Mempertaruhkan Nama Insitusi Keraton Surakarta

0
111
Beksan-Upacara-Adat8
BUKAN BEDHAYAN : Tari Srimpi Dempel karya semasam Sinuhun Paku Buwono IX, memang bukan jenis tari bedhayan, apalagi yang disakralkan. Tetapi dalam penyajiannya tetap terbatas pada kaidah-kaidah paugeran di bidang beksan khas Keraton Surakarta. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

 

*Desakralisasi Beksan Upacara Adat di Lingkungan Internal (Seri 3-habis)

DARI secarik kertas yang ditemukan di Sasana Pustaka tahun 1992, Sinuhun Paku Buwono III mendiskripsikan tarian Bedaya Ketawang dalam bentuk cakepan (lirik) gending iringan tarian sakral itu. Syair lirik gending Bedaya Ketawang itu melukiskan bagaimana Raja Mataram Panembahan Senapati menciptakan tarian itu.

Dalam tarian itu, sang raja melukiskan tokoh sentral dalam kisah pertemuan antara Kangjeng Ratu Kidul dengan Sang Panembahan. Dari lirik gending itu juga menggambarkan bagaimana terjadinya pergantian kepemimpinan dari Sang Panembahan ke Soesoehoenan (Sinuhun Paku Buwono).

Kemudian, data-data dalam secarik kertas yang ditemukan saat ada pendokumentasian naskah kuno yang dibiayai Ford Foundation (AS) tahun 1992 itu, juga menyebutkan bahwa penari Bedaya Ketawang ada 9 orang. Di situ juga disebutkan tentang kisah sedih (tangis) Kangjeng Ratu Kidul yang didengar Panembahan Senapati.

Menyimak sekilas penuturan Gusti Moeng tentang secarik kertas berisi tulisan yang diterjemahkan bersama-sama setelah ditemukan waktu itu, jelas sekali bahwa ada beberapa hal yang perlu dipahami menyangkut institusi Keraton Mataram, kemudian Mataram Surakarta, siapa figur Paku Buwono dan dari mana asalnya, ada maha karya Bedaya Ketawang dan maknanya sebagai apa dan seterusnya, dan seterusnya.

Logika yang berlaku ketika melihat fakta empirik institusi Keraton Surakarta dan tarian Bedaya Ketawang dan lain-lain yang melengkapinya secara fisik dan nonfisik, tentu lahir sebuah pengakuan dan kesadaran positif dan kolektif, minimal di kalangan masyarakat adat yang mewarisi dinasti dan melegitimasi produk peradaban/budayanya.

Kesadaran kolektif dan pengakuan terhadap fakta adanya (figur/leluhur) yang mendahului Sinuhun Paku Buwono, fakta adanya tari Bedaya Ketawang yang menjadi simbol-simbol institusi dan peradaban yang merepresentasikannya, fakta adanya kekuatan fisik dan nonfisik serta kewibawaan yang sakral yang menjadi salah satu cirikhas dan identitas yang mudah dikenali pada setiap pergantian generasi, sampai kapanpun.

”Nah…sekarang bagaimana kita ini? Karena, apa yang terurai di atas, sebenarnya bagian dari sebuah aturan yang kami kenal dengan paugeran. Lalu, bagaimana sikap kita sekama ini? Bagaimana perilaku kita ketika melihat fakta-fakta itu? Apakah kita sudah menempatkan warisan leluhur itu dengan baik? Apa cara-cara kita memperlakukannya sudah benar?

Selama kita masih mengaku sebagai kerabat penerus Dinasti Mataram, hukumnya wajib mematuhi paugeran itu. Termasuk bagaimana memuliakan Bedaya Ketawang. Karena beksan itu adalah simbol eksistensi Paku Buwono, dan tentunya simbol Keraton Mataram Surakarta,” tandas GKR Wandansari Koes Moertijah, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, tadi pagi.

Beksan-Upacara-Adat9
TIDAK TERMASUK : Jenis tarian Srimpi yang disajikan saat Gusti Moeng menerima penghargaan The Fukuoka Cultutre Prize Award di Jepang 2012 itu, tidak termasuk jenis tarian yang disakralkan atau bukan untuk upacara adat. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Simbol-simbol Sakralitas

Berbicara tentang Keraton Surakarta dan juga keraton-keraton yang sudah ada sejak peradaban masa ratusan tahun lalu, tak bisa dilepaskan dari persoalan magis atau sakral. Terlebih Keraton Mataram Surakarta, meski pindah dari Kartasura (kini Sukoharjo) ke Desa Sala menjelang tahun 1745 dan kemudian dideklarasikan sebagai nagari Mataram ing Surakarta Hadiningrat, bangunan kekuatannya merupakan perpaduan antara kerja fisik dan nonfisik.

Tak hanya saat mendirikan dan membangun hingga seluruh kawasan keraton tuntas, saat boyongan pindah dari Kartasura menuju Desa Sala menjelang 1745 itu juga tentu tak ketinggalan membawa sesuatu (bekal fisik dan nonfisik) yang kemudian menjadi bangunan keraton. Tentu saja, Bedaya Ketawang ada di dalam barisan boyong kedhaton itu, karena simbol figur raja dan institusi itu adalah simbol sakralitas keraton, apalagi bagian-bagiannya ada yang berasal dari Majapahit, sebelum dilengkapi Panembahan Senapati dan Sultan Agung di Mataram di Plered dan Kutha Gedhe).

