Oh…, Nasib Sang Pahlawan Nasional Sultan Agung

pahlawan-nasional-sultan-agung1
KANCA KAJI : Keraton Surakarta memiliki Masjid Agung dengan berbagai komponen kelengkapan upacara keagamaannya, di antara abdidalem kanca kaji seperti yang diinisiasi kembali keberadaannya oleh Gusti Moeng, malam Jumat Legi (8/8) di Masjid Agung. Komponen kelembagaan takmir masjid itu salah satu karya inisiasi Sultan Agung Prabu Hanyakrakusumua. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)


*Haul Setelah 300-an tahun Wafat

KEJADIANNYA seperti dilukiskan dalam sepenggal lirik lagunya pedangdut kesohor Rhoma Irama, ”…..Kalau sudah tiada baru terasa….; Bahwa kehadiranya sungguh berbarga……,”. Nasib sang Raja Mataram Islam atau pendiri Kerajaan Mataram Islam yang bernama lengkap Sultan Agung Prabu Hanyakrawati itu, ada kemiripannya dengan yang dilukiskan sepenggal lirik tersebut. Sungguh kasihan.

Angan-angan melambung tinggi teringat pada nasib Sang Pahlawan Nasional, ketika mendengarkan lantunan gending ”Eman-eman” yang diperdengarkan lima swarawati dalam sajian seni santiswaran di pendapa kagungandalem Masjid Agung Keraton Surakarta, Kamis malam Jumat Legi (8/8). Sambil ikut bersimbuh bersama sekitar 500-an jamaah yang hadir malam itu, seakan ikut menangis meratapi nasib Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, karena ternyata kebesaran namanya itu luput dari perhatian bangsa yang besar, yang sering dipersepsikan menjadi bangsa yang selalu menghargai jasa-jasa dan perjuangan para pahlawannya atau ”mikul dhuwur, mendhem jero”.

Sampai pada garis pemahaman itu sebagai bagian dari jamaah yang hadir pada malam itu, tentu kemudian bertanya-tanya, mengapa doa, tahlil dan zikir untuk Sang Pahlawan Nasional baru sekarang diadakan? Mengapa Keraton Mataram Surakarta baru sekarang mengadakan ungkapan doa itu? Mengapa Keraton Surakarta yang harus mengadakan doa, tahlil dan zikir untuk memperingati meninggalnya Sang Pahlawan Nasional nan besar bagi ”bangsa Jawa” khususnya, dan bagi siapa saja yang merasa mendapatkan pedoman hidup dari Sang Pahlawan?

pahlawan-nasional-sultan-agung2.jpg
DOA, TAHLIL DAN ZIKIR : Ungkapan doa, tahlil dan zikir dikumandangkan kalangan kerabat besar Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta di kagungandalem Masjid Agung, untuk mengenang wafat atau haul Sang Pahlawan Nasional Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, malam Jumat Legi (8/8). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Masih banyak rentetan pertanyaan yang bisa muncul, ketika mengingat siapa sosok tokoh Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma dan bagaimana peran dan jasa-jasanya terhadap bangsa di Nusantara ini. Serentetan pertanyaan itu, bisa muncul begitu saja setiap saat jauh lebih banyak, oleh warga bangsa ini secara luas yang hidup di alam milenial, di negara berpenduduk Islam terbesar yang demokratis sekarang ini.

Di Tengah Hiruk-pikuk

Pertanyaan-pertanyaan itu pasti gampang muncul, terutama setelah benar-benar mengenal siapa sebenarnya sosok Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma. Karena di tengah hiruk-pikuk kegiatan spiritual keagamaan yang bermunculan di berbagai wilayah sampai yang tempat terkecil sekalipun selama ini, tak pernah terdengar sekalipun ada acara yang berjudul upacara adat/pengajian akbar mengenang atau haul atau khol Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma.

”Seingat saya, memang baru yang kami mulai ini (kemarin malam-Red). Mungkin saja pada waktu dulu memang tidak pernah ada atau tidak sempat mengadakan, saya tidak tahu. Tetapi rasanya adanya yang kurang, ada yang ganjil. Di tengah hiruk-pikuk berita di mana-mana ada haul, kok tidak pernah terdengar khol Sultan Agung?,” ujar GKR Wandansari Koes Moertijah selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com tadi siang.

