang palsu pecahan Rp 100.000 dan Rp 50.000 senilai sekitar Rp 358 juta dari tangan tersangka Agus Sapto Rahardjo (50) warga Jebres dan perempuan yang mengaku istrinya nama Martini Sembiring (49) warga Mojosongo, Surakarta.

Dalam jumpa pers bersama Kepala Bank Indonesia Solo Bambang Pramono, Kapolres AKBP Catur Gatot Efendy mengatakan, bermula dari laporan Hj Supadmi yang menyetor uang ke tersangka senilai Rp 157 juta, untuk uang panjar karena dijanjikan dana Rp 30 miliar untuk membangun pondok pesantren di Karanganyar.

Uang tidak kunjung cair dari Jakarta, padahal dia sudah menyetor uang panjar segitu besar dalam beberapa termin dengan kuitansi  yang ditandatangani tersangka. Akhirnya dia melaporkan ke Polresta Surakarta. Karena tersangka di wilayah Surakarta. Tapi karena locus delictinya di Karanganyar, maka tersangka diserahkan Polres Karanganyar.

Ternyata laporan tentang aksi kejahatan kedua orang itu tidak hanya satu. Karena beberapa orang melaporkan dijanjikan untuk menjadi tenaga honorer di beberapa kementerian di Jakarta. Keduanya memperlihatkan surat kuasa dari kementerian Bappenas yang menugaskan kwduanya untuk mencari tenaga honorer.

Dengan surat sakti itu, keduanya melakukan sejumlah penipuan kepada beberapa orang dengan membayar sejumlah uang untuk memuluskan menjadi tenaga honorer kementerian. Ternyata surat sakti itu belakangan ternyata palsu karena dicek di kementerian tidak ada surat sakti tersebut.

Atas kejahatannya, keduanya kemudian menjalani sejumlah pemeriksaan. Dan saat polisi membongkar mobil Datsun milik tersangka, polisi malah terkejut karena di bagasinya ada tas isinya sejumlah uang palsu rupiah dan beberapa mata uang asing Yuan, Euro, Brazilia, dan beberapa jenis lainnya. Juga uang asli lama pecahan Rp 100 –an.

Atas temuan itulah Polres berkoordinasi dengan Bank Indonesia karena berdasarkan UU no  7 tsahun 2011 tentang mata uang, jika memalsukan uang rupiah dikenakan denda sampai Rp 30 miliar dan kurungan sampai 15 tahun. Sesuai pasal 36.

‘’Bank Indonesia perlu turun tangan karena instansi itu yang memiliki alat dan juga kewenangan untuk menentukan uang yang ditemukan itu palsu atau asli. Uang itu menurut pengakuan tersangka sudah dibelanjakan di Wonogiri dan Banjarnegara sebanyak empat lembar.

Maka kasus yang menimpa tersangka menjadi berjenis-jenis, pertama kasus uang palsu, kedua kasus penipuan tenaga kerja karena sudah beberapa orang yang kena tipu dan lagi-lagi menyetorkan uang panjar untuk memuluskan menjadi tenaga honorer tersebut. Belum lagi kasus melarikan sertifikat, karena dalam mobil juga ditemukan sertifikat asli keluaran Kantor Pertanahan Sidoarjo seluas 7000-an meter dan 2.800 meter yang bukan miliknya.

Saat ditanya uang panjar ratusan juta itu digunakan untuk apa, tersangka mengatakan, uang itu untuk membayar hutang dan kehidupan sehari-hari. Dan uang yang dipisah dalam berbagai tabungan itu kini sebagian sudah habis.

Tersangka yang mengaku jualan buku keliling instansi secara freelance itu mengatakan, uang itu sebetulnya dia tidak tahu, karena dia hanya menerima satu tas kresek yang berisi uang palsu.

Sedangkan informasi tenaga kerja untuk menjadi tenaga honorer itu karena dia memang mendapatkan informasi saat keliling menjual buku ke berbagai instansi itu, sehingga lowongan tersebut diberitahukan ke orang lain. Namun sebetulnya hanya persoalan waktu saja untuk menentukan diterima atau tidaknya orang tersebut menjadi tenaga honorer di kementerian.

Begitu juga dengan uang bantuan itu, sebetulnya tinggal menunggu waktu saja cairnya, namun yang meminta tidak sabar. Sebetulnya dia memang bisa membantu untuk mencairkan bantuan untuk mendirikan pondok pesantren itu.

Sementara itu Bambang Pramono Kepala BI Solo mengatakan, melihat sepintas uang itu memang palsu. Saat ini tahun 2019 sudah terjadi 17 kali kasus uang palsu di Surakarta dengan jumlah uang mencapai 22.000-an lembar pecahan terbanyak Rp 100.000-an dan Rp 50.000..

‘’Kepada masyarakat harus hati-hati, dengan teori dilihat, diterawang, diraba saja sebetulnya sudah bisa dikategorikan uang itu palsu atau asli. Sebab uang asli ada cetakan timbul, ada garis atau pita pengaman yang tidak bisa ditiru dan lainnya.(joko dh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here