Penerima Bantuan seumur Hidup Baznas Naik, Jatah Fakir Miskin 52 %

baznas-karanganyar-zakat

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Penerima zakat dalam bentuk in natura (barang) mulai beras, telur, susu, kecap, mi instan, sabun, sampo, odol, dsb, di Karanganyar naik jumlahnya. Semula hanya sekitar 1.063 orang jompo, yang hidup sendiri, kini hampir 1.500 orang.

‘’Kenaikan itu karena kita menurunkan kriteria penerima bantuan. Dari semula hanya dibatasi yang berusia 70 tahun ke atas, jompo dan hidup sendiri, kini kita ubah, asal sudah 60 tahun ke atas hidup sendiri dan tidak punya penghasilan maka dia kita bantu,’’ kata Iskandar, Wakil Ketua Baznas Bidang Pentasyarufan, Selasa.

Ditemui di ruang kerjanya, Iskandar mengatakan, perubahan data itu dilakukan untuk memperbarui data. Setelah berjalan hampir tiga tahun, maka mungkin sudah mulai banyak data yang berubah, karena meninggal atau lainnya.

Bekerja sama dengan Dinas Sosial yang mengerahkan tenaga sukarelawan pekerja sosial, akhirnya terkumpul data baru. Data tinggal diverifikasi dan diserahkan untuk mendapat pengesahan Bupati. Dan jumlahnya memang bertambah.

‘’Hanya saja karena jatah untuk fakir miskin sudah 52 persen dari perolehan dana Baznas, maka untuk sementara mereka yang mendapatkan bantuan dari Baznas hanya 1.100 orang, dan lainnya kita carikan dana bantuan ke Dinas Sosial dan dana lainnya..

Kriteria memang diubah, karena banyak masukan yang mengusulkan penerima bantuan itu dengan kriteria lain. Misalnya seperti kasus di Karangpandan, ada perempuan sudah tidak punya sanak saudara, dan tinggal hidup sendirian serta diurus tetangganya.

Ada lagi masukan dari Jumapolo ada seorang bapak usianya sudah 80 tahun yang sendirian tanpa penghasilan mengurus anaknya perempuan usianya 60 tahun yang lumpuh. Mereka akhirnya diurus tetangga kanan dan kirinya. Kedua-duanya.

‘’Atas masukan-masukan itulah kemudian kriteria penerima bantuan diubah. Dan ernyata cukup banyak orang sudah jompo meski usianya belum 70 tahun namun karena kondisinya mereka hdup memprihatinkan,’’ kata Iskandar.

Saat ini jumlah fakir miskin masih mendominasi menerima bantuan dari Baznas, fakir ada 36 persen dan miskin ada 28 persen. Ini sebetulnya masih di bawah standar Baznas Pusat yang menyarankan agar penerima dana Baznas 60 persen untuk fakir miskin. Namun karena asnab lainnya masih butuh, maka dimaklumi meski tidak memenuhi batas 60 persen.

Bebaska bunga

Untuk ghorim saja masih ada, misalnya kasus di Tasikmadu yang menimpa pedagang pasar Tasikmadu yang ternyata tidak mendapat jatah kios. Sehingga tidak bisa berjualan. Dia memiliki hutang di sebuah bank syariah, yang ternyata malah diminta membebaskan bunga saja tidak mau. Akhirnya Baznas membayar hutang yang masih tersisa Rp 36 juta.

Ada lagi kasus seorang warga di Jatipuro yang memiliki hutang sebesar Rp 28 juta pada perorangan, dan digunakan usaha namun bangkrut. Beruntung yang dihutangi masih baik hati, di samping membebaskan bunga, juga mengurangi pinjaman untuk diinfaqkan. Akhirnya Baznas membayar hutang yang masih Rp 25 juta dan tidak mungkin bisa dibayar karena usahanya bangkrut.

‘’Masih banyak contoh kasus penerima zakat yang lain, misalnya penderita kanker darah di Tawangmangu yang dibantu rutin berobat, karena keluarganya tidak mampu. Ada penderita kanker yang harus berobat ke Solo tiap minggu. Dia juga kita bantu,’’ kata dia.

Baznas paling tidak bisa luwes membantu sesuai asnabnya. Sebab pemerintah memerlukan prosedur untuk memberi bantuan, padahal masalah warganya harus cepat dipulihkan.(Joko DH)

Editor :Budi Sarmun

 

 

Tinggalkan Pesan