Tungguk Tembakau Awali Panen di Lereng Merbabu

kirab-tungguk-tembakau-selo-boyolali
KIRAB TUNGGUK : Kirab tungguk tembakau melewati jalan di areal ladang tembakau Desa Senden, Kecamatan Selo, Boyolali. (suaramerdekasolo.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI,suaramerdekasolo.com – Ritual Tungguk Tembakau digelar masyarakat Desa Senden, Kecamatan Selo, Sabtu (3/8). Ritual tahunan tersebut sebagai tanda syukur atas hasil panen tembakau tahun ini.

Diawali dengan kirab budaya yang membawa hasil bumi, gunungan tembakau dan gunungan nasi kuning beserta lauk pauknya. Diiringi sejumlah kesenian tradisional berkeliling di sepanjang jalan desa.

Kirab berakhir di makam dukuh setempat. Setelah didoakan bersama, gunungan nasi dan lauk pauk dibagikan kepada seluruh warga. Warga pun memakan nasi dengan lahapnya, apalagi sehabis berjalan jauh mengikuti kirab mendaki jalan perbukitan.

Tungguk tembakau merupakan tradisi yang digelar saat mengawali panen tembakau. Tungguk diartikan memetik. Ritual ini sebagai wujud syukur para petani sebelum memulai panen tembakau secara turun temurun oleh petani di lereng Gunung Merbabu wilayah Boyolali.

“Agenda tahunan ini dimaknai sebagai ucapan syukur kepada Sang Pencipta, sekaligus nguri- uri budaya Jawa,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali, Darmanto yang mewakili Pemerintah Kabupaten Boyolali usai pelepasan kirab. 

  • Bawa kemakmuran

Selain itu diharapkan dengan agenda ini sebagai wujud nilai luhur bangsa yakni gotong royong. Selain itu juga mampu meningkatkan kunjungan wisata di Boyolali terlebih wilayah Selo. 

“Harapannya membangun gotong royong, meningkatkan kunjungan pariwisata yang kita jual ke masyarakat. Bisa mempromosikan betapa kayanya Boyolali, betapa kayanya potensi lokal. Betapa indahnya budaya Jawa sebagai perekat persaudaraan kita semua.”

Keberkahan Tungguk Tembakau juga diyakini membawa kemakmuran bagi petani tembakau. Jadi para petani menjadi semakin sejahtera. Agenda ini mampu menarik perhatian salah satu artis nasional, Bertrand Antolin yang sangat antusias mengikuti acara. “Sangat bangga sebagai rakyat Indonesia melihat antusias masyarakat begitu kuat histori Boyolali. Masyarakat datang kumpul bersama. Itu sebagai simbol persatuan sebagaimana orang Indonesia yang gotong royong, kebersamaan. Di Jakarta sangat jarang seperti ini.” (Joko Murdowo)

Editor :Budi Sarmun

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here