BPBD Wonogiri Waspadai Kebakaran Hutan

0
13
KEBAKARAN HUTAN : Kebakaran hutan terjadi di Desa Ngunggahan, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Senin malam (12/8). (Suaramerdekasolo.com/Dok)
WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Frekuensi bencana kebakaran hutan terus meningkat dan diwaspadai terlebih musim kemarau diprediksi mencapai puncaknya pada bulan Agustus-September ini. 
Kepala pelaksana harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri Bambang Haryanto mengatakan, puncak musim kemarau kemungkinan bisa lebih panjang lagi. Sebab menurut prediksi BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), puncaknya akan terjadi pada  Agustus-September ini. “Kemungkinan bisa lebih panjang lagi. Kondisi itu bisa berimbas semakin seringnya terjadi kebakaran hutan,” katanya.
Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Wonogiri, ada empat kejadian bencana alam selama bulan Juli lalu. Seluruhnya adalah bencana kebakaran. Perinciannya, tiga di antaranya merupakan kebakaran hutan, sedangkan satu lainnya merupakan kebakaran rumah. Kebakaran selama bulan Juli itu mengakibatkan satu rumah ludes terbakar, menghanguskan satu hektare hutan Perhutani dan dua hektare lahan milik masyarakat. Adapun kerugian yang diderita berkisar Rp 130 juta.
“Sejak awal Agustus ini paling tidak sudah ada tiga kejadian kebakaran hutan. Antara lain kebakaran empat hektare lahan tegalan milik warga di Desa Kepuhsari (Kecamatan Manyaran), 25 hektare hutan dan tegalan di Desa Kepatihan (Kecamatan Selogiri), dan 10 hektare hutan dan tegalan di Desa Ngunggahan (Kecamatan Eromoko).”
Karena itu, kata dia, masyarakat diingatkan agar ikut mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah tidak membakar sampah dan tidak membuang puntung rokok di tepi hutan. “Jangan membakar sampah, dedaunan, maupun ranting-ranting di sekitar lahan-lahan tegalan,” pintanya.
Kebakaran hutan tidak hanya berdampak pada kerusakan vegetasi, namun juga menimbulkan rekahan tanah.  Kebakaran hutan juga mematikan organisme tanah sehingga kehilangan unsur hara dan menurunkan tingkat kesuburan tanah. Selain itu, satwa dan sumber air bisa mati. (Khalid Yogi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here