Kisah Tiga Bersaudara Di Boyolali Hidup Kekurangan

Tiga-Bersaudara-Hidup-Kekurangan1
MEMASAK : Adik Teguh, Indah Puspitasari tengah memasak di dapurnya di Kampung Ngepreh, RT 5 RW 3 Kelurahan Kepoh, Sambi, Boyolali.(Suaramerdekasolo.com/Ari Purnomo APL).

 

*Ayah Meninggal, Ibu Pergi Dengan Suami Baru

BOYOLALI,suaramerdekasolo.com-  Nasib tiga bersaudara di Boyolali ini tergolong begitu memprihatinkan. Ayahnya Muntahan meninggal, sedangkan sang ibu pergi dengan suami baru. Tiga bersaudara itu adalah Teguh Waluyo (21), Indah Puspitasari (18) dan Dedi Prasetiyo (16). Ketiganya tinggal di rumah semi permanen di Kampung Ngepreh, RT 5 RW 3 Kelurahan Kepoh, Sambi, Boyolali. 

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ketiganya hanya bisa mengandalkan bantuan. Baik dari tetangga, dermawan maupun dari pemerintah desa setempat. Sudah sejak puasa lalu, Teguh, Indah dan Dedi ditinggal sang ibu, Mulyati pergi. 

Mulyati yang selama ini bekerja sebagai seorang pemulung pergi bersama suami barunya. “Dia pamitnya mau pergi ke Jakarta. Dan sempat pulang mau mengajak adik saya, Indah tetapi tidak mau. Lalu pergi dan tidak pernah kembali,” kata Teguh, Senin (12/8). 

Teguh pun tidak bisa berbuat banyak untuk memenuhi kebutuhan adik-adiknya. Dia tidak mempunyai ijazah untuk mencari kerja. Ijazahnya masih tertahan di sekolah karena tidak mampu melunasi tunggakan bayaran sekolah. 

Teguh mengatakan, tunggakan biaya sekolah totalnya Rp 4,5 juta. Tetapi, dari pihak sekolah sudah memberikan dispensasi sebesar Rp 2 juta. Sehingga, kekurangannya masih Rp 2,5 juta. “Dulunya katanya ada yang mau mengambil, tapi belum jadi. Pihak sekolah sudah memberikan keringanan Rp 2 juta. Dan kekurangan saya Rp 2,5 juta. Saya juga tidak punya uang untuk membayarnya,” kata Teguh. 

Tiga-Bersaudara-Hidup-Kekurangan2
RUMAH SEDERHANA : Rumah Teguh terletak di Kampung Ngepreh, RT 5 RW 3 Kelurahan Kepoh, Sambi, Boyolali. (suaramerdekasolo.com/Ari Purnomo APL)

Karena ketiadaan ijazah itu, Teguh pun hanya bisa bekerja seadanya saja. Kadang menjadi kuli bangunan, bertani, membantu bongkar rumah atau pekerjaan lainnya. Hanya saja, pekerjaan itu tidak setiap hari didapatkannya. Hanya saat ada tetangga yang membutuhkan tenaganya saja. 

Kalau tidak ada tetangga yang menawarkan pekerjaan, Teguh pun hanya berdiam diri di rumah. Tidak ada rupiah yang bisa didapatkannya. “Ya kalau ada yang minta saja, kalau tidak ya tidak dapat uang. Tidak ada pekerjaan, saya juga tidak bisa bekerja karena ijazah saya juga masih tertahan di sekolah. Inginnya bisa bekerja di bidang penjualan seperti jurusan saya saat di SMK,” katanya. 

Beruntung, kehidupan ketiga bersaudara ini terbantu dengan adanya bantuan beras dari pihak desa. Dalam sebulan Teguh mendapatkan jatah beras 10 kilogram. Kemudian juga ada beberapa butir telur. 

“Selain itu juga ada bantuan dari orang lain, bahan makanan, dan juga uang,” ucapnya. Sementara untuk biaya sekolah adiknya, Teguh mengungkapkan ada keluarga jauh yang membiayai setiap kebutuhan adiknya.

Teguh juga sempat berusaha beternak entok, tetapi usaha tersebut tidak berhasil. Malah, satu dari 10 ekor entok yang dibelinya mati. Dia pun ingin menjual entok peliharaannya, karena sudah tidak kuat lagi untuk membeli pakannya. 

“Pakannya boros banget, saya ingin menjualnya saja. Kalau ada yang mau, sembilan ekor ini akan saya jual Rp 500 ribu,” timpal sang adik, Indah. (Ari Purnomo Apl)

Editor : Hartanto Gondes

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here