Soal Penutupan Jalan Bawah Fly Over, Bupati Karanganyar Buka Kesempatan PT KAI Negosiasi

0
35
flayover-palur-karanganyar2
LALU LINTAS : Kendaraan melintas di pelintasan kereta api di bawah fly over Palur. (suaramerdekasolo.com/Irfan Salafudin)

KARANGANYARsuaramerdekasolo.com –  Pemasangan wessel (alat untuk langsir kereta api) di jalan bawah flyover Palur terus menjadi dilema. Bupati Karanganyar Juliyatmono yang menolak penutupan jalan, memberikan kesempatan pada PT Kereta Api Indonesia bernegosiasi untuk berbicara ulang soal rencana itu.

‘’Prinsipnya, kami tetap terbuka untuk diajak berembug bersama, namun dengan satu syarat penutupan jalan itu tidak dilaksanakan. Mungkin bisa dicari teknologi lain yang lebih canggih untuk memasang alat itu tanpa menutup jalan,’’ kata Kadis Perhubungan Sundoro, usai upacara pembukaan lomba yel-yel di Alun-alun Karanganyar, Kamis.

Sebagaimana diwartakan, Humas PT KAI mengatakan, pemasangan wessel itu masih harus dibicarakan lagi dengan Bupati Karanganyar agar tidak menjadi dilema. Dan sampai sekarang masalah itu belum diputuskan (Suara Merdeka,8/8/219).

Sundoro mengatakan, yang tetap tidak disetujui Bupati adalah soal pemasangan wessel harus dengan penutupan jalan bawah itu. Menurut Bupati, hal itu menjadikan kemunduran di area bawah flyover tersebut.

‘’Bisa dibayangkan kalau wilayah itu akan menjadi mati karena penutupan jalur perlintasan kereta api tersebut karena adanya wessel itu. Semua kendaraan harus memutar ke barat dulu, baru ke timur masuk ke flyover.

‘’Padahal ada arus kendaraan dari dan ke Sragen dan Surabaya karena harus masuk tol lewat interchange Kebakkramat. Ada arus kendaraan dari Karanganyar yang juga harus belok ke arah Sragen dan Surabaya. Mereka harus memutar di jalur bawah,’’ kata dia.

Belum lagi crowded di perputaran Jurug yang digunakan memutar semua kendaraan yang menuju ke dan dari Karanganyar. Sudah pasti akan membuat jalur itu makin padat.

Tidak dipakai atau hanya sedikit yang memutar seperti sekarang saja sudah padat dan sering terjadi kecelakaan, apalagi kalau seluruh kendaraan harus naik ke flyover, Tentu akan sangat padat sekali dan rawan kecelakaan bertambah.

Satu hal lagi, banyak anak-anak sekolah dan pedagang sayur yang memanfaatkan jalan itu saat bekerja dan sekolah. Sangat kasihan jika mereka harus memutar ke barat, akan sangat jauh. Juga, area itu sudah menjadi area bisnis, banyak toko dan warung berdiri. Belum pedagang kaki lima di malam hari, apakah mereka harus dimatikan sekalian?

Negosiasi Dengan Bupati

Pertimbangan itulah yang menjadi keberatan Bupati untuk menutup jalan tersebut. PT KAI tidak bisa memikirkan kepentingannya sepihak saja. Sehingga harus dicari teknologi wessel yang tidak harus menutup jalan.

Bupati dan juga pihak Dishub menurut Sundoro sudah diundang untuk membicarakan masalah itu dengan PT KAI. Namun karena kesibukan dan saat ini sedang banyak kegiatan dalam rangka 17 Agustus, maka undangan dari PT KAI untuk sementara ditunda dulu.

‘’Karena kesibukan Pak Bupati yang tinggi, maka urusan wessel sementara diabaikkan dulu, nanti kalau sudah longgar dibicarakan lagi. Namun prinsip, Pemkab tidak mau ada penutupan. Urusan itu perlu dipikirkan PT KAI sebelum bertemu untuk bernegosiasi dengan Bupati. Kalau bertemu hanya untuk menegaskan penutupan jalan, jelas ditolak,’’ kata Sundoro.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here