Sebagai Ketua LDA yang menyelenggarakan doa, tahlil dan zikir mengenang wafat Sultan Agung, tepat malam Jumat Legi itu, GKR Wandansari yang akrab disapa Gusti Moeng menyebutkan, pihaknya memang sudah rutin menggelar upacara spiritual keagamaan mengenang atau khol Sinuhun PB X, PB XII, KGPH Kusumoyuda dan beberapa tokoh lainnya di Keraton Surakarta. Namun diakui, pihaknya seperti dilupakan sampai tidak pernah menggelar doa, tahlil dan zikir untuk sang eyang Pahlawan Nasional Sultan Agung, sebagai leluhur yang pernah berjasa melegalisasi bangunan dan ”konstitusi” Dinasti Mataram.

Padahal, sebagai pendiri Keraton Mataram Islam (1593-1645) setelah Keraton Demak (1500-an), Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma juga menciptakan komponen-komponen kelengkapan upacara keagamaan untuk segala keperluan, terutama yang berkait dengan hari besar Islam.

CALON PUTRA MAHKOTA : Dua orang generasi kedua Sinuhun Paku Buwono XIII yaitu calon putra mahkota KGPH Mangkubumi dan GKR Timoer hadir dalam acara doa, tahlil dan zikir Sang Pahlawan Nasional Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di kagungandelam Masjid Agung, malam Jumat Legi (8/8). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Tidak Otomatis Lahir Kesadaran

Misalnya yang berkait dengan Lebaran, ada Garebeg Syawal dengan segala kelengkapan upacaranya, juga lailatul qadar atau Malem Selikuran dan sebagainya, yang semuanya sudah lengkap dengan komponen abdidalem tafsir anom, abdidalem kanca kaji, abdidalem ketib dan beberapa komponen lain sesuai keperluannya yang selalu siap di dalam kagungandalem Masjid Agung (hingga sekarang), dan masjid-masjid yang didirikan di sepanjang garis wilayah pantai utara (pantura) Jawa, yang dulu menjadi rute perjalanan prajurit angkatan perang yang dikirim Sultan Agung untuk mengusir VOC yang berlabuh di Sunda Kelapa (Jakarta).

”Tentu saja kami mohon maaf kepada eyang-eyang, terutama eyang Sultan Agung. Sebagai generasi penerusnya, kami merasa bersalah dan khilaf. Karena setelah 400-an tahun, baru sekarang Keraton Surakarta menggelar haul atau khol untuk mengenang wafatnya. Mudah-mudahan, setelah ini kami bisa mengadakan khol eyang Sultan Agung secara rutin di kagungandalem Masjid Agung Keraton Surakarta. Karena, sudah sangat tepat kalau kerabat Keraton Surakarta yang mengadakan upacara peringatan wafat beliau,” tutur Pengageng Sasana Wilapa itu lagi.

Menyimak penjelasan Gusti Moeng, sangat disadari menjadi hal yang sangat manusiawi apabila hal-hal seperti di atas sampai terlewatkan. Karena, sekalipun Keraton Surakarta berada di alam kemerdekaan sejak 1945, apalagi Sinuhun Paku Buwono XII jumeneng nata hingga 2004, bukan berarti situasi dan kondisinya otomatis menjadi memungkinkan untuk menggelar upacara keagamaan mengenang wafat leluhurnya pendiri Mataram Islam itu.

pahlawan-nasional-sultan-agung4.jpg
EMBRIO HAUL : Doa , tahlil dan zikir yang dipimpinan abdidalem juru donga KRT Pujo Setiyonodipuro di kagungandalem Masjid Agung, malam Jumat Legi (8/8), merupakan acara keagamaan yang dijadikan embiro haul Sang Pahlawan Nasional Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma yang akan digelar kerabat LDA rutin tiap tahun. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Begitu pula ketika suksesi berlangsung ke tangan Sinuhun Paku Buwono XIII sejak 2004 hingga kini, sebuah kondisi yang otomatis senyatanya juga tidak terjadi, apalagi bentuk-bentuk kesadaran dalam porsi kolektif sekalipun, senyatanya juga tidak pernah terlahir atau tidak pernah terwujud. Kesadaran untuk mengenang dan memberi penghargaan dalam bentuk ucapan doa, tahlil dan zikir, baru terlahir di antara sekelompok kerabat trah keturunan Sinuhun Amangkurat hingga generasi kedua Sinuhun PB XIII yang tergabung dalam LDA yang dipimpin Gusti Moeng.