Sampai di sini, bisa dibayangkan bagaimana eksistensi tari Bedaya Ketawang yang begitu berati bagi institusi Keraton Surakarta penerus Dinasti Mataram itu, dan tentu saja bagi masyarakat adat keturunan dinasti. Sebab, tarian sakral ini tidak dimiliki Keraton Jogja, Pura Pakualaman dan Pura Mangkunegaran, sekalipun ketiganya sama-sama pewaris Dinasti Mataram dan punya tarian yang disakralkan untuk upacara adat kebesaran masing-masing.

”Hampir semua tari produk empu-empu keraton dari Dinasti Mataram rata-rata memang disakralkan di lingkungan masing-masing. Dan itu tidak bisa disebut sebagai sikap mengkultuskan. Tetapi kalau hampir semua karya seni produk keraton, punya spirit ketuhanan, itu betul sekali. Hampir semua sikap gerak (tari) dan cakepan (lirik) iringannya, merupakan ekspresi pengakuan terhadap keagungan Sang Pencipta,” tunjuk salah seorang pamong Sanggar Beksa Keraton Surakarta, KPH Raditya Lintang Sasangka.

Beksan-Upacara-Adat10
TETAP BERPEDOMAN : Meski tari Bedaya Sukaharja bukan termasuk jenis tarian bedhayan yang disakralkan di Keraton Surakarta, ketika disajikan di kesempatan Hari Tari se-Dunia di Kampus ISI Solo beberapa waktu itu, tetap berpedoman pada kaidah-kaidah paugeran yang berlaku di keraton. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Tetap Ada Aturannya

Baik Gusti Moeng maupun KPH Raditya secara terpisah menyatakan kepada suaramerdekasolo.com, pihaknya setuju bahwa setiap bentuk karya terutama tari yang berasal dari lingkungan keraton, apalagi dijadikan simbol eksistensi institusi (keraton), memang ada tempatnya sendiri untuk mempergelarkannya, contohnya tari Bedaya Ketawang.

Sebab itu, ketika di Gedung Kesenian Jakarta digelar Festival Bedhayan, akhir Juni lalu, kata-kata maklum diberikan kepada setiap sajian penyusunan tari yang digelar peserta, karena memang bukan tari Bedaya Ketawang yang disajikan. Seperti karya budayan Jaya Suprana yang berjudul tari ”Bedhoyo Uro-uro” misalnya, justru diapresiasi sebagai bentuk-bentuk pelestarian kesenian tradisional yang bersumber dari keraton tetapi dilakukan di tengah kehidupan luas di luar keraton.

Dari semua yang dipergelarkan karya koreografer atau institusi yang berbeda, semua menggunakan kata bedaya, karena ada bagian-bagian yang secara representatif mewakili jenis tarian dari rumpun bedayan itu, misalnya harus diperagakan sembilan penari. Event itu tentu tidak bermaksud mendesakralisasi Bedaya Ketawang, meskipun hampir semua sajian peserta festival menggunakan simbol-simbol yang hampir sama, misalnya karya ISI Solo yang berjudul Bedaya Lola.

Begitu juga, Gusti Moeng selaku pimpinan Sanggar Pawiyatan Beksa Keraton Surakarta, juga punya repertoar tari bedayam yang cocok dipentaskan di luar keraton, karena memang bisa dikatakan tidak memiliki unsur sakral. Misalnya Bedaya Kiranaratih, Bedaya Sukoharjo dan karya yang pernah disusun sendiri yaitu Bedaya Sukamulya, yang terhitung sering ditampilkan di luar keraton.

”Walau bisa ditampilkan di luar keraton, tetap saja harus memenuhi beberapa persyaratannya, agar kewibawaannya sebagai produk budaya tetap terjaga. Apalagi yang bersumber dari keraton. Karena dari semua yang saya lihat di festival itu, tetap berpedoman pada paugeran baku, di antaranya penyajinya 9 penari. Itu salah satu hal yang bisa diidentifikasi,” tunjuk Gusti Moeng yang mengaku diundang hadir menyaksikan jalannya festival itu.

Beksan-Upacara-Adat11

PRODUK BARU : Meski disajikan di ruang gedhong Sasana Handrawina yang masih masuk kawasan kedhaton, tetapi tari Bedaya Sukamulya yang melibatkan sejumlah putri Sinuhun PB XII termasuk Gusti Moeng, adalah produk baru dan bukan jenis tari yang disakralkan.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Puncak-puncak Budaya

Memang, perlengkapan pendukung sajian tiap peserta festival, misalnya kostum, masih bisa dirubah-rubah komposisi warnanya. Tetapi itupun tetap butuh keserasian, agar tetap terjaga estetika dan faktor jumbuh-nya sebagai sebuah karya seni ekspresi rasa. Karena, karya budaya, apalagi karya peradaban, adalah puncak-puncak budaya tertinggi yang sudah sampai titik optimal dan sulit tergantikan untuk bisa diterima dengan dimensi rasa kebatinan, apalagi dimensi akal sehat.

Berkaca dari semua peristiwa budaya yang memperlihatkan sajian karya tari itu, tentu sangat menuntut kearifan para penyelenggaranya. Kalaulah yang digelar tari Bedaya Ketawang, tentu menuntut kearifan plus berbagai persyaratan lain yang sesuai paugeran yang berlaku di internal masyarakat adat Keraton Surakarta itu.

Jangan sampai, masyarakat di luar dituding tak peduli pelestarian seni budaya, padahal masyarakat internal keraton sendiri malah mendegradasi dan mendesakralisasi legacy yang ditinggalkan leluhur dan yang seharusnya dilegitimasi. (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here