Perlu, Pembentukan Pokja untuk Tangani Eks Napiter

0
22
Pokja-Tangani-Eks-Napiter
POKJA NAPITER – Fokus Grup Discussion untuk membentuk pokja penanganan proses rehabilitasi eks napiter yang dilaksanakan di Karanganyar, Senin (4/8). (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Eks narapidana militer butuh pendampingan untuk kembali ke masyarakat, dan tujuan utamanya agar mereka tidak kembali ke komunitas lamanya. Karena itu dibutuhkan kelompok kerja untuk menangani mereka secara bersama-sama dengan Pemkab sebagai leading sektornya.

‘’Karanganyar termasuk yang memiliki eks napiter, eks deportan dan returnis cukup signifikan. Eks napiter ada delapan orang dan jika digabung dengan lainnya ada 17 orang. Sehingga pembentukan pokja ini sudah sangat perlu,’’ kata Muh Rizki Maulana, Managing Director Yayasan Prasasti Perdamaian, yang menginiasi pembentukan pokja tersebut di Karanganyar, Senin (4/8).

Dia mengatakan, para eks napiter dan lainnya sangat perlu untuk didampingi. Termasuk agar mereka bisa mendapatkan kehidupan yang layak di masyarakat. Sehingga mereka bisa melupakan ajaran-ajaran yang salah yang mereka terima.

Dia mencontohkan, adanya penolakan sejumlah masyarakat karena eks napiter yang sudah bebas dari Bapas. Sebetulnya selama ini pembinaan sudah diserahkan pada Bapas. Namun harus diakui itu belum tuntas. Terbukti saat kembali ke masyarakat banyak penolakan.

Bahkan di Malang ada eks napiter yang rumahnya dilempari, dan justru provokatornya seorang dari unsur pemerintah. Hal itu mengakibatkan proses rehabilitasi dan proses reintegrasi terhambat. Ini bisa mengakibatkan mereka terdorong untuk kembali pada komunitasnya lagi.

Pembinaan

Agus Cipto Waluyo, Kepala Kesbangpol Karanganyar mengatakan, pokja sudah sangat diperlukan karena pendampingan untuk eks napiter itu sangat penting. Dan pemkab dalam hal ini bisa menjadi pendorong, namun untuk membina mereka agar bisa mendapatkan taraf hidup layak, diperlukan lintas sektoral.

‘’Bisa Dinas Sosial, Perdagangan, Tenaga Kerja, Kesehatan, dan lainnya. Sehingga penanganan yang lebih terkoordinasi akan bisa mengembalikan mereka ke masyarakat, dan mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik setelah bebas.

Jack Harun, eks napiter bom Bali 1 yang pernah menjadi perancang bom saat diledakkan Amrozi, Imam Samudra, dan Muchlas, mengatakan, saat ini dia mengelola sebuah lembaga yang khusus  mengumpulkan eks napiter untuk bersosialisasi.

Yayasan yang diberi nama Gema Salam menjadi tempat berkumpul para eks napiter bom Bali, bom Kuningan, dan lainnya. Selama ini mereka banyak mengeluhkan sulitnya kembali ke masyarakat setelah bebas dari Bapas.

Karena itu dia yang memiliki nama asli Joko Tri Hatmanto, seorang alumnus FKIP Teknik Mesin UMS  mengatakan, pemerintah perlu secepatnya turun tangan, termasuk jika ada uluran tangan untuk mengusahakan kartu sehat untuk keluarga mereka. Beruntung selama ini Yayasan Gema Salam berupaya keras untuk membantu eks napiter memperoleh kehidupan yang layak.(Joko DH)

Halaman: 1 | 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here