Safari Perjalanan Spiritual

Kesadaran itu baru terbangun ketika Gusti Moeng menghadapi situasi dan kondisi Keraton Surakarta sedang dilanda prahara dan menghadapi masa sulit dalam hubungan kekerabatannya. Kesadaran itu baru terbangun setelah beberapa lama Gusti Moeng melakukan safari perjalanan spiritual di berbagai tempat eks wilayah nagari Mataram, untuk merajut kembali ikatan tali silaturahmi di kalangan kerabat penerus Dinasti Mataram, dan di kalangan masyarakat penerus yang leluhurnya pernah melegitimasi supremasi peradaban dan budaya Jawa, yang terpancar dari Keraton Mataram.

Sebab itulah, ketika duduk bersimpuh atau bersandar saka guru masjid di acara doa, tahlil dan zikir yang diinisiasi Gusti Moeng tepat di malam wafatnya Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, malam Jumat Legi (8/8) di kagungandalem Masjid Agung Keraton Surakarta itu, hati seakan ikut menangis dan pikiran seakan ikut melayang jauh. Apalagi, sambil mendengarkan bunyi instrumen kemanak dalam sajian seni santiswaran, yang mengiringi gending ”Eman-eman” sebagai ajakan bersembahyang (salat) dan gending-gending lain yang bernafaskan keagamaan.

pahlawan-nasional-sultan-agung5.jpg
UNIT KESENIAN : Nyaris di setiap upacara keagamaan terutama menyambut hari besar Islam di Keraton Surakarta, selalu menyertakan unit kesenian misalnya santiswaran seperti yang tampak di antara yang hadir pada acara doa, tahlil dan zikir untuk Sang Pahlawan Nasional Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di kagungandalem Masjid Agung, malam Jumat Legi (8/8).
(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Instrumen seni santiswaran berikut lirik-lirik gending yang diiringi, sungguh mengingatkan pada iringan tari Bedaya Ketawang yang pernah diciptakan Panembahan Senapati sang pendiri Keraton Mataram, ketika digelar pada peringatan tahta raja atau tingalan jumenengan. Sebuah karya seni musik (dan tari) yanghebat, karena bisa membawa setiap orang yang mendengarkan, langsung tertuju kepada kebesaran Sang Maha Kuasa atau Allah SWA. Apalagi ketika disajikan dalam bentuk santiswaran dalam sebuah upacara keagamaan macam (embriyo) khol Sultan Agung, di ruang pendapa Masjid Agung Keraton Surakarta, dengan segala makna isi gending yang penuh ajaran kebajikan dan pitutur yang bersifat ketuhanan.

Bila kesadaran itu baru terlahir sekarang, sangat bisa dimaklumi, mengingat situasi dan kondisi kehidupan dan dinamika perjalanan yang dihadapi kerabat besar yang tergabung dalam LDA hingga kini, memang sangat berat. Dan sepenggal syair lagi Rhoma Irama itu, juga seakan bisa menuntun pada kesadaran bahwa sebesar/sehebat apapun seorang tokoh, bisanya barulah diingat dan disadari/terasa kebesarannya dan sangat berharga saat sudah jauh tiada.

”Sekali lagi. Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma memang luar biasa. Beliau bukan sembarang tokoh, bukan sembarang pahlawan. Beliaulah yang ikut menyiptakan nilai-nilai yang menjadi pedoman hidup warga bangsa yang berbudaya ini,” tegas Wakil Pengageng Langen Budaya KPP Hernowo di tempat terpisah. (Won Poerwono)

pahlawan-nasional-sultan-agung6.jpg
JAMAAH PAKASA : Di antara yang hadir dalam upacara doa, tahlil dan zikir untuk Sang Pahlawan Nasional Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di kagungandalem Masjid Agung, malam Jumat Legi (8/8), adalah para jamaah warga Pakasa yang tersebar di lingkungan masjid-masjid yang pernah disinggahi raja-raja Paku Buwono di masa lampau. Masjid-masjid itu tersebar di wulayah yang luas, melampaui batas provisi Jawa Tengah.
(